Kerupuk Melarat Tak Butuh Minyak Goreng

Tak harus selalu menggunakan minyak goreng untuk mematangkan makanan. Ternyata kita bisa merebusnya, memanggangnya, atau menggorengnya dengan pasir.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

GONJANG-ganjing kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng, yang bikin masyarakat Indonesia antre berdesakan (mirip situasi pra-1965) untuk mendapatkan produk murah yang dicurah Pemerintah, dan sempat bikin Menteri Perdagangan mengaku tak sanggup menangani kisruh yang konon sengaja diciptakan mafia, langsung mengingatkan saya pada Kerupuk Melarat khas Cirebon

Ya, bila Anda berkendaraan roda dua atau roda empat, menuju Kota Cirebon – Jawa Barat dari arah Plered dan Tengahtani, akan tampak kios-kios penjual oleh-oleh makanan daerah setempat, yang bagian muka toko atau warung umumnya dihiasi oleh kantong-kantong plastik bening berisi kerupuk warna-warni: merah, putih, kuning…! Itulah produk kerupuk yang populer dengan embel-embel kata ‘melarat’

Dalam Kitab Besar Bahasa Indonesia, ‘melarat’ antara lain diartikan sebagai miskin dan sengsara. Kaitannya dengan Kerupuk Melarat? Konon karena produk camilan yang sudah ada sejak zaman penjajahan Belanda di tahun 1920-an itu, bukan cuma karena biasa dikonsumsi oleh kalangan rakyat jelata, melainkan juga karena proses produksinya yang dipandang sebagai sebagai amat melarat.

Berbeda dengan umumnya kerupuk, yang mekar gurih kriyuk-kriyuk setelah dipanasi wajan berisi minyak goreng, Kerupuk Melarat sejak baheula sama sekali tidak pernah kenal minyak goreng. Jika saat ini para pedagang gorengan berteriak, protes, karena mahalnya minyak goreng, para pengusaha Kerupuk Melarat adem ayem saja. Mereka tetap menggoreng produk kerupuknya, tanpa minyak goreng.

Produk kearifan lokal. Enak, murah meriah. Foto Heryus Saputro Samhudi

Indonesia punya banyak kearifan tradisional, antara lain memasak dan mematangkan irisan-irisan bahan kerupuk hingga mekar dan renyah dengan cara dijapos, yakni digoreng dengan menggunakan pasir panas. Pasir? Kersik atau butir batuan halus yang campur-baur dengan tanah? Wah, kotor dong itu kerupuk saat diangkat dari wajan atau wadan penggoreng? Ssst…! Sabaaaar…!

Yang digunakan untuk menjapos bulanlah pasir sembarangan, melainkan pasir pegunungan yang sudah melalui proses penyaringan dari batu-batuan. Pasir halus lantas dicuci bersih hingga terbebas dari tanah liat yang menempel, kemudian dijemur hingga menghasilkan pasir yang bersih dan kering. Barulah pasir layak digunakan sebagai pengganti minyak goreng.

Karena digoreng menggunakan pasir maka disebut Kerupuk Melarat. Satu penyebabnya adalah adalah penjajahan Belanda, menyebabkan banyak masyarakat tak sanggup memiliki minyak goreng. Syukurlah ada kearifan tradisi lisan, “Tak harus selalu menggunakan minyak goreng untuk mematangkan makanan”. Kita bisa merebusnya, memanggangnya, atau ya itu tadi… menggorengnya dengan pasir.

Betapapun dianggap sekadar camilan kaum melarat, kaum terbuang, tapi kini Kerupuk Melarat tak cuma dibeli kalangan rendahan, lho? Coba saja datang ke Cirebon. Mobil-mobil mewah singgah di kedai camilan bebas kolesterol itu. Bahkan bagi yang kangen, kini tak harus susah payah ke Cirebon. ‘Klik’ saja toko-toko on-line terkenal Indonesia. Kerupuk Melarat siap diantar ojek-food ke rumah Anda. ***

19/03/2022 PK 20:10 WIB

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.