Foto : Gerhard/Pixabay
Setiap hari, Sang Pencipta mengalirkan limpahan berkat bagi manusia, melalui sesama dan alam semesta ini. Udara untuk nafas, bumi tanah dengan segala isinya, matahari bulan bintang, serta aneka keindahan alam. Peran sesama yang menopang kehidupan pribadi; keluarga, tetangga, sahabat, rekan kerja dan banyak pihak lain untuk keperluan hidup kita.
Namun, karena sering dialami, banyak hal luar biasa menjadi biasa-biasa saja, bahkan dianggap remeh atau diabaikan. Ketika alam menwgur, lalu dianggap bencana. Renungan tentang pesan ajaran alam itu, saya tuliskan dalam sajak:
Purnama di atas Pondok
Mengantar senja pulang
kutemani gulita di pondok bambu
Penat asa bulan Desember
kucatat dalam memoar hidup
di akhir lembaran tahun 2022
Kuarahkan pandangan jauh
menyusur kaki bukit
dan tepi bentangan samudera
Kunantikan datangnya purnama Desember
kuingin ceritakan kegalauan
tentang bencana yang melanda
tentang pernak-pernik politik
tentang bom dan teror
tentang bencana kemanusiaan
Tak kusangka terjadi
Purnama hadir di atas pondok
menyapa perlahan penuh pesona
Melerai galau menjawab tanyaku
“Sejatinya tak ada bencana
yang ada itu bersih bumi
yang terjadi jagat ditata
semesta mengobati luka alam
Karena bencana hakikat insani
manusia terus merusak dirinya”
Lalu kutanya pada purnama
“Bukankah manusia perlu berkreasi
Mengolah alam lingkungan
agar bisa penuhi kebutuhan
agar bisa lanjutkan kehidupan
agar meraih bahagia sejahtera
dengan akal dan iptek-nya”
Dan Purnama menjawab
“Manusia diberikan pikiran
hasilkan iptek yang canggih
Tapi juga punya nurani
dengan aneka makna nilai
Manusia punya sanubari jiwa
dengan iman dan kebijaksanaan
Tentang arti harkat martabatnya
Tentang hakekat jasmani rohaninya
Tentang tanggungjawab terhadap alam
Tentang warisan bagi generasi
Tentang tugasnya dari Pencipta
Masihkah ada terimakasihnya
Adakah sujud syukurnya”
Lalu,
Purnama tinggalkan pondokku
berjalan perlahan ke arah barat
tebarkan pesona pada dunia
kepada yang peduli makna
kepada yang dambakan harmoni
kepada yang butuhkan selaras
Akhiri Desember dengan sadar
“Waktu terus berjalan
Setiap pribadi dipeluk waktu
dalam energi misteri semesta
untuk membuat diri berguna
selama masih diberi nafas”



