Masjid Raya Ganting Masjid Tertua di Minangkabau
Penulis : Debbi Safinaz
Masjid Raya Ganting atau Gantiang adalah Masjid peninggalan abad ke-19 yang terletak di Kampung Ganting No. 1, Ganting Patak Gadang, Kecamatan pasang Timur, Kota Padang, Sumatera Barat, Indonesia.
Pada tahun 1790 di bangun Masjid yang terbuat dari kayu dan atap Rumbia. Berlokasi di tepi sungai Batang Arau, namun dirobohkan Belanda untuk pembuatan jalan ke pelabuhan Teluk Bayur.
Sebagai gantinya pada tahun 1805, didirikan Masjid Raya Ganting atas prakarsa tokoh masyarakat
Angku Gapuak ( saudagar ), Angku Y
Syeh Haji Uma ( tokoh masyarakat ) dan Angku Syeh Kepalo Koto (ulama ).
Tercatat sebagai Masjid tertua di Padang, cikal bakal Masjid ini berawal dari sebuah surau di seberang Padang, daerah perwakilan awal dalam sejarah kota.
Arsitekturnya merepresentasikan akulturasi etnis-etnis yang ada di Padang dengan pengaruh arsitektur Neoklasik abad ke-19 dari Eropa yang dominan pada bagian fasad.
Masjid ini didirikan di atas tanah wakaf dari masyarakat suku Chaniago dan biaya diperoleh dari saudagar yang berasal dari Padang, Sibolga, Medan, Aceh dan ulama Minangkabau. Juga didukung
Korp Zeni Belanda.
Selain itu bantuan dan kerjasama dengan Belanda dan etnis china dipimpin Kapten Lou Chianko ( kapitan
China ke-10) ikut terlibat mengerjakan atap segi delapan yang merupakan ciri khas bangunan vihara. Selain kubah, tukang etnis China juga menggarap mimbar, mihrab dan tempat Bilal.
Pada tahun 1810 Masjid rampung. Lantainya terbuat dari batu kali bersusun di plester tanah lantai diganti dengan semen dari Jerman.
Pada tahun 1900 dilaksanakam pergantian lantai dengan ubin segi enam berwarna putih berasal dari Belanda.
Pada awal Masjid di dibangun, lantai terbuat dari batu namun pada tahun 1900 lantai diganti dengan keramik yang selesai tahun 1910. Pada tahun yang sama Belanda membuat jalan baru melewati tanah wakaf Masjid Raya Gantiang sebagai kompensasinya Belanda membantu
bangunan depan Masjid yang mirip banteng.
Pada tahun 1960 dilakukan pemasangan keramik pada dinding ruang utama dan 25 tiang yang ada di dalamnya.
Pada tahun 1967 dua menara selesai dibangun di sebelah kanan dan kiri Masjid Pasca gempa 2009, bangunan Masjid ini mengalami kerusakan berat kemudian direnovasi menggunakan sumbangan dari Bank Mandiri, renovasi meliputi langit-langit dinding tembok, sebagai lantai depan dan tiang.
Renovasi tiang terdiri dari tiang lama di cor kembali, sehingga ukurannya lebih besar dari tiang yang semula (asli ) dan semua tiang mengalani renoivasi.
Hanya sebagian lantai yang mengalami perubahan. Bagian depan sekitar tiang untuk lantai yang rusak diganti dengan yang baru tapi dengan motif yang sama seperti aslinya. Lantai ini dipesan dari Jogjakarta, yang bagian serambi tidak mengalami banyak renoivasi.
Kapasitas Masjid bisa menampung sekitar 2000 orang. Dengan panjang 42 meter dan lebar 39 meter.
Lokasinya dulu berada di Pusat Kota, Masjid Rata Ganting sempat menjadi Masjid yang terbesar di Minangkabau pada awal ke-20.
Masjid ini telah berkontribusi dalam pengembangan Dakwah Islam, menjadi tempat perdebatan wacana ke Islaman di Minangkabau, hingga berperan dalam masa genting saat Sumatera Barat diduduki tentara Jepang. Pamornya meredup pasca pergolakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia
( PRRI ) disusul kehadiran Masjid baru sekitar Masjid Nurul Iman dan Masjid Taqwa Muhammadyah.
Masjid ini telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh pemerintah dan menjadi daya tarik wisata di Kota Padang
( Sumber : Kemendikbud.go
id )






