Kepedulian Dengan Lingkungan Sekitar

Jujur, sejujur-jujurnya, ternyata saya belum berbuat banyak. Selama ini saya dibius mimpi dan hidup mengawang-awang, sehingga melupakan orang-orang di lingkungan sekitar saya.

Jujur, bahkan sejujur-jujurnya, ketika saya membaca artikel yang digagas Basuki Tjahaja Purnama dengan program “Mencari Pemimpin yang Bersih, Transparan, dan Profesional” itu, tiba-tiba saya jadi malu hati.

Saya malu, semalu-malunya pada diri sendiri. Bahkan saya merasa kehilangan muka. Perasaan saya luluh lantak. Hidup saya seperti dijungkir balikkan dengan realita. Kosong dan tidak berarti.

Ternyata selama ini saya tidak berperilaku jujur pada keluarga. Saya disibuki oleh diri sendiri demi mengejar status dan pengakuan kosong.

Bagi saya, yang utama dan penting adalah memenuhi semua kebutuhan keluarga. Selebihnya untuk hidup saya dan demi status: ben diarani.

Saya hobi pasang status di medsos. Saat makan di resto, ketemu relasi bisnis, ngobrol bareng artis atau pejabat. Bahkan saat ke toilet juga saya upload dengan gaya kekonyolan atau kegilaan khas saya. Apalagi, jika saya dapat tugas jalan-jalan ke luar negeri, dijamin penuh komentar heboh.

Beruntung, ya, beruntung sekali, bahwa keluarga saya tidak pernah protes. Bisa jadi, karena mereka memperoleh rasa bangga dan hormat seperti yang saya rasakan. Mereka juga senang tampil glamour.

Perubahan itu mulai menyentak kesadaran, ketika saya disodori berita memuakkan sepanjang hari selama sebulan terakhir ini. Mata saya seperti dicelekkan. Dan nurani saya dijungkir-balikkan. Bagaimana jika hal itu terjadi pada keluarga saya?

Anak-anak jadi korban, aib itu tidak bisa dicuci, keluarga besar kita terkena imbasnya, dan hukuman masyarakat seumur hidup… itu sungguh sangat mengerikan!

Bersyukur, saya sungguh bersyukur kepada Allah, karena peristiwa itu bagai cambuk yang menghunjam nurani saya yang terdalam. Bayangan yang sangat mengerikan itu memburu saya entah ke mana. Saya jadi gelisah, tidak tentram, dan sangat tersiksa.

Beruntung, sekali lagi saya sungguh beruntung dan mengucap syukur pada Allah. Gagasan BTP membuat saya makin tersentak dan sadar diri. Ternyata selama ini saya belum berbuat banyak, terutama pada keluarga dan lingkungan di sekitar saya.

Jujur, sekali lagi saya akui sejujur-jujurnya. Ternyata kehormatan dan pengakuan di luaran itu dipengaruhi oleh karena saya sombong dan egoistis. Padahal hati saya kosong melompong dan hambar.

Merenungkan gagasan BTP membuat diri saya merasa jadi teramat kecil dan tiada arti. Saya harus berani ke luar dari ego sendiri. Untuk berbenah, perbaiki diri, berubah, dan makin baik lagi.

Saya lalu membuat rencana sederhana, tahap demi tahap, untuk diwujudnyatakan dalam hidup keseharian.

Prioritas utama dan terpenting adalah jika selama ini waktu saya habis di luaran untuk hal-hal yang mubazir, kini saya alihkan untuk kumpul bersama keluarga. Saya akan mengurangi aktivitas saya di luaran demi kebahagiaan keluarga.

Saya juga mau belajar kembali untuk hidup prihatin, karena harta ini hanya titipan. Untuk lebih peduli, berempati, berbelarasa, dan berbagi pada sesama, khususnya masyarakat sekitar.

Saya juga ingat waktunya pulang kepada Allah yang telah anugerahi semua nikmat ini. Saya harus bertanggung jawab atas hidup ini.

Dan kini, saatnya ajang pembuktian diri, saya akan melewati bara api kesombongan itu. Saya juga harus siap dicela, dihujat, dan dikuyo-kuyo, karena perubahan gaya hidup saya.

Ya, Allah… dampingi dan sertai saya agar saya kuat, tabah, dan mampu menangi perjuangan hidup ini menuju ke arah yang benar. Untuk hidup baik, dan makin lebih baik lagi.

Niat ingsun!
(Mas Redjo)

Ketika Semua Serba Salah, Kita Mencari yang Benar

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang