Maria Ressa, Jurnalis Filipina Pemenang Nobel Perdamaian 2021

Maria Ressa Journalist Rappler

DALAM menjalani tugas jurnalistiknya,  dia telah menghadapi banyak kasus hukum, yang menurutnya bermotif politik. Pemerintah Filipina telah mempertahankan legitimasi dalam menyeret Maria Ressa ke dalam pengadilan.

Pada kasus terakhir, Ressa terancam hukuman penjara selama enam tahun jika dinyatakan bersalah.

Saat ini dia masih bebas berkat uang jaminan sebesar seratus ribu Peso. Sedemikian banyak kasus hukum yang menjerat sosok Time Person of The Year 2018 itu, berarti “Maria Ressa harus membayar lebih banyak uang jaminan ketimbang Imelda Marcos,” kelakar harian Manila, Spot, ketika dia dibebaskan pada 2020 lalu.

Orang Filipina pertama penerima Hadiah Nobel. Penobatannya di Oslo, Norwegia,  dirasakan sebagai pengakuan bagi perjuangan demi kebebasan pers.  “Dalam dua tahun, pemerintah FIlipina menerbitkan sepuluh perintah penahanan terhadap saya. Situasinya seringkali sangat sulit,” akunya Jumat lalu.

Dalam sebuah pernyataan, Rappler mengatakan “terhormat dan terkejut” bahwa kepala eksekutifnya telah diberikan hadiah Nobel Perdamaian. “Itu tidak mungkin datang pada waktu yang lebih baik, saat jurnalis dan kebenaran diserang dan dirusak,” katanya.

Penghargaan Nobel Perdamaian sebabnya diharapkan bisa menjaring perhatian global pada perjuangan kebebasan pers di FIlipina.

“Demi melanjutkan apa yang sudah kami kerjakan, Rappler setiap hari hidup di bawah ancaman penutupan, kami terperangkap pasir hisap,” kata Ressa dalam pidatonya yang disiarkan langsung saat upacara penyerahan penghargaan di Oslo, Norwegia, Jumat (08/10). – dms/dari berbagai sumber.

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.