Penulis: Jlitheng
Mengapa Thomas, sang murid, sampai seperti ini? Dengan suara yang dingin seperti es, dia berkata, “Sebelum aku melihat lubang paku di tangan-Nya dan meletakkan tanganku ke dalamnya, aku tidak akan percaya.”
Ada nada kesal, kecewa, dan putus asa mewarnai dirinya. Dia melihat, walau dari jauh, Gurunya telah mati, karena disiksa, dibunuh, dengan cara disalibkan. Ada rasa hampa yang luar biasa dalam hidupnya. Thomas sangat tergoncang.
Kondisi batin seperti batin Thomas sangat mungkin terjadi dan dialami oleh salah satu kenalan atau sahabat kita.
Ketika oleh beratnya beban ada yang terpikir untuk tidak melanjutkan hidupnya, patut diduga ada kehampaan luar biasa yang terjadi dalam dirinya. Hampa itu kosong, tak ada makna, tak ada lagi damai yang tersisa.
Kehampaan yang terdalam terjadi jika seseorang tak lagi merasa Tuhan hadir dan berpihak kepadanya.
Jika berjumpa (langsung atau virtual) dengan seseorang yang tampak sedemikian putus asanya… sikap terbaik yang dapat kita nyatakan adalah mendorong orang itu untuk tidak keluar dari komunitas, seperti yang terjadi pada diri Thomas.
Damai yang dimiliki oleh para murid Yesus membuat teduh gelora hati Thomas. Dia jadi tenang dan mendapat damai yang sama ketika Yesus yang telah bangkit itu hadir kembali dan mengatakan, “Salam, damai sertamu.”
Maka, jika ada anggota keluarga, atau warga lingkungan, atau umat paroki yang karena masalahnya memisahkan diri, lingkaran kasih harus lebih kuat.
Point penting: Kekuatan cinta komunitas para murid mengembalikan iman Thomas yang sempat terguncang.
Maka, jagalah keluarga, lingkungan, dan gereja menjadi lambung Kristus masa kini. Agar ketika ada anggota keluarga, lingkungan, atau gereja yang terguncang imannya seperti Thomas, akan disembuhkan. Sebab dalam keluarga dan lingkungan ada damai Tuhan sebagai pagar terkuat relasi antar kita.
Salam sehat dan tetap berbagi cahaya sebagai upaya saling melindungi.





