Layla, Mengapa Kau Campakkan Cinta yang Telah Ada

Cerpen : Jika semuanya telah ada, lalu kau berpaling mencari yang tak ada, apakah itu berarti sebuah penghianatan? Sementara kau dulu meminta untuk membina sebuah keluarga bahagia. Namun setelah semuanya berjalan, kita mengarungi rentang waktu yang tak terpikirkan dan melalui semuanya dengan penuh suka dan duka, mengapa sekarang kau memporakporandakannya? Apakah yang kau cari di balik semua yang ada? Apakah salahku hingga kau begitu menggebu untuk memutuskan segalanya tanpa melihat ke belakang? Ah, aku tetap tak mengerti, aku hanya ingin sekejap bertanya, tolong jelaskan mengapa kau berpaling padanya, apakah kelebihannya dari padaku? Tolong jelaskan.

Lalu kau menjawab, “Kebersamaan kita yang statis telah membuatku jemu. Kau pria yang baik, penyabar, dan penuh perhatian. Aku berterima kasih untuk itu. Namun itu saja tidak cukup, aku butuh lonjakan-lonjakan yang menggebu yang membuat hidup itu tidak hanya berjalan di tempat. Aku butuh pergolakan hidup yang penuh makna…”

“Dan kau bilang kau dapatkan pada laki-laki keparat itu!” potongku.

“Dia tidak keparat, akulah yang sudah membuatnya menjadi keparat. Aku jatuh cinta padanya, cinta dikurun perjalanan dua puluh lima tahun usia pernikahan kita yang tampak mulai semu.” Katamu.

“Lalu, kau akan menikah dengannya?” tanyaku.

“Tidak, dia sudah menikah, sudah memiliki dua anak dan sudah mempunyai dua cucu. Aku hanya ingin sisa usiaku ini kuberikan padanya. Sebaliknya kau sudah menikmati hampir sebagian usiaku selama aku bersamamu.”

“Apakah ini berarti kita bercerai?” tanyaku lagi.
Dia membisu. Laiylaku membisu. Wajahnya terlihat dingin dan senyap. Tak ada air mata mengambang di sana. Ia tampak beku, sedingin es. Lalu aku mengilas kembali peristiwa dua puluh lima tahun yang lalu.


Di pesta itu, pesta ulangtahun sahabatku yang kedua puluh, kulihat kau duduk menyendiri di sudut arena yang dipenuhi pendar lampu spotlight. Jemarimu mengempit sebatang rokok putih dan kau menghisapnya dengan kenikmatan yang anggun dan lembut. Aku melirikmu. Lalu mendekati sahabatku, bertanya siapakah dirimu?

“Dia Layla, teman SMPku. Dia baru saja putus cinta, setelah tunangannya jatuh cinta dengan seorang artis penyanyi yang berasal kota ini, ia dicampakkan begitu saja. Padahal, dia cantik dan cukup terkenal sebagai penyair sekaligus penulis. Dia gadis yang hebat dan pandai. Sayang sang tunangan tidak melihat mutiara yang ada di hadapannya itu.”

“Siapa mantan tunangannya?” tanyaku.

“Seorang anak dari sosok yang paling berpengaruh di provinsi ini. Dia anak gubernur.”

Aku tahu itu jawaban yang memang membuat mantan kekasih gadis bernama Layla itu, bisa berbuat sekehendak hatinya. Kekayaan yang berlimpah telah membuat ia mudah memperoleh beragam perempuan yang disukainya.

“Kau akan mendekatinya?” tanya temanku.

“Tidak, aku cukup melihat gerak-geriknya dari kejauhan saja.”

“Tampaknya kau menyukai dia. Kalau suka, dekati saja mumpung belum ada pria yang menghampiri dan mengambilnya dari tatapan matamu!” saran temanku.

Yang terjadi kemudian, sama seperti kisah klasik tentang pedekatan antara pria dan wanita. Aku tak bisa mendustai libido yang juga turut ambil bagian diproses ini. Namun tentunya itu kusamarkan dengan sikap dan gerak tubuh yang kubuat senormal mungkin. Ya, aku tak mau menatap wajah cantiknya, kubuat sikapku dangan gesture yang wajar, sehingga ia tak merasa aku adalah pria pecundang penebar cinta yang tengah mencari mangsa. Aku ingin di perkenalan pertama ada gambaran bahwa aku tak sekedar untuk mendekatinya saja. Layla sang gadis cantik itu, ingin kujadikan kekasihku, cukup itu saja dulu!

Maka seperti strategi berpacaran a la klasik yang sedikit dibumbui dengan basa-basi yang normatif, jelang pukul dua belas malam ketika pesta usai, dengan sigap aku mengambil keputusan untuk mengatarnya pulang. Eh, ternyata dia mengikuti konspirasi pribadi yang ada di benakku. Kami berjalan kaki (sengaja motor bututku kukatakan mogok), menyusuri jalanan kota yang mulai sepi. Kota tua dengan penghuninya yang juga setua kota tempatku menetap, di mana pada pukul sepuluh malam seolah menjadi pemakaman masal yang senyap dengan beragam kisah di dalam bilik mereka.

Dan kau mulai bertanya, “Mengapa kau mengantarku? Apakah ini strategimu untuk mendekatiku?”

Oh! Aku hampir mati langkah. Hm, ternyata kau tak sebodoh yang kukira. Kau tersenyum tipis mengarah ke sinis. Katamu lagi, “Jangan pakai strategi macam-macam. Kau menyukaiku kan? Kalau suka, langsug saja. Datanglah ke rumahku dan temui orangtuaku. Segera lamar aku sebelum aku berubah pikiran. Aku bosan pacaran lama-lama.”

Ya, itulah yang terjadi. Perkenalan yang singkat, tanpa cerita dari kisah cinta yang menggebu, dan tiga bulan sesudahnya, kita sudah menjadi suami isteri. Kau yang jelita menjadi isteriku dengan alur hidup yang datar tanpa gejolak, sama seperti sifatku yang selalu ingin hidup dalam ketenangan tanpa gemuruh keinginan ini dan itu. Aku menjadi seorang arsitek yang berjalan bertahap hingga mencapai karir puncakku. Dan kau tetap di jalurmu, sebagai seorang penulis sekaligus penyair yang selalu asyik dengan komunitasmu. Secara ekonomi kami stabil, artinya kami hidup di jalur yang tidak terlalu riskan menghadapi gejolak perekonomian, aku sederhana tak berambisi menginginkan yang lebih dari yang kudapatkan sekarang, kau pun begitu. Ada komitmen yang tersamar di antara aku dan kau, kami tak mau mengganggu dunia yang kami sukai sejak awal. Itu terus berlanjut hingga dua anak lahir dan sekarang berangkat dewasa. Hingga hari itu. Hari di mana kau mengatakannya tanpa ekspresi.

“Mungkin ini yang benar-benar dinamai cinta,” katamu.

“Kau mencintainya? Apa yang sudah dia berikan padamu?” tanyaku.

“Hanya perasaan kami. Secara materi dia tidak memiliki apa-apa. Tapi perasaannya padaku membuat aku tak berdaya.”

“Apakah kau menyadari apa yang kau ucapkan? Usiamu tidak muda lagi Layla, sementara lelaki itu sepuluh tahun di bawah usiamu.”

“Itu bukan alasan. Dia selalu mengatakan aku awet muda, memberiku puisi-puisi indah, memberiku bunga yang kusuka di setiap pertemuan-pertemuan kami. Kau…apakah kau pernah memberiku bunga?” Layla, menatapku tajam.

Itulah pertanyaan terabsurd yang pernah kudengar. Secara logika aku melihat isteriku telah tercerabut dari akal sehat yang selama ini ia miliki. Ia seperti bukan isteriku, ia bagai orang asing yang baru datang dari negeri antah berantah setelah mengalami cuci otak yang teramat parah. Ayo, Layla, gunakan logikamu, kau seorang penulis terkenal, seorang penyair, jangan mudah dikuasai oleh perasaanmu. Lelaki itu hanya mencari kesempatan ketika kau terhempas dari akal sehatmu. Sadarlah Layla, jangan kau campakkan cinta yang telah ada.

“Kau akan mengatakan aku bodoh dan tak lagi menggunakan akal sehatku, bukan? Han, percayalah, ini akal tersehat yang paling sehat yang kupunya. Sisa usiaku tinggal sedikit lagi, begitu juga kau, dan aku ingin bisa merasakan sedikit kebahagiaan di sisa usiaku ini!” jawabnya.

“Maksudmu?”

Tak selalu jawab yang kudapatkan menjadi suatu kepastian yang tunggal. Semuanya bisa menjadi bias. Absurditas yang paling terabsurd sekali pun hampir membuatku terperosok di jurang tanpa dasar. Tatkala mata anak-anak memandangku dengan penuh tanya, tatkala kondisi yang tak bisa kukendalikan itu menghantam bagai badai di laut selatan, Layla yang kucinta menatapku dengan lamat. Di sampingnya berdiri sosok lelaki yang membuatku hampir terhenyak dari tempatku berdiri. Segala yang ada di dirinya sungguh bagai bumi dan langit denganku. Ia gondrong dengan rambut sebahu, tua dengan keriput di pipi, ompong dengan beberapa gigi yang sudah tanggal, berpakaian lusuh, dan di pergelangan tangan kanannya menyembul tato kalajengking yang siap menyengat. Hhh…kakiku gemetar, aku bagai tak sanggup untuk berdiri. Lalu kukenang beberapa rekan sekantor yang memuja ketampananku, ah Layla, mengapa kau mencari rival yang sedemikian buruknya? Tanyaku dengan dada berdegup, degup kesombongan yang punah oleh wujud tak sempurna dari lelaki ompong kekasih isteriku. Ah, aku bagai terjerambab di kubangan kerbau sementara sang kerbau melihatku dengan seringai penuh ejekkan.

“Pa, pengemis darimana yang dibawa Mama ke rumah kita?” bisik anak tertuaku.

“Bukan, dia bukan pengemis, dia kekasih Mamamu.”

Lalu, keriuhan itu terjadi, dua anak lelaki datang dengan emosi yang yang meluap. Mereka mengusir lelaki itu dengan beragam pukulan dan tendangan yang menyakitkan. Dan Layla…isteriku masuk ke kamarnya. Menguncinya dari dalam, lalu kehebohan kembali terjadi, keesokkan harinya secarik kertas menyembul dari bawah pintu, aku mengambilnya dengan perlahan.

Ada dua dunia yang kujalani dalam kehidupan ini, di satu sisi aku adalah isteri dan ibu dari anak-anakku, di sisi yang lain aku berjalan dalam sepi, mencari sosok yang bisa menemani ruang sunyi di kehidupanku. Kalian tak pernah mengerti apa yang kurasa, maka untuk itu, kurasa tugasku tuntas sudah. Aku akan mencari jalan sunyiku yang lama menanti…selamat tinggal

Itulah jalan sunyi yang dipilihnya. Layla membisu di atas pembaringan dengan tubuh dinginnya. Di sisinya ada puluhan bungkus coklat manis yang bertebaran. Ia menghabiskan semuanya, ia memakannya tanpa peduli bahwa itu cara paling mudah dari seorang penderita diabetes untuk memusnahkan dirinya dari muka bumi ini. Kali ini aku benar-benar limbung dan kalah dalam kisah yang membuatku terus bertanya, Layla mengapa kau campakkan cinta yang telah ada?


Oleh : Fanny Jonathan Poyk

Cerpen : Elegi untuk Intan Olivia

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis