Mencari Calon Penyelengara Negara Insinyur Kepribadian Profesor

Seide. id – Dulu mantan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi mewacanakan: “Mahasiswa cum laude jadi PNS tanpa tes.” (Kompas.com 28/10/15). Elok saja Pak Menteri proaktif hendak mencari lulusan terbaik demi meraih sumber daya manusia unggul.

Pertanyaan kita, seperti banyak retorika muncul sekarang ini, mana lebih elok apakah memilih calon penyelenggara negara yang pintar tapi tidak baik, atau memilih yang kurang pintar tapi baik? Idealnya tentu pilih yang pintar sekaligus baik.
Namun ketika kehidupan beretika sudah jungkir balik sekarang ini, semakin sukar mencari orang baik. Tidak semua orang pintar tentu baik. Unggul akademis saja ternyata belum cukup. Pejabat yang setahu kita tergolong pintar tidak sedikit, kalau bukan semua, kini berurusan hukum.

Yang sepakat memilih calon penyelenggara negara kurang pintar, asalkan baik, ketimbang pintar tapi tidak baik, punya argumentasi logik. Kalau kurang pintar masih bisa diungkit jadi lebih pintar lewat kursus, pelatihan, dan pengayaan. Tapi kalau sudah telanjur menjadi tidak baik, kendati pintar, tidak mudah mengubahnya menjadi orang baik? Orang-orang bertanya, seberapa berdayanya gerakan revolusi mental yang dicanangkan sekarang ini mengingat untuk mengubah karakter tidak baik lebih pelik daripada membentuknya.

Hidup dalam kekacauan etis
anak sekolah di Amerika dalam tiga dasawarsa belakangan ini mengalami krisis moral. Mereka tidak bisa membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Berbohong, menyontek, berbuat serong, dilumrahkan. Bukan hanya tata nilai sudah bergeser, terlebih sudah terjadi kekacauan etis. Benar kata orang belum tentu benar kata saya. Kebenaran menjadi soal selera. Anak didik menempuh hidup tanpa prinsip kedisiplinan.

J.Scott seorang psikater dan penulis buku, menulis bahwa manusia unggul itu diciptakan oleh berdisiplin hidup. Manusia berdisiplin menurut J Scott itu apabila sudah tertanam empat pilar. Keempat pilar itu seyogianya tersusun pada pribasi setiap individu, yakni, (1) menjunjung tinggi kebenaran; (2) menerima tanggung jawab;(3) menunda kepuasan; dan (4) hidup seimbang dunia akhirat.

Praksis kebenaran sebagai sebuah nilai idealnya sudah ditanamkan sejak anak masuk sekolah perdana. Itu maka memilih sekolah perdana menentukan apakah pada diri anak bakal tercipta pilar kehidupan beretikanya. Yang pernah saya tahu, sekolah Kanisius di Jakarta, misalnya, meminta setiap calon murid menuliskan sendiri ikrar di atas kertas bermeterai janji tidak menyontek. Bersepakat bila menyontek berarti dikeluarkan dari sekolah. Kepribadian menyontek dimaknai sebagai belum menjunjung tinggi kebenaran.

Pilar kedua, menerima tanggung jawab, membentuk kepribadian yang menyadari bahwa siapa pun bisa berbuat kekeliruan. Hanya apabila ditanamkan kesadaran bahwa kalau niat awalnya benar, kekeliruan harus diterima sebagai sebuah tanggung jawab. Tanpa keinsyafan itu, anak menjadi pribadi yang cenderung cari kambing hitam.

Pilar lainnya, menunda kepuasan. Anak yang tumbuh kepribadian berdisiplin kelihatan dari cara ia makan. Lauk yang tidak enak dimakan dulu, yang enak dimakan belakangan. Mengerjakan PR dulu, baru bermain. Pilar ini membangun pribadi yang rela bersakit-sakit dahulu, bersenang-senang kemudian. Sukses hidup seseorang juga ditunjang oleh kualitas spirit dan motivasi hidup yang seperti itu. Tengok saja orang sukses di dunia, punya sikap hidup menunda kepuasan.

Pilar terakhir menjadi manusia berdisiplin, hidup seimbang dunia akhirat. Mengapa nilai ini perlu juga ditanamkan? Oleh karena orang sukses memetik bukan hanya dari urusan duniawi belaka.

Kalau sukses hidup berarti hidup yang menjadi bermakna (ketika kiwari semakin banyak orang merasa hidupnya tidak bermakna meaningless life), maka diniscayai kalau itu tidak mungkin ditempuh hanya dengan mengumpulkan uang dan harta semata. Uang, harta, kekuasaan ternyata tidak bisa membeli kebahagiaan. Maka hanya apabila seseorang sudah menjadi “manusia selesai” yang tulus mengatakan hiduplah secukupnya, enough is enough, sak madyo, maka sumbangsihnya dalam hidup hanya bagi kemaslahatan orang banyak, bukan kerakusan.

Sekolah dan pendidikan dinilai mumpuni bila berhasil membentuk calon manusia sukses, dan bukan sebagai mesin pencetak uang saja. Mestinya tercipta sosok insan kamil. Tak cukup pintar saja. Dari kualitas mendidik seperti itu bangsa berharap mendapatkan insan yang baik, selain pintar, dan cerdas.

Target kebahagiaan hidup
Belakangan ini muncul paradigma baru. Jangan didik anak jadi orang kaya melainkan didik mereka jadi orang bahagia. Gagasan ini lahir dari kenyataan studi ihwal kebahagiaan, bahwa sejak tahun 50-an hingga kini, tingkat kebahagiaan manusia tidak bertambah secara linier seiring dengan kemajuan ekonomi dan teknologi. Bukti bahwa bukan uang, bukan devisa negara, yang menambah kebahagian.

Membaca indeks kebahagiaan di dunia, ternyata bukan negara adikuasa kaya raya yang menduduki peringkat tertinggi, melainkan negara kecil yang sederhana. Sebut saja Denmark. Bukti lain bahwa kekayaan, keadikuasaan, hanya membuat bangsa lelah mengejar kepuasan yang tak kunjung selesai, karena kepuasaan tak punya batas tertinggi.

Bangsa Amerika tak kunjung merasa puas karena dikejar oleh target untuk menjadi nomor satu terus. Orang yang selalu tak merasa puas dalam hidupnya, bukan orang bahagia. Begitu pula yang terjadi dengan masyarakat Singapura.
Negara tergolong paling bahagia ternyata bukan Amerika, Tiongkok, atau Singapura, melainkan Denmark. Kuncinya karena bangsa Denmark lekas bersyukur, dan ekspektasinya dalam hidup tidak muluk-muluk. Artinya mereka sudah menjadi “manusia selesai”, yang hari tuanya tidak harus dipusingkan oleh akibat kerakusan duniawinya. Tragis dan miris kalau di usia tua yang mestinya sejuk, masih dipanggil KPK.

Kita bisa belajar dari negara Bhutan yang tidak bertubi-tubi mengejar devisa, tidak terbirit-birit mengungkit product domestic brutto (PDB), melainkan bagaimana bisa meraih product happiness brutto (PHB) bagi segenap bangsanya. Tercatat pula bangsa yang fokus hidupnya mengejar kebahagiaan dan bukan devisa, tidak mengalami fenomena berjuluk “hedonic treadmill”. Ini muncul dari studi, bahwa apabila hidup terus tak berhenti mengejar kerakusan duniawi, semakin sukar meraih kebahagiaan. Mengapa? Oleh karena semakin berlimpah uang dikumpulkan, semakin rendah nilai uang untuk membuat pemiliknya berbahagia.

Tes untuk membaca orang baik
Orang pintar saja banyak. Tapi orang pintar juga baik, tidak banyak. Kita lebih memerlukan orang baik, syukur-syukur juga pintar, daripada pintar saja tapi tidak baik. Terlebih bagi calon penyelenggara negara. Buat sebagai apa pun kita butuh orang baik.

Pintar saja ternyata tidak cukup. Untuk mengetahui apakah seseorang punya kepribadian yang indah, kita bisa melakukan tes psikologi MMPI (Minessotta Multiphasic Personality Inventory). Dengan tes ini selain terbaca kepribadian, bisa disingkirkan potensi individu bermasalah. Bila ia seorang psikopat, misalnya. Itu sebab cum laude saja belum tentu sebagai sumber daya manusia unggul kalau ternyata bukan orang baik.

Kalau saja setiap calon penyelenggara negara terbilang orang baik, berkompetensi di bidangnya, memilih pekerjaan karena passion, dia insan yang sedang melangkah menjadi “manusia selesai”. Merekalah yang berjuluk “insinyur kepribadian”, yang apabila menjabat sebagai apa pun mestinya tidak neko-neko. Filosofi hidupnya sudah bulat menjadi “profesor kebahagiaan”, yang menjadikan kedua karakternya itu sebagai bekal meraih “Oscar Kehidupan”. Bagi sosok insan seelok inilah, untuk menuju ke situ, mengumpulkan sebanyak-banyak uang dan kerakusan duniawi bukanlah cara yang dipilih untuk menempuhnya.***

Salam sehat,
Dr Handrawan Nadesul

Mengapa Kita Perlu Menulis?

handrawan nadesul

About Dr Handrawan Nadesul