Kenapa Orang Suka Nyeleweng?

Seide.id – Seorang gadis (saya asumsikan begitu), mengajukan pertanyaan yang sepintas terlihat lugu… tetapi ternyata memiliki dasar yang cukup kuat, yaitu : ingin memahami sikon ‘medan perangnya’ agar bisa memenangkan ‘ujian’ itu (jika pernikahan bisa kita anggap sebagai salah satu ujian hidup).

Jadi begini.
Pertama-tama, ini yang saya pahami : semua relationship (friendship, ‘work-ship’, ‘gaul-ship’, ‘travelbuddy-ship’, romantic-ship’ termasuk ‘nikah-ship’) bersifat transaksional .

Bohong lah kalau ada yang bilang ‘Saya tulus, nggak ngarepin apa-apa dari relasi ini’.

Selama itu orang masih bilang ‘Gue nggak cocok jalan sama si A. Nggak ada chemistry…’
Atau mengatakan ‘Ya saya nggak maulah memelihara sahabat yang klepto…’
Atau menyatakan ‘Ceweku matre. Aku putusin aja…’
Maka, tidak ada istilah ‘saya terima apa adanya’ dan ‘saya tulus’

Semua relationship itu, transaksional!
Anda dinikahi oleh suami, karena Anda memenuhi kebutuhannya. Entah kebutuhan egonya untuk memiliki istri cantik, pinter masak, sukses dan bisa dibanggakan… atau cantik, nurutan, patuh disimpan di rumah dan seterusnya, dan sebagainya. Mungkin juga memenuhi kebutuhan psikologisnya, kebutuhan libidonya dll.

Anda pun bersedia dilamar suami, karena dia memenuhi syarat Anda. Apa pun itu.

Intinya, kalau supply dan demand cocok, maka akan terjadi : ‘transaksi’ senilai sekian-sekian dibayar tunai.
Iya kan?

Jadi, pernikahan yang pakai bumbu cinta pun, bersifat transaksional. Begitu suami Anda nyeleweng… sekali dimaafkan, dua kali dimaklumi, eh pas diulangi ketiga kali, Anda buat jadi geger. Kenapa..?
Karena ‘harganya’ sudah tidak cocok bagi Anda. Pengorbanannya terlalu besar kata Anda. Ini adalah keputusan logis. Sangat nalar. Tapi juga semakin mengukuhkan kenyataan bahwa : semua relationship itu transaksional.

Begitu term and condition tidak sesuai kesepakatan dan harapan, ya bubar…!

Kalau toh tidak bubar, alias masih dipertahankan, tapi sudah tidak ada kebahagiaan di sana. Cuma ada rasa wajib saja. Kenapa bahagia sudah memudar? Ya karena term and condition sudah nyempal dari harapan. Tidak bisa bahagia lagilah. Suami tidur di kamar depan. Istri tidur di kamar anak-anak. Komunikasi seperlunya, cuma seputar urusan biaya bulanan saja.

Rumah tangga tuh, yang kayak gitu???
Kayak kerjasama membangun perusahaan… cuma panggilan ‘profesional’ saja. Sekedar tidak bangkrut.


Nah, sekarang, mari kita fokus ke kasus Virgoun dan Inara. Ingat ya, kita ini orang luar. Jadi kita tidak bakalan tahu seperti apa dinamika rumah tangga mereka. Kita hanya bisa menebak-nebak. Dan saya memakai numerologi untuk membantu menebak :

Inara itu seksi. Dia punya seks appeal yang besar dan hot juga di ranjang. Virgoun yang berselera seksual tinggi, mendapat ‘transaksi’ yang masoook pak ekooo, ketika bersama Inara. Cucok meong. Kamu suka saya senang. Pas. Deal yok kita. Oke bang. Yuk.

Komitmen dibentuk. Resepsi digelar.

Kehidupan terus berjalan. Anak lahir.
Tapi manusia bisa bertumbuh ke lain arah. Saya tidak buka tarot ya. Malas. Ini masih liburan.

Jadi mari kita main asumsi saja : Virgoun masih bertenaga tinggi dan menggebu. Sementara istrinya sudah menjadi ibu. Hilang binal dan liarnya. Dia melembut. Ngemong. Belakangan, entah karena apa (browsing sendiri lah, saya belum mendalami kasus ini) Inara memakai hijab. Lalu semakin syari sampai bercadar. Menurut asumsi saya, umumnya, perempuan yang sudah semakin mendekatkan diri pada Allah (bedakan dengan orang munafik yang cuma ganti kostum surgawi tapi orangnya masih ngiblis ya…) itu semakin kalem, semakin anteng, dan semakin tenang. Tidak liar, tidak hot, apalagi sampai mendesah, mengaum dan mengerang… Virgoun kehilangan ‘komponen’ alias aspek yang dulu membuatnya mau bertransaksi… Bisa jadi, ‘komponen’ itulah yang jadi andalan Inara di mata Virgoun.

Siapa tahu Virgoun tidak mencari istri yang membawa kedamaian dan kedekatan dengan Allah… Siapa tahu yang Virgoun butuhkan di usia 37 ini adalah ‘nyangkul’ di tanah basah dan merah… dan menantang. Bukan yang halus, lembut, mengalah…

So.. what do you expect from Virgoun..?


Nah, bahasan yang di atas itu, semuanya adalah omong kosong. Saya tidak sungguh tahu kebenarannya bagaimana. Tapi, alur berpikirnya sudah saya sediakan di atas itu.

Alur berpikir apa?

Ya alur berpikir untuk bisa kita pakai memusatkan fokus pada urusan kita sendiri … pada battle field kita sendiri :

Pertama,
Renungkan dan gali kembali, dulu itu pasangan mau sama Anda … itu karena aspek apa saja dari Anda…?? Cari. Lalu sadari : itulah bargain Anda. Kekuatan tawar Anda.

Kedua,
Setelah menikah, apakah Anda berubah? Yang dulu dia cari pada Anda, apakah sudah hilang..? Misalnya : waktu pacaran, Anda imut dan serba tak berdaya. Pas sudah jadi istri, jadi ratu macan ?

Pahami ini, lalu renungkan : apa konsekuensinya bagi pernikahan, ketika Anda bertahan galak, judes, dan ngeyelan. (Ini contoh saja ya)

Ketiga,
Setelah menikah, cek juga, apakah kebutuhan pasangan Anda berubah? Dulu dia minta Anda tidak bekerja, supaya dia bisa menjadi pahlawan tunggal alias pencari nafkah satu-satunya. Apakah sekarang, setelah menjalani praktek hidup yang sesungguhnya, dia kepayahan… namun gengsi mengatakan ‘Sayang, bantu aku mencukupi kebutuhan rumah tangga kita dong…’

Keempat,
Cek juga apakah dia berubah? Kenapa berubahnya? Apa yang bisa Anda lakukan untuk mengatasi itu?

Kelima,
Ini seharusnya dilakukan sebelum menikah : cek dan berikan waktu cukup selama pacaran, apakah dia memang orang yang commited? Apakah dia adalah orang yang mau menyelesaikan masalah ?
Atau memang punya kecenderungan lari dari masalah…? Berantem dikit, ghosting… Kesel sedikit, hang out sama kawan lawan jenis, alasannya ‘refreshing doang, nggak ngapa-ngapain kok!’ Atau punya kecenderungan tidak membahas masalah sampai selesai, memendam perasaan, berlagak ‘everything’s okay’ padahal tidak okay sama sekali… lalu pelan-pelan menjadi dingin dan apatis… lama-lama menjadi kasar dan ngeselin…?

Jadi intinya :
Jangan pernah bertanya secara umum : kenapa orang suka menyeleweng.

Pahami saja, bahwa semua relationship itu transaksional. Nah, pelajari : apa yang mampu membuat orang tetap mau ‘bertransaksi’ dalam relasi ini dengan Anda … Lalu peliharalah daya tawar Anda itu.

Kalau kedua pihak sama-sama berprestasi, maka tidak ada alasan untuk menyeleweng.

Kalau salah satu diantara kedua pihak ada yang wan-prestasi, maka ada saja alasan untuk menyeleweng.

Kalau kedua pihak tidak ada masalah apa pun, semuanya berprestasi dalam artian sama-sama menjaga dan memelihara pernikahan ini… tetapi Andalah yang menyeleweng karena ketemu orang yang lebih asik… macam ketemu butik yang lebih murah tapi barangnya bagus… lalu Anda tergoda untuk pindah toko…. Njuk piye..?

Itulah misteri kehidupan. Bisa saja terjadi pada Anda kan..? Pernikahan Anda baik-baik saja, tapi suami Anda melipir ke warung lain…

Coba pelajari sendiri. Itulah medan tempur Anda.
Fokus di situ. Tugas Anda banyak.
Tidak usah melototin rumah tangga orang…

Siapa bilang menikah itu adalah jalan keluar?
Menikah itu adalah jalan masuk.
Masuk ke medan laga.

Selamat berjuang…!

(Nana Padmosaputro)

Ikuti tulisan menarik Nana Padmosaputro : Parenting Bagi Anaknya Mertua? ~ Tepatkah?

Avatar photo

About Nana Padmosaputro

Penulis, Professional Life Coach, Konsultan Tarot, Co.Founder L.I.K.E Indonesia, Penyiar Radio RPK, 96,3 FM.