Kuliner Nusantara, Nasi Uduk Betawi


Sebermula merupakan hidangan pagi tapi lantaran gurih dan sedap disantap pada siang dan malam juga.

HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Nasi Uduk merupakan menu spesial yang nyaris selalu dihidangkan pasangan Yahya Andi Saputra & Suli Setyawati, tiap kali di rentang pagi saya mampir ke rumah keluarga sejarawan dan budayawan Betawi itu. Lalu seperti pepatah Betawi “Nasi Uduk Ketan Urap, sambil duduk makan sarap”, kami pun duduk dan ngobrol ihwal banyak hal di ruang tamu sembari ‘makan sarap’.

‘Makan sarap’ juga merupakan istilah khas dalam Bahasa Betawi untuk menyebut kata, yang dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia dicatat sebagai ‘sarapan’ alias menikmati sebentuk makanan di rentang waktu pagi. Makanan tersebut memang sengaja dinikmati sebagai bagian dari ritual pagi, sebagai ‘sarap’ atau ‘bekal dasar’ energi tubuh kita sebelum beraktifitas lebih lanjut di siang harinya.

Yahya ataupun Suli tak mengolah sendiri Nasi Uduk yang dihidangkannya itu, melainkan beroleh membelinya di warung yang menjual berbagai kudapan pagi, hanya beberapa langkah di seberang depan rumahnya di Kampung Gandaria (yang terletak persis di luar batas tembok pagar tinggi di ujung tenggara Padang Golf Pondok Indah) di Kelurahan Gandaria Selatan, Cilandak, Jakarta Selatan.

Kuliner sepinggan atau one-dish-meal yang masyarakat Betawi menyebutnya sebagai Nasi Uduk, juga dikenal di berbagai wilayah budaya lainnya di kawasan Nusantara, bahkan juga dikenal oleh masyarakat Melayu di Brunei Darusalam, Malaysia, Pattani di selatan Thailand serta Singapura, dan umumnya dikenal dengan sebutan Nasi Gurih ataupun Nasi Lemak – karena berlemak santan kelapa.

Namun sebagai Nasi Uduk, saya mengenalnya sebagai bagian dari kuliner khas Betawi. Sebab. kata ‘uduk’ itu adalah istilah Betawi untuk menanak nasi dengan teknis khusus, yakni: beras dicuci bersih, lalu diaron dengan langsung memberinya bumbu, rempah dan santan kelapa, sebelum kemudian aronan atau beras aron tersebut kembali ditanak matang sebagai nasi yang siap dihidangkan dan disantap.

Mengacu pada penabalan kata ‘uduk’ yang khas tersebut, kuat dugaan saya bahwa Nasi Uduk lahir dan berkembang dari khasanah budaya kuliner Betawi, sebelum kemudian (barangkali) nyaba ke wilayah-wilayah budaya lain di sekitarnya, bahkan hingga ke kawasan Melayu di berbagai negeri jiran. Ditangkap nilai baiknya, berakultirasi dan hadir sebagai Nasi Gurih ataupun Nasi Lemak. Itu kata saya.

Di Betawi sendiri, sebagaimana juga Ketan Urap, Nasi Uduk tradisinya hadir sebagai kuliner ‘makan sarap’ di rentang waktu pagi. Namun karena rasanya yang gurih dan ngangenin, serta berkembangnya wilayah budaya Betawi sebagai kawasan megapolitan Jabodetabek, maka dari waktu ke waktu muncul warung atau resto Nasi Uduk yang berdagang dari pagi hingga larut malam dan bahkan kembali pagi.

Nasi Uduk dinikmati dengan berbagai lauk pauk kering ataupun becek alias semi basah, lauk murahan semisal bakwan dan goreng tempe, atau yang berkelas semisal goreng ati-rempela, paha dan dada-mentok ayam. Tapi pagi itu Yahya dan Suli sengaja menyajikan Nasi Uduk klasik dengan imbuhan Goreng Bawang dan Kerupuk, Oseng Tempe dan Mie, plus Semur Jengkol. Hmmm…! ***

05/05/2022 PK 07:57 WIB

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.