Keledai Terperosok di Lubang Yang Sama

Kok bisa? Apa bunyi pepatah itu bohong, atau kita yang songong? Terperosok di lubang yang sama itu tidak lucu, tapi boleh diguyu.

Diakui atau tidak, hal itu adalah potret buram hidup kita sendiri. Sering kali kita mengulang-ulang kesalahan yang sama. Kita berkilah dengan 1001 alasan, atau dengan mudah menyalahkan orang lain.

Kebiasaan mengulang kesalahan, karena kita terlalu nyaman untuk memaafkan & membenarkan diri sendiri. “Kita manusia lemah yang tak luput dari kesalahan.”

Menyadari & akui kelemahan maupun kekurangan sendiri semestinya menjadi motivasi kita untuk perbaiki diri agar hidup kita bertumbuh menuju ke arah yang benar & semakin lebih baik.

Kenyataannya, hidup jujur & benar itu tidak mudah.

Coba amati perilaku orang-orang yang iri, sakit hati, atau yang hobi nyinyiran. Bahkan tidak berasa malu untuk menjadi pahlawan kesiangan. Bergaya membela yang kecil & lemah, tapi menjatuhkan yang lain. Hembuskan kebohongan terus menerus agar menjadi kebenaran, lalu mendemo ramai-ramai untuk menjatuhkan yang lain.

Jangan bilang untuk hidup semakin lebih baik itu susah, ketika kita berani bersikap jujur & benar. Jangan berkecil hati jika kita lalu dihujat, dicemooh, atau bahkan difitnah! Kejujuran & kebenaran itu tak bisa dicemari oleh hal-hal yang jelek atau negatif. Juga tidak kehilangan nilainya.

Ketimbang nyinyiran dan nyacat pekerjaan orang lain dalam menanggulangi pandemi Korona, lebih baik bersatu padu & bekerja sama untuk ikut berperan serta, lebih peduli, berempati, & berbagi untuk sesama.

Terpelosok di lubang yang sama? Jangan menghina, ah! Mosok kita kalah ama keledai. (MR)

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang