MENGATASI WRITER’S BLOCK

MENULIS ITU ASYIK (15)

Oleh BELINDA GUNAWAN

My muse is on holiday,” begitu keluh teman-temanku di Fanstory dulu bila mereka mengalami writer’s block. Risiko menjadi anggota situs atau grup penulisan memang, menulis setiap hari. Oleh sebab itu kehadiran muse sangat dibutuhkan.

Muse adalah orang, benda, kenangan, peristiwa, apa pun, yang memberi inspirasi pada kita untuk menulis. Bukan hanya menulis fiksi tapi juga mengunggah sesuatu di  FB, IG, portal,  walaupun sesungguhnya tidak ada kewajiban untuk itu.

Muse-ku adalah pengalamanku, baik di pekerjaanku maupun kehidupan pribadiku. Sebagai mantan jurnalis pengalamanku lumayan banyak, dan itu muncul dan muncul lagi dalam ingatan, memberi inpirasi untuk menjalin kisah di sekitarnya ataupun sekadar menjadikan suatu tempat, latar belakang tulisanku.

Orang yang paling dekat denganku juga menjadi muse bagiku. Misalnya, anakku, dari dulu hingga sekarang. Salah satu contohnya adalah peristiwa, ketika aku jadi chaperon (merangkap reporter) yang mengantar peserta kursus bahasa Inggris di BBC London.

Suatu malam di common room, tempat semua siswa berkumpul sebelum tidur, panitia membagikan surat-surat yang masuk. Aku menerima surat dari dia (waktu itu 9 tahun) yang amplopnya memang kupersiapkan beralamatkan asramaku dan sudah kutempeli perangko. Surat itu bertuliskan, antara lain, “Ma, setiap pagi aku minum susu dan air mata jatuh di susu.”  Nah lo, sekarang air mataku yang mendesak-desak akan jatuh di pipi! Sebelum itu terjadi di hadapan siswa tua-muda dari segala bangsa,  aku berlari ke luar, menyusuri koridor, dan masuk ke kamar asramaku di lantai dua. Aku melampiaskan rindu sambil mengatakan pada diriku, “Inilah konsekuensi pilihanmu sebagai ibu bekerja.”

Muse lain adalah seorang penyair di Fanstory yang setiap hari menulis puisi yang teramat indah dan sesuai rima, ritme dan ketukan puisi yang dipilihnya, disertai ilustrasi yang selalu indah. Aku sering bertanya padanya, “Gambar dulu, atau puisi dulu?” Ia menjawab, “Bisa gambar dulu, bisa sebaliknya. Kali ini puisi dulu, baru kucari gambar yang cocok.” Muse-ku ini bisa mengambil inspirasi dari hal-hal  besar maupun sangat kecil, yang bisa saja lolos dari perhatian orang lain. Misalnya, setetes embun yang sedetik lagi jatuh dari ujung daun. Darinya aku mendapat banyak masukan yang membesarkan hati, bahwa: aku bisa!

Lalu tiba suatu waktu, aku mentok menulis. Boro-boro menikmati kebahagiaan ketika mengetukkan kata-kata dan kalimat-kalimatku, kepalaku pun kosong, tidak ada ide sama sekali. Dalam kebosananku menatap layar komputer, iseng aku browsing dan bertanya pada seorang guru online, bagaimana caranya mengatasi keadaan itu. Tentu aku tidak mengatakan “mentok” (mana mengerti dia?) melainkan menggunakan istilah yang umum di kalangan tulis-menulis, yaitu  “writer’s block”. Alih-alih memberi jawaban, dia menulis, “Jangan sekali-kali kamu menggunakan kata writer’s block. Berpikir ke situ pun, jangan. Nanti menjadi self fulfilling prophecy.” Maksudnya, nanti ramalan menjadi kenyataan.

Maka tertatih-tatih aku pun menulis lagi. Bukan di Fanstory karena melibatkan dollar (maya atau nyata), tapi di Facebook. Karena tidak membayar aku pun menulis sekehendak hatiku. Mau ada yang baca dan suka, silakan, mau dicuekin pun tidak mengapa. Dan terbukti, bendungan itu bobol, hambatan menulis itu hilang.

Maka izinkan aku menambah sedikit saran pakar itu: Kalau mentok tetaplah menulis setiap hari, lima menit saja cukup. Silakan menulis tentang mimpimu semalam, sarapanmu, perasaanmu, apa yang kaulihat begitu membuka mata (misalnya langit-langit kamarmu yang sudah belang-belang dan membentuk gambar). Ya, apa saja, lima menit saja. Tak perlu kauunggah di medsos mana pun kalau rasanya “receh” atau terlalu personal , setel saja only me. Kelak siapa tahu tulisan sekilas itu bisa berkembang menjadi sesuatu. Kalaupun tidak, kau sudah berlatih. Dan kata orang, practice makes perfect.

Tahu-tahu…tibalah saatnya Miss atau Mr. Muse pulang dari pesiarnya!

Avatar photo

About Belinda Gunawan

Editor & Penulis Dwibahasa. Karya terbaru : buku anak dwibahasa Sahabat Selamanya.