Menimbang Penghargaan untuk Ibu Negara

Iriana Jokowi Busana Bali

Rasanya hampir semua orang sepakat, seorang presiden bisa berhasil menjalankan tugas kenegaraannya berkat dukungan istrinya. Pepatah mengatakan, di balik seorang suami (baca: presiden) yang sukses, ada istri (baca: Ibu Negara) berjuang mati-matian di belakanganya.

Oleh SYAH SABUR

IBU NEGARA Iriana Joko Widodo baru saja menerima Bintang Republik Indonesia Adipradana dari pemerintah. Bersamaan dengan penghargaan untuk Iriana, Presiden Jokowi juga memberikan tanda kehormatan dan gelar kehormatan untuk 18 tokoh dari berbagai bidang, termasuk Istri Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin, Wurry Estu Handayani. Keputusan pemberian gelar tersebut disepakati dalam rapat terbatas bersama Dewan Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan (DGTK) pada Kamis (3/8/2023).

Seusai menerima penghargaan tersebut, Iriana menyampaikan rasa syukur. “Terima kasih telah memberi (penghargaan). Sebelumnya saya juga nggak paham, karena Pak Jokowi ya nggak cerita,” kata Iriana seusai upacara pemberian tanda penghargaan di Istama Negara, Jakarta, Senin (14/8/2023).

Presiden Jokowi sendiri menyatakan tidak ikut campur soal penghargaan untuk istrinya. Menurut Ketua DGTK Mahfud MD, pemberian gelar ini mengacu pada ketentuan perundang-undangan. “Semua istri presiden yang terdahulu dan istri wakil presiden terdahulu mendapat bintang yang sama sesuai ketentuan perundangan,” kata Mahfud.

Ada sejumlah syarat umum untuk mereka yang menerima penghargaan seperti Adi Pradana. Misalnya, WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah NKRI; memiliki integritas moral dan keteladanan; berjasa terhadap bangsa dan negara; berkelakuan baik, dan tidak pernah dipidana penjara. Ada pula syarat khusus, seperti berjasa luar biasa di berbagai bidang yang bermanfaat bagi keutuhan, kelangsungan, dan kejayaan bangsa/negara; pengabdian dan pengorbanannya di berbagai bidang untuk bangsa/negara; dan/atau darmabakti serta jasanya diakui secara luas di tingkat nasional maupun internasional.

Seorang istri presiden, pastilah memenuhi semua syarat tersebut, kecuali jika sang presiden melakukan pelanggaran serius. Jokowi sendiri, seperti dinyatakan sejumlah survei, jelas bisa dianggap sebagai presiden yang berhasil menjalankan tugasnya. Berbagai survei menyatakan, kepuasan masyarakat terhadap kinerja Jokowi mencapai sekitar 80%.

Presiden didukung Istri

Rasanya hampir semua orang sepakat, seorang presiden bisa berhasil menjalankan tugas kenegaraannya berkat dukungan istrinya. Pepatah mengatakan, di balik seorang suami (baca: presiden) yang sukses, ada istri (baca: Ibu Negara) berjuang mati-matian di belakanganya.

Dengan demikian, rasanya seorang Ibu Negara tidak memerlukan penghargaan apapun dari pemerintah. Sama halnya bahwa presiden pun tidak memerlukan pengahargaan apapun dari pemerintah. Sebab, seluruh hidupnya sudah dipersembahkan untuk kepentingan negara, kecuali jika sang presiden dianggap sebaliknya.

Penghargaan yang diberikan kepada Ibu Negara di saat sang suami masih menjawab sebagai presiden juga bisa disalahtafsirkan. Sebab, bukan mustahil bila sebagian rakyat menanggapinya dengan “nyinyir”. Mereka bisa saja menganggap bahwa penghargaan seperti itu diberikan dewan penghargaan sebagai upaya “menjilat” presiden.

Karena itu, mungkin peraturan soal penghargaan untuk Ibu Negara dan Presiden itu harus diubah. Di masa depan, kalaupun Ibu negara dan Presiden mendapat penghargaan, hal itu lebih pas jika dianugerahkan oleh pemenrintahan berikutnya. Hal itu akan lebih genuine dan menghindari berbagai tuduhan yang tidak perlu.

Tapi, mungkin ada baiknya menyerahkan penilaian seperti itukepada rakyat. Biarlah rakyat yang menilai bahwa seorang presiden dan istrinya layak mendapat penghargaan tertinggi.

Itulah yang terjadi pada Presiden Soekarno. Walaupun pemerintah sempat menyebutnya berada di balik G30S/PKI, namun sebagian besar rakyat punya penilaian lain. Akhirnya, muncul berbagai patung Bung Karno di berbagai daerah.

Selain itu, hingga sekarang, makamnya selalu ramai didatangi peziarah dari berbagai pelosok negeri. Tak hanya itu, namanya diabdaikan sebagai nama jalan di sejumlah kota besar. Puncaknya, akhirnya pemerintah memakai nama Soekarno-Hatta sebagai bandara terbesar di negara ini.

Nasib Soeharto

Nasib Presiden Soeharto pun tak jauh beda. Setelah dilengserkan dari jabatan presiden, penghormatan sebagian rakyat tidak juga berkurang sampai sekarang.

Demikian pula nasib Presiden BJ Habibie. MPR memang menolak pertanggungjawaban Habibie. Tapi hingga saat ini tak terhitung masyarakat yang memujanya dengan berbagai cara.

Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid pun memiliki nasib yang hampir sama. Walaupun MPR menjungkalkan Gus Dur namun tak urung banyak sekali rakyat yang memujinya dan memenuhi makamnya di saat tertentu.

Sepertinya orang besar seperti presiden akan diakui rakyatnya walaupun tidak mendapat penghargaan dari negara. Sebaliknya bagi istri preisiden, mengantarkan suami tercinta untuk mengabdi kepada Tanah Air tercinta adalah penghargaan sejati.***

Avatar photo

About Syah Sabur

Penulis, Editor, Penulis Terbaik Halaman 1 Suara Pembaruan (1997), Penulis Terbaik Lomba Kritik Film Jakart media Syndication (1995), Penulis berbagai Buku dan Biografi