Komunikasi Dokter-Pasien

“Perlu pembatasan pasien”

Dokter menjadi tidak ramah, tergesa-gesa memeriksa, terkesan tidak profesional, terjadi kalau pasiennya kelewat banyak. Tak cukup waktu berbicara dan menjawab yang sebetulnya hak pasien untuk perlu ketahui. Di banyak negara maju ada ketentuan pembatasan jumlah pasien dalam sehari periksa supaya profesionalisme dokter terjaga.

Kalau sehari dokter memeriksa pasien seratusan, sesantun dan sepintar apa pun dokter tak mungkin memuaskan pasien dalam berobat. Kasus malapraktik rentan muncul dalam kondisi seperti ini. Alih-alih bisa komunikatif, keletihan fisik dan mental akibat memeriksa kelewat banyak pasien, menurunkan kecermatan dokter dalam memeriksa, mendiagnosis, dan menulis resep yang ujungnya bisa berisiko malapraktik juga.

Ketidakpuasan pasien terhadap dokter atau rumah sakit bisa dimengerti karena dalam berobat pasien galibnya menumpukan pada hasil, kebanyakan tak memahami bagaimana penyakitnya berproses, dan prosedur apa yang dokter telah dan akan lakukan. Di sini perlunya dokter berkomunikasi dengan pasien. Kalau pasien memahami proses penyakit dan prosedur yang dialami, andai pun hasil pengobatan tidak sebagaimana yang pasien harapkan pun, pasien bisa memaklumi. Gugatan akibat ketidakpuasan pasien tak perlu muncul.

Namun rata-rata dokter kita punya dilema yang memunculkan konflik profesi. Di satu sisi profesi mulia dokter sejatinya perlu faktor trust. Dokter perlu menjaga citranya supaya masyarakat pasien tetap trust. Namun faktanya belum semua dokter kita punya rumah kecil, mobil kecil, dan kehidupan sebagaimana layaknya kehidupan dokter kalau praktiknya tidak ngoyo.

Penghargaan pemerintah terhadap profesi dokter masih lemah, sehingga tak bisa mengandalkan gaji, atau dari praktik pribadi di awal-awal lulus dokter. Untuk membangun trust sebagai seorang dokter, perlu punya rumah, mobil, dan tampilan layaknya profesional dokter. Tanpa itu, dokter masih naik ojek ke tempat praktik, misalnya, pasien menyangsikan keprofesionalan dokter.

Penghargaan yang dokter kita terima dari gaji dan honorarium praktik belum tentu selalu cukup untuk membangun citra profesi dokter, sebagaimana sejawat dokter di mana-mana dunia. Lumrah kalau muncul konflik batin antara keinginan kejar setoran, harus merasa pantas memilih praktik di banyak tempat (kutu loncat), sampai dinihari, karena tak cukup hanya praktik di satu tempatm, sebagaimana kolega di negara maju yang cukup dari penghasilan di satu RS misalnya.

Dokter yang teguh pada idealisme profesinya yang mulia, berpraktik ikut aturan legal artis sesuai dengan sumpah dokter dan kaidah profesionalisme kedokteran, dengan kosekuensi, rumahnya masih kontrakan, hidup bersahaja, barangkali bisa kehilangan citra dokternya dimata publik.

Fakta bahwa dokter lulus cum laude namun ke tempat praktik naik bajaj, masih tinggal di rumah instansi, masyarakat belum tentu percaya karena dalam berobat pasien butuh rasa trust itu. Buat sebagian masyarakat di pedesaan dokter bersahaja (bare foot doctor) belum tentu bermasalah, dan kehadiran dokter idealis sah saja. Tidak bagi dokter di strata masyarakat intelek. Aneh jkalau dokter tampilannya tidak mencerminan seorang dokter, rapi bersih punya mobil dan rumah, layaknya Dr Kildare di TV dulu. Sososk Dr Herman Soesilo di TVRI dulu.

Fakta lain yang dihadapi dokter kita, dokter tak mungkin profesional dalam praktik seperti diajarkan waktu sekolah, alih-alih komunikatif, kalau pasien puskesmas masih seratusan, memegang beberapa rumah sakit, dan berpraktik sampai subuh. Kasus malapraktik kalau bukan misconduct rentan bermunculan dari kondisi dokter berpraktik seperti ini.***

Salam sehat,
Dr Handrawan Nadesul

Ikuti : Di Mata Medis Fakta Sembuh Belum Tentu Benar Sembuh

Arswendo Atmowiloto: Bersyukur dalam Segala Hal