Kuliner Nusantara, Botok Petai Cina

Herys Saputro - Botok Petai Cina dan Nasinya

Murah meriah, mudah diolah, Si Botok Petai Cina. Nikmati bila disantap dengan nasi putih hangat dan masih kepul-kepul. – Foto Heryus Saputro Samhudi.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

SUATU kali sebelum pandemi, seoang teman asal Eropa mampir ke rumah kami dan berkenan lunch bareng. Kebetulan di meja makan tersaji beberapa lauk-pauk murahan ala kampung, yang kesemuanya tak lepas dari jepretan perangkat ponselnya, sebelum kemudian dia nikmati piring nasinya, dengan mencoba semua lauk-pauk. Satu yang dengan antusiasme tinggi dia tanyakan adalah: Botok

Botok adalah satu dari ragam jenis lauk-lauk Nusantara, umum dibuat oleh masyarakat Jawa, khususnya Jawa Timur. Mengambil contoh Botok Petai Cina yang siang itu ikut kami hidangkan, saya ungkap kepadanya bahwa kuliner hasil pengukusan ini berbahan utama urap – isi buah kelapa muda atau setengah tua yang diparut, plus biji buah petai cina (Leuceana leucochephala).

Saya katakan padanya bahwa di Indonesia ada beberapa tumbuhan yang diimbuhi dengan kata ‘cina’, yang sama sekali tak ada kaitannya dengan orang atau bangsa Cina, bahkan pohon-pohon tersebut juga tak tumbuh di Tiongkok. Sebut misalnya kedondong cina, baru cina, pacar cina, bidara cina, dan banyak lagi yang diimbuhi kata ‘cina’ tersebab eksotika atau kekhasan dari jenis tumbuhan tersebut.

Di Indonesia, jenis tanaman perdu tropis ini dikenal dengan berbagai nama: kemlandingan atau mlanding, lamtoro atau lamtoro gung, petai selong, dan banyak lagi. Biji buah polongnya sekilas mirip petai biasa (Parkia speciose), namun dalam versi mini, berbentuk pita lurus berwarna hijau hingga kecokelatan, pipih dan tipis dengan sekat-sekat di antara bijinya.

Penampakan Petai Cina (Leuceana leucochephala) alias kemlandingan alias lamptoro atau petai selong – yang masih mentah di pohon (kiri) dipadu dengan parutan buah kelapa muda atau setengah tua . Jadilah si Botok Petai Cina yang bikin makan lahap –
foto: Heryus Saputro.

Mudah tumbuh di lahan kering, petai cina biasa ditanam sebagai penguat terasering tanah dan luruhan daunnya jadi pupuk alami bagi lahan sekitarnya. Daun dan buah mudanya biasa dimanfaatkan sebagai pakan ternak. Buah polong yang aroma dan citarasanya tak jauh beda dengan petai biasa, kerap ditambahkan pada kuliner sambal goreng, oseng-oseng, bahkan diolah jadi tempe petai cina.

Data kepustakaan menyebut petai cina mengandung nutrisi dan vitamin pemberi efek baik pada kesehatan, dapat mengeluarkan racun dari tubuh dengan cara detoksifikasi. Biji buahnya memiliki senyawa alkaloid yang bersifat menetralisir racun dalam tubuh, membuangnya lewat sekresi tubuh. Kandungan flavonoid-nya membantu menyingkirkan virus dan bakter di tubuh yang mengganggu fungsi hati, ginjal, dan pencernaan.

Sifat detoksifikasinya dapat menyehatkan hati dan mencegah masuknya penyakit hepatitis. Fungsi ini juga berpengaruh pada kesehatan ginjal dan mendukung kinerjanya secara maksimal. Petai cina memiliki efek detoksifikasi yang tak hanya mengeluarkan racun tapi juga dapat membasmi cacingan. Sifat anti bakteri dan antivirus membantu mengeluarkan cacing dalam tubuh.

Pete\ai cina tinggi protein tapi rendah lemak dan kalori, cocok untuk diet, proses penurunan berat badan. Asupan protein tinggi dapat meningkatkan metabolisme dan membantu membakar lebih banyak kalori sepanjang hari. Makanan tinggi protein mengurangi rasa lapar, membantu makan lebih sedikit kalori. Ini disebabkan oleh peningkatan fungsi hormon pengatur berat badan. Makan lebih banyak protein dapat mengurangi keinginan dan keinginan untuk ngemil larut malam.

Begitu kata buku. Bagaimana nenek-moyang kita faham ragam manfaat ilmiah itu? Itulah kearifan tradisional dari sebentuk sastra lisan. Petai cina dan urap kelapa sejak dulu jadi bahan pokok kuliner botok. Ditambah 1 kotak tahu dan 1 papan tempe ukuran 15cm dipotong bentuk dadu-dadu kecil, bumbu tumis, cabai rawit utuh, gula dan garam secukupnya.

Bumbu halus berupa 5 siung bawang merah, 5 siung bawang putih. 5 cm kunyit, 5 butir kemiri, 5 cabai merah keriting, 20-25 cabai rawit (sesuai selera), 1/2 sdt ketumbar. 2 lembar daun jeruk, garam dan gula secukupnya. Uleg atau blender bumbu, atau haluskan dengan food chopper. Siapkan tahu, tempe yang dipotong bentuk dadu, beri tambahan cabe rawit utuh, kelapa parut dan petai cina.

Boleh juga ditambah teri atau udang. Campur bumbu halus ke dalam tahu tempe dan lain-lainnya, aduk rata. Jangan lupa cicipi rasanya, sesuaikan dengan selera masing-masing. Siapkan daun pisang, bungkus semua bahan olahan, semat dengan biting atau tusuk gigi. Panaskan perangkat kukus, masukkan bungkusan olahan, kukus sekitar 30 menit hingga daun berobah warna. Nikmati dengan nasi hangat.

Namun, walau murah dan gampang mengolahnya, botok ternasuk lauk-pauk yang tak mudah didapat. Ini karena petai cina bukan sayur-mayur yang umum dijual di pasar. “Lalu dimana you bisa dapat ini?” tanyanya. Usai santap dan tubuh kami sudah kembali rilak, saya ajak dia beberapa langkah ke pinggir parit air di batas komplek, dimana tumbuh berjajar pohon petai cina yang lebat berbuah. Gratis. ***

09/09/2021 Pk 23:45

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.