Jadi, Teruslah Menulis

Seide.id- Ketika cerpen saya kembali dimuat di sebuah koran, kenangan hampir 45 tahun yang lampau tentang saya dan Bapak saya Gerson Poyk kala mengirim/membawa naskah-naskah cerpen kami ke koran-koran dan majalah dengan naik turun bis kota, kembali terbentang di ingatan.

Mesin tik merek Royal setiap malam berbunyi, tip ex untuk mengedit typo dan kata atau kalimat yang salah selalu ada di samping mesin ketik. Tak ada pikiran untuk apa semua ini. Di satu sisi dari dulu hingga kini, honor yang kami terima tidak berbeda secara signifikan. Tapi kami tetap melakukannya, mengetik dan mengetik, menciptakan karya sastra yang kepuasannya terletak di diri penulisnya masing-masing, itu tidak membuat kami jemu dan lelah untuk terus menulis.

Apa yang saya dan Bapak sy GP ingin capai dari semua itu? Adakah ‘goal’ kelak akan menjadi terkenal lalu kaya raya dari dunia literasi terlintas di benak? Tidak juga, semuanya relatif, ada yang memiliki nasib baik dengan link yang juga baik, ada yang tak kenal lelah berkutat di dunia sastra dengan hanya mengandalkan ‘kebaikan dari tangan Tuhan’ sahaja. Semua harapan terletak di diri sosok yang menjalani dunia sastra itu sendiri.

Meski semuanya terkadang absurd, masuk lebih dalam dan berkubang di dalamnya bukan sekedar mencari nama besar dan uang tanpa seri. Secara kasat mata itu jarang terjadi. Para penyair marginal, penulis yang terus berkutat di bidangnya, terkadang memberikan tanya bagi mereka yang awam dengan dunia itu, “berani ya mereka terus berada di dunia yang dilihat dari sisi material tidak menjanjikan apa-apa, tiap saat baca puisi, menulis cerpen atau artikel tapi jarang dimuat. Lalu jika dimuat pun, honor yang diterima boro-boro untuk makan sebulan, sehari atau dua itu sudah menggembirakan. Lalu bagaimana mereka bisa memberi makan keluarga dan diri mereka sendiri? Ngirim naskah fiksi pun harus bersaing pulak dengan ribuan penulis fiksi dan media mainstream yang ada banyak yang gulung tikar. So, bagaimana mereka menjalani hidup? Apakah karya yang dihasilkan dapat memberikan imbalan yang setimpal?”
Tanya itu bagai kisah menunggu Godot.

Tanya itu pun sampai sekarang juga bersarang di kerangka benak saya. Dan pada akhirnya, saya hanya bisa berkata untuk diri sendiri, “menulislah terus Fanny hingga nafas terhenti dari raga. Itu sudah takdirmu!

Yup buddy, let’s writing

(Fanny Jonathan Poyk)

Jurus- Jurus Cepat Menulis Cerpen

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis