Komunikasi Dokter-Pasien

Seide id – Kasus pasien tidak puas terhadap dokter lebih disebabkan oleh tidak terbangunnya komunikasi dokter-pasien. Terjalinnya komunikasi ini menentukan kepuasan pasien. Tak cukup hanya sembuh, terlebih pasien butuh diajak bicara selain didengar.

Kasus malapraktik acap muncul lantaran dokter dan atau rumah sakit tidak atau kurang komunikatif terhadap pasien. Karena komunikasi tidak terbangun, kemungkinan muncul salah sangka, salah persepsi. Dari situ galibnya berawal keluhan, atau gugatan pasien.

“Dokter yang sudi bicara dan sedia mendengar”

Dokter yang baik sudi cukup berbicara selain bisa tekun mendengar ungkapan pasien. Dengan begitu komunikasi dokter-pasien terbangun. Hanya bila komunikasi dokter-pasien dibangun kesalahpahaman pasien ihwal penyakitnya tak perlu ada. Begitu juga dengan pihak rumah sakit.

Adanya kesenjangan kompetensi pasien dengan dokter, bisa saja muncul salah duga. Misal, mendengar tetangga dilakukan pemeriksaan USG, sedang dirinya tidak, mengira dokter pilih kasih. Padahal penyakit berbeda, USG belum tentu diperlukan. Untuk memahami itu, pasien perlu diajak berbicara.

Kasus alergi sehabis disuntik bisa disangka pasien dokternya melakukan malapraktik kalau sebelum menyuntik dokter tidak berdiskusi terlebih dulu bahwa setiap pasien punya kemungkinan mengalami itu. Termasuk berbicara bahwa tidak untuk setiap penyakit memerlukan suntikan.

Kasus reaksi alergi hebat Stevens-Johnson yang bisa merenggut nyawa tak harus sampai masuk pengadilan kalau pasien diberi pemahaman bahwa kejadian medik semacam itu acap tak terduga-duga, dan itu sebuah musibah. Banyak obat bisa bikin serangan alergi hebat.

“Kasus Prita” dulu, dengan sebuah rumah sakit, kalau betul seperti diberitakan, muncul hanya karena pasien tidak cukup memperoleh penjelasan dari dokternya ihwal apa yang sedang berlangsung dengan penyakitnya. Kalau saja sejak awal pasien memahami, termasuk perkiraan kejadian terburuk, hasil laboratorium, hal-ihwal obat, dan tindakan yang hendak dokter lakukan, salah sangka pasien sehingga memunculkan gugatan pasien tak perlu ada. Kasus Dr Ayu di Manado konon bukankah juga lantaran kurang cukup terbangunnya komunikasi yang menjadi hak setiap pasien menerimanya.

“Malapraktik dan misconduct”

Tidak setiap ketidakpuasan pasien dalam berobat tergolong malapraktik. Dikategorikan malapraktik kalau terjadi kelalaian dokter. Dokter yang seturut medik seharusnya tahu melakukan apa secara bagaimana, tapi yang dilakukan kealpaan, atau tidak melakukan tindakan medik yang seharusnya dilakukan sehingga merugikan pasien, itulah kasus malapraktik.

Selama dokter sudah melakukan sesuai dengan aturan baku (standard medik) meskipun hasilnya tidak sebagaimana diharapkan, bukanlah kasus malapraktik. Yang tidak selalu persis sama malapraktik terjadi pula di rumah sakit.

Bahwa transaksi dokter dengan pasien tergolong transaksi terapeutik. Artinya tidak jaminan pasti sembuh, dan tidak jaminan pula pasien pasti tidak meninggal. Kalau dokter secara profesional sudah berupaya sampai optimal seturut standard medik namun tidak menyembuhkan, atau terjadi hal yang tak diinginkan, bukanlah sebuah kelalaian.

Komunikasi dokter-pasien dibangun juga untuk tujuan memberi pemahaman kepada pasien bahwa penyakit dan kesembuhan merupakan proses dengan target menyelamatkan pasien dari penyakit dan ancaman nyawa.

Selain perlakukan tidak sesuai dengan kaidah medik yang tergolong malapraktik, pasien juga bisa mengeluh kalau dokter tak bersikap ramah, dan kurang berempati dalam memeriksa. Dokter tidak menjawab kalau ditanya, sikapnya ketus, menghadapi pasien seperti nomor, atau kurang manusiawi.

Ketidakpuasan pasien berobat kepada dokter yang tak etis, atau muncul ketidaknyaman pasien karenanya bukan tergolong malapraktik, melainkan misconduct. Selain kurang etis, sikap dokter begini menjadi tidak komunikatif juga.Bobot kerja rata-rata dokter kita yang melebihi batas kesanggupan manusia, memeriksa ratusan pasien dalam sehari, memberi dampak pada kinerja dan performance profesinya.