Lelaki yang Kehilangan Nyali

Tiba-tiba lelaki itu gemetaran. Ia lalu menutupi wajahnya yang pucat. Tubuhnya menggigil.

“Akang, kau kenapa?” tanya istrinya lembut sambil memegang bahunya. Lelaki itu segera menepis lengan istrinya. Ia bangun, lalu bergegas ke luar rumah tanpa mendengarkan teriakan istrinya yang kebingungan.

Lelaki itu termangu di taman. Tatapan matanya kosong.

Untuk kesekian kalinya, wanita itu terperangah melihat perubahan suaminya akhir-akhir ini.

Suaminya, Si Akang, kalau diajak ngomong sulit nyambung. Ngomongnya ngeracau tak jelas. Sesekali Akang senyum-senyum sambil menepuk-nepuk dada dengan bangga. Tapi, terkadang wajahnya seperti dikejar ketakutan, lalu mendesis terus menerus sambil meminta maaf.

Ketika ditanya, apa yang membuat Akang takut, ia menggeleng dan menutup mulutnya rapat-rapat.

Dalam kondisi normal pun, Akang tak pernah berterus terang. Jika ditanya, sering menghindar dan mengalihkan ke pembicaraan lain. Hal itu yang membuat hatinya menjadi sedih.

Selama mendampingi Akang puluhan tahun, baru sekali ini ia melihat perangai Akang berubah aneh. Jadi penakut sekali. Ia tak berani ke luar dari halaman rumah, meski dipaksa sekalipun.

Padahal, ketika muda Akang dikenal sebagai seorang pemberani dan disegani. Pergaulannya luas. Dari preman hingga orang beken. Jika merasa benar, Akang itu tak ada takutnya. Lalu, ada apa dengan Akang?

Keanehan yang lain, jika tidur Akang selalu ingin dikekepin atau bersembunyi di ketiaknya ibarat anak balita. Ketakutan entah sebab apa seakan telah menguasai dan menenggelamkan jiwanya.

Sekali dua, ia pernah pergi ke luar rumah dan pulang terlambat. Akang tak bosan berkirim WA atau telepon menanyakan kepastian jam kepulangannya.

Suara Akang cemas dan takut. Serasa tidak ingin ditinggal berlama-lama. Agar ia segera pulang.

Ia juga pernah mengajak Akang untuk pergi ke psikiater, tapi Akang malah tersinggung dan marah. Ia tidak terima, jika dibilang kejiwaannya terganggu. Apalagi dikirakan sakit jiwa alias gila.

“Bukan begitu, Akang. Eneng sedih melihat jiwa Akang tertekan oleh ketakutan hebat. Eneng bermaksud baik, mencari jalan ke luar, dan Akang ….”

“Sudahlah! Nanti juga sembuh sendiri!” tukas Akang sewot.

Selalu begitu.
Akang selalu menggampangkan masalah, bahkan meremehkannya. Padahal, jika dibiarkan berlarut-larut jiwa Akang dipastikan semakin sakit, stres, dan gila …?

Ia menjadi serem membayangkan Akang yang dikagumi dan dihormati banyak orang itu mulai terganggu sarafnya. Hal yang tidak diinginkan, bahkan harus diantisipasi agar Akang segera sehat.

Kenyataannya Akang tidak segera membaik, bahkan semakin parah. Dalam igauan tidurnya, Akang dikejar ketakutan. Melolong, menjerit, mengiba, menangis, dan meminta ampun.

“Bangun, Kang! Bangun …!” teriaknya sambil mengguncang-guncang badannya. “Nyebut, Kang! Nyebut … Istighfar!” bisiknya di telinga Akang. Lalu dipeluknya erat Akang sambil menangis.

Jiwanya seakan terbang menyusul Akang ke dalam lorong yang paling gelap. (Mas Redjo)

Avatar photo

About Mas Redjo

Penulis, Kuli Motivasi, Pelayan Semua Orang, Pebisnis, tinggal di Tangerang