Awal 1986.
Mas Ndo bilang, “Gun, temani saya ambil kunci kantor ke manajemen Gelora Senayan, yuk”
“Kunci kantor, Mas?”
“Ya, buat Monitor (tabloid), kita nanti ngantor di kompleks atlet Senayan”
Saya baru 22 tahun dan sudah bergabung dengan majalah Hai sejak 1984, langsung bergerak sigap. Mas Wendo mau buka majalah baru, di kantor baru, dan kami harus ambil kunci kantor.
Dari kantor Hai di Pal Merah Selatan, kami meluncur menuju Senayan menggunakan mobil Mas Ndo sebuah Daihatsu Charade G10.
Mas Ndo pegang kemudi, ia bercelana jins butut, kaos oblong dan sandal jepit, ciri khasnya, plus rambut gondrong menyentuh bahu. Nyentrik habis!
Sampai di kantor Gelora Senayan kami disambut resepsionis cewek yang menatap kami dari kaki sampai kepala dengan pandangan mata penuh selidik.
“Siang mbak, saya mau ambil kunci kantor Jalan Lomba Layar 345” kata Mas Ndo
“Iya, Pak, tadi juga sudah ditelepon. Kami telah siapkan kuncinya, tapi, katanya, yang mau ambil kunci adalah bossnya langsung, Pak Arswen…”si mbak liat catatan, “Arswendo Atmowiloto”
Si mbak menatap Mas Ndo.
“Lha, iya, ini saya sendiri” yang ditatap menaikkan nada bicara.
Tatapan si mbak terlihat tidak percaya. Ia bimbang. Mas Ndo nampak kesal sementara saya -diam-diam- menahan tawa.
Tak mau debat lebih lama, Mas Ndo mengeluarkan dompet dan menarik KTP.
Si mbak memeriksa,
“Aduh, maaf, Pak,….saya pikir orang suruhan!”
Sampai mobil saya tergelak, “hadooooh, boss saya gak dianggap orang!”
Mas Ndo ngedumel “ndlogoook!” (sialan!)
Kami berdua tertawa keras.
Beberapa minggu kemudian kantor mulai buka. Ada beberapa kawan baru yang gabung.
Uniknya, kami memiliki office boy tak kalah nyentrik. Berambut keriting, berkulit hitam khas orang dari Indonesia Timur. Namanya Markus.
Mungkin Markus dibawa ke Ibukota langsung dari kampungnya, jadi, ia -barangkali-belum diajari tata aturan bekerja di kantor bahwa atasan itu harus dihormati.
Atau, dalam pandangan Markus semua penghuni kantor dianggap tak ubahnya kawan sendiri?
Maka, inilah yang terjadi: suatu pagi Mas Ndo masuk kantor, sampai di ruangannya belum ada teh hangat kesukaannya, maka ia pun menegur Markus, “Kus, teh saya mana? Kok, belum ada?”
Yang ditegur malah sewot, “aduh, Bapa Wendo, tidak liatkah Bapa kalau saya sedang sibuk menyapu ruang tengah? Bapa bikin sendiri dulu saja…”
Kami, kru redaksi yang ada di ruang tengah sudah deg-degan, takut Mas Ndo marah. Ternyata tidak. Ia malah menghibur diri.
“bajinduuul! Ini orang nemu dari mana??”
Pagi itu kantor pecah oleh suara tawa kami, termasuk tawa Markus yang -bisa jadi- ia sendiri juga bingung mengapa kami semua tertawa!
Suatu hari, Mas Ndo mengeluh, di rumah kalau mencari nomor telepon seseorang sangat sulit (maklum, belum ada hp canggih), “mau telepon pak anu atau bu itu susah mencarinya. Lha, buku telepon di rumah pas abjad B dan P banyak bukan main!
Nama Fuad Hassan (menteri pendidikan saat itu) bukannya masuk abjad F, tapi P, Pak Fuad, Pak Valens, Pak Jakob. Atau Bu Trie, Bu Endang”
Kami yang mendengar tertawa,
“Kalian, ni, saya pusing malah pada ketawa!”
Ketika Mas Ndo dapat BMW baru saya berkesempatan nganyari berdua, merasakan nyamannya naik mobil mahal. Sampai, tibalah saatnya isi bensin dan ‘tragedi’ kunci kantor pun terjadi lagi.
Mestinya Mas Ndo nggak perlu keluar mobil, tukang isi bensin jadi liat penampilannya: jins belel, kaos oblong tiga kancing dengan cap cabe merah, rambut gondrong plus sandal jepit!
Benar saja, ketika selesai bayar, petugas pom menawarkan ‘kebaikan’, “pakai bon, Pak? Mau ditulis lebih banyak?” (mark-up)
Mas Ndo kesel, “hush! Ini mobil saya!”
Dari dalam mobil saya ketawa ngakak.
“Lu yang setir deh, Gun, kayaknya pantesan lu”
“Wah, kalau saya yang setir, Mas Ndo mesti ngumpet di dalam bagasi. Cewek gak mau melirik, lhaa ada yang gondrong!”
“Sialan lu!” ia mengumpat.
Mas Ndo itu dahsyat. Dari tangannya lahir anak-anak muda hebat. Pemuda-pemudi yang tadinya ada di persimpangan jalan, bingung menatap masa depan, suram, tak tahu harus kemana dan berbuat apa, dia sulap menjadi pribadi-pribadi mandiri bermartabat.
Mereka menjadi dahsyat dan punya profesi bagus: penulis, fotografer, disainer grafis, ilustrator, ahli percetakan. Banyak.
Termasuk saya yang kini bisa menulis dan sedikit tahu soal fotografi. Secara formil saya hanya sampai SMA, karena memang tidak mau kuliah.
Nah, bayangkan, kalau masing-masing dari mereka kemudian memiliki anak buah, berkeluarga, punya anak dan si anak punya anak lagi….berapa banyak orang yang telah ia entaskan?
Para Taruna ini Mas Ndo didik dari nol (besar), tanpa amarah dan bentakan tapi dengan ajaran yang diseling guyon.
Mengapa Mas Ndo mau melakukan itu?
Jawabannya barangkali ada di masa lalu Mas Ndo, semasa remaja.
Hidupnya sulit. Sekolah bisa lulus tapi ijazah ditahan pihak sekolah karena uang sekolah yang nunggak berbulan-bulan.
Pakaian baru adalah sebuah kemewahan, hingga “ada masanya saya menunggui pakaian yang dijemur agar kering lalu dipakai lagi karena memang tidak ada pengganti” katanya.
Mas Ndo kerja serabutan. Jadi penjaga toko, jemur bihun di pabrik sampai jadi pemungut bola di lapangan tenis! Profesi terakhir tadi terpaksa ia tinggalkan karena Mas Ndo mengalah pada seorang veteran yang tangannya buntung yang sangat membutuhkan pekerjaan!
Ia sempat kuliah di IKIP Solo, namun tak sampai satu semester harus keluar, apalagi kalau bukan soal biaya. Toh, ia tetap bisa menghibur diri, “yang penting dapat jaket almamater! Nah, lo…kagak punya!” ia meledek saya. Dan kami pun tertawa bersama.
Tapi, semangat menulisnya sungguh menggebu, meski tak punya mesin tulis ia tak kurang akal: numpang menulis di kantor kelurahan!
“Kadang pitanya sudah kering, saya harus jilat dengan ludah sendiri supaya basah dan hurufnya keliatan lagi” tutur Mas Ndo suatu ketika.
Dengan sabar Mas Ndo mengajari banyak anak-anak muda. Seberapapun ‘bengkok’nya ia ladeni, seperti Markus yang suatu hari datang kesiangan ke kantor,
“Maaf Bapa Wendo, saya terlambat,..”
“Kenapa Markus?”
“Saya hampir dikeroyok sopir, kenek dan penumpang Kopaja sekaligus”
Mas Ndo kaget “lho, kok?”
“Dari blok M saya naik Kopaja, ketiduran, eh, pas mau turun kelewatan satu halte. Bus berhenti. Saya lalu teriak-teriak minta sopir mengundurkan bus lagi! Semua marah!”
Mas Ndo heran. Ternyata masih ada yang lebih ‘gokil’.
“Ya orang marah, Kus! Lu gila. Itu jalan protokol, jalan Sudirman, bikin macet!”
Kami yang hadir ngakak.
Mas Ndo,
tak ada habis kisah tentangmu.
Terima kasih banyak, ya.
(Mengenang 2 tahun wafatnya Arswendo Atmowiloto, 19 Juli 2019-19 Juli 2021)