Harry Tjahjono
Rocky Gerung, Fadli Zon, Amien Rais , dan belakangan Refly Harun, adalah beberapa nama besar di antara para pemuka golongan oposisi terhadap pemerintahan Presiden Joko Widodo. Kritik maupun pendapat mereka selalu disampaikan dengan lugas, keras, blak-blakan bahkan vulgar dan seringkali sekadar reaksi spontan atas suatu masalah–semacam “hate speech” berdasar data dan fakta yang logis dan masuk akal sehingga tampak seolah-olah benar atau sekurang-kurangnya mengandung kebenaran.
Ciri lainnya: apapun masalah yang mereka kritik, ujungnya selalu tertuju pada Presiden Jokowi. Apapun yang sedang gaduh di publik akan dibikin semakin membadai dan kesimpulannya tak lain akibat begini-begitunya Presiden Jokowi. Panggung, tonil atau ring penampilan mereka, selain stasiun TV partisan, utamanya adalah medsos–dengan Presiden Jokowi sebagai lawan utama yang getol ditantang tarung. Hasilnya, apa boleh buat, lebih sering serupa tontonan petinju pasar malam yang gencar menyeru Mike Tyson atau Tyson Fury untuk naik ring–dan ironisnya tidak pernah sekalipun berbalas. Tapi, yang pasti kegaduhan sudah bisa disemakinkan membadai. Oleh karena itu, bisa jadi mereka memang tergolong kaum penyeru badai.
Lalu bagaimana seide.id menyikapi realita menarik dan massif tersebut? Karena bukan media partisan dan apalagi buzzer, maka sikap seide.id adalah sesuai salah satu kredonya, yakni: “menjernihkan pikiran”. Bagaimana cara dan bentuk konkretnya, tentu saya tidak berwenang membukakan hal yang termasuk rahasia dapur redaksi seide.id. Dan jangan lupa juga, tulisan ini pada dasarnya kan press-release dalam format sederhana saja ***
