Mabuk Tuhan

Oleh EFFI S HIDAYAT

Seorang teman saya, sebut sajalah namanya Tince, ngomel panjang pendek. Hanya gara-gara isi status di media sosial. Intinya, dia tidak suka tulisan yang di upload seorang kawan; padahal boleh dibilang notabene adalah sahabatnya sendiri.

Apa pasal? “Isinya Tuhan melulu.  Mengutip ayat dan menyebut-nyebut khotbah. Setiap hari menulis jurnal syukur. Ulasannya manis, legit, positif. Kayak orang yang tidak pernah punya masalah.  Seolah-olah jadi manusia yang paling suci, bah!  Bla,bla,bla…. “

Lalu, dia mengakhiri kalimatnya dengan prejudice yang hampir bikin saya tersedak.

“Dasar ‘mabuk Tuhan’!”

Saya menghela napas panjang. Keduanya adalah teman saya. Tak cuma di jagat maya, tetapi juga di dunia nyata. Seketika teringat pula komentar seorang teman lain. Dia mengatakan hal mirip bin serupa.

Menurut dia, status yang isinya renungan  adalah tulisan yang paling sulit dicerna akal. Bikin jidat berkerut-merut. “Hidup ini kok, jadinya berat amat. Nasihat-nasihat keagamaan terasa menggurui. Padahal yang dirasakan dia, ‘kan belum tentu sama dengan orang lain?”

Aha. Benarkah demikian? Bukankah sah-sah saja  seseorang menulis apa yang ingin disampaikannya. “What’s on your mind?” tanya facebook kali pertama kita membuka halaman awal di layar monitor.

Dan bukan hal kebetulan saya mengutip apa yang disampaikan Romo Romanus Heri S, Pr. dalam misa pagi harian online di Pusat Pastoral KAJ Samadi, suatu pagi.  Katanya, walau dalam kondisi ini aroma doa ada di mana-mana, menggema di mana-mana, tetapi banyak pula yang sangat sensitif dengan ungkapan doa.

Bahkan, ada yang bilang, ” Romo, akhir-akhir ini saya kok, nggak suka dengan mereka yang pamer-pamer doa. Mereka tidak tahu kondisi hati kami. Sudah males dengar omongan-omongan sok suci!”

Nah! Walaupun itu tak mengikis ketulusan, keikhlasan kita untuk meneguhkan banyak orang, nampak sebaiknya kita juga harus berhati-hati menjaga tampilan-tampilan kudus  ini .

Mengapa “tampilan”? Karena itulah yang dilihat oleh kebanyakan orang lain!  Ya, sejatinya mari kita juga menilik batin kita sendiri, apakah yang kita lakukan hanya sekadar memenuhi kebutuhan psikologis (sehingga yang tampak hanyalah “tampil” dan ” tampil” ) atau benarkah ketulusan dan keikhlasan yang menjadi utama?

Toh, banyaaak Allah-Allah lain, dewa-dewa lain – bukan di luar diri kita, tetapi justru mereka ada dan hadir di dalam diri kita sendiri. Itulah yang akhirnya tampil, “show off “….

Di akhir khotbahnya, Rm. Romanus bilang begini, “Jika baik dan tulus, ayo, lanjutkan! Tidak usah tergoyahkan. Tetapi, jika hanya untuk tampil, Yesus pun dengan tegas mengatakan, ‘ itu harus diluruskan’….”

Opss, sungguh menjadi autokritik bagi kita! Saya termenung lamaaa…. “Tact is the ability to describe others asthey see themselves“, saya pun teringat ujaran President AS ke -16, Abraham Lincoln, selaras dengan ini. Entah mengapa, mata (sekaligus : hati) saya seolah tercelikkan begitu saja.

Ya, ya. Bagaimanapun, saya tetap percaya, bukankah kita hanya bisa menabur apa yang kita punya. Apa yang sejatinya kita miliki.

: Kasih ataukah benci ?

Kalaupun kita mabuk bersama dengan DIA, saya yakin anggur yang kita reguk adalah anggur murni yang rasanya asli, manise. Bukan endrin yang mengirim kita ke neraka dan berjumpa Lucifer, si setan penggoda. Apalagi dalam situasi pandemi ini, kepada siapa lagi kita berserah dan mengadu? Doa 271,34 juta jiwa penduduk Indonesia jika dilantunkan dengan tulus bersamaan  vibrasi dan energinya tinggiiii lho, menembus langit ke tujuh.

Berkah dalem.

Avatar photo

About Effi S Hidayat

Wartawan Femina (1990-2000), Penulis, Editor Lepas, tinggal di BSD Serpong, Tangerang