Menyambangi Rumah Bung Karno di Bengkulu

Rumah Bung Karno di Bengkulu

Di Bengkulu, Bung Karno menemulan sebuah rumah bekas milik pengusaha Tionghoa terletak (kini) di Jln Soekarno-Hatta No.8, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Di rumah pilihan itu Bung Karno tinggal hingga tahun 1942 bersama istrinya, Inggit Ganarsih, serta anak angkatnya, Ratna Djuami dan Hanafi.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Seide.id 16/8/2023 – Ramainya pemberitaan berkait rumah Mas Ruh (Guruh Sukarnoputra) di Kebayoran Baru – Jakarta Selatan, belakangan ini mengingatkan saya pada Rumah Bung Karno di Bengkulu. Saya pernah tiga kali mengunjunginya, yakni tahun 1974, 2000, dan 2009. Apa kabar rumah yang jadi tempat amproknya Bung Karno dan Ibu Fatmawati itu, dan kini jadi musium itu, ya?

“Sementara ditutup untuk kunjungan umum, Bang…! Karena sedang dilakukan perbaikan. Rehab on process, belum selesai,” jawab Rois Leonard Arios S.Sos, M.Si., Pamong Budaya Ahli Madya sekaligus Peneliti pada Balai Pelestarian Kebudayaan / BPK (d/h Badan Pelestari Nilai Budaya / BPNB) Wilayah 7 Bengkulu yang mencakup wilayah kerja Provinsi Bengkulu dan Provinsi Lampung.

Saya mengangguk seraya ingat Bung Karno atau Ir Soekarno, seorang dari sekian banyak pahlawan bangsa yang berjasa dalam meraih kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus. 78 tahun silam. Bung Karno, yang sejak muda kerap diasingkan (di-intenir) Pemerintah Kolonial Belanda ke berbagai tempat, dan terakhir ke Bengkulu, tinggal di rumah yang kini populer sebagai Rumah Bung Karno.

Karena buku Di Bawah Berdera Revolusi, sejak kecil saya tahu bahwa pengasingan Bung Karno ke Bengkulu merupakan rangkaian pembuangan-pembuangan sebelumnya setelah sempat dijebloskan ke Penjara Sukamiskin, Bandung. Bung Karno ditangkap pada 29 Desember 1929 bersama dua tokoh pergerakan lainnya, yakni Maskoen Soepriadinata dan Gatot Mangkoepradja

Keluar dari penjara Sukamiskin, Bung Karno tak benar-benar bebas karena penjajah Belanda memutuskan langsung mengasingkan Bung Karno ke tempat lain yang jauh dan sulit diakses para nasionalis pro-Kemerdekaan yang selalu dikobarkan Bung Karno, yakni ke Ende di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. Lepas dari situ, Bung Karno langsung dipindah-asingkan lagi ke Bengkulu pada tahun 1938.

Di Bengkulu, Bung Karno menemulan sebuah rumah bekas milik pengusaha Tionghoa terletak (kini) di Jln Soekarno-Hatta No.8, Kelurahan Anggut Atas, Kecamatan Gading Cempaka, Kota Bengkulu. Di rumah pilihan itu Bung Karno tinggal hingga tahun 1942 bersama istrinya, Inggit Ganarsih, serta anak angkatnya, Ratna Djuami dan Hanafi.

Di Bengkulu pula Bung Karno kenal Fatmawati yang lantas jadi istrinya di tahun 1943.

Sebagaimana di pengasingan-pengasingan lainnya, di Bengkulu pun Bung Karno yang banyak membaca, tetap gigih menyuarakan kemerdekan Indonesia. Memotivasi masyarakat setempat, merenovasi masjid (dan ikut berdakwah di masjid) di Kelurahan Bajak, bahkan Bung Karno tak bosan berjuang lewat jalan seni dengan membuat grup pertunjukan tonil atau sandiwara bernama Monte Carlo.

Sebagaimana pernah dilakukan Bung Karno semasa dalam pengasingan di Ende, NTT, pendirian kelompok pertunjukan drama-musik di Bengkulu itu uga dilakukan untuk menarik minat orang muda dan menanamkan nilai-nilai nasionlisme lewat musik dan drama, selain berinteraksi dan membangun komunikasi serta berdiskusi dengan para tokoh agama Islam di Bengkulu.

Rumah Pengasingan Bung Karno di Bengkulu memiliki perpaduan antara arsitektur Eropa dan Cina. Luas bangunan162meter persegi, berdiri di atas areal seluas 4.813meter persegi. Rumah sebagai bangunan induk berada di tengah-tengah halaman, dilengkapi paviliun belakang. Atap bangunan membentuk limas, tidak berkaki, dinding polos dan jendela bergaun ganda.

Dua kamar tidur terdapat di sisi kanan, dan tiga kamar tidur di sisi kiri dalam rumah utama, Di bagian kanan belakang rumah utama juga terdapat lima petak memanjang ke belakang, yang berfungsi sebagai kamar mandi, dapur serta Gudang. Di belakang rumah terdapat sebuah sumur tua, yang konon airnya bisa bikin wajah seseorang awet muda, dan mendatangkan jodoh, ha…ha…ha…!

Usai ditinggal Bung Karno, rumah ini pernah digunakan berbagai markas pejuang, rumah tinggal AURI (kini TNI AU), Stasiun RRI, Kantor Pengurus KNPI Dati 1 dan Dati II Bengkulu, kemudian — berdasar SK KM.10/PW.007/MKP.2004 Menteri Kebudayaan dan Pariwisata — Rumah Pengasingan Bung Karno ditetapkan sebagai Cagar Budaya, dan pada 29 Desember 2017 ditingkatkan sebagai Cagar Budaya Nasional.

Banyak hal bisa kita pelajari di obyek wisata sejarah yang menyimpan berbagai jejak Bung Karno selama di pengasingan. Buku-buku bacaan Bung Karno, foto-foto bersejarah yang terpajang di dinding, naskah sandiwara yang ditulis Bung Karno dan kostum grup Monte Carlo, serta sepeda onthel yang antara lain digunakan Bung Karno untuk ngebonceng Fatmawati saat mereka jumpa.

Rumah Bung Karno tercatat beberapa kali diperbaiki. “Kini beberapa bagian yang terbuat dari material kayu, keropos dan harus direhab dengan memotong yang rusak atau dempol,” lanjut Rois Leonard Arios yang setahun lalu masih bertugas di Badan Pelestari Nilai Budaya (BPNB, sebelum tahun ini diubah jadi BPK) Sumatera Barat yang mencakup daerah tugas Sumatera Barat, Bengkulu, dan Lampung.

Dibawah kendali BPK Wilayah 7 Bengkulu, RBK direhab dengan bantuan Dana CSR Bank Indonesia Wilayah Provinsi Bengkulu. Kelak RBK juga akan dilengkapi monitor LED sebagai layar informasi. Perbaikan photoboth, dan garasi akan jadi ruang literasi. Di belakang rumah akan ada ruang bagi UMKM (binaan BI) yang menjual produk seperti Kopi, Kain Batik Basurek khas Bengkulu

Fisik taman sebagai bagian pendukung Museum RBK, juga tak lepas dari rancang kerja renovasi. Antara lain perbaikan lampu-lampu taman dengan sentuhan instagramable, pengecatan dinding dan kayu, penyediaan fasilitas e-ticket, pengecatan pagar keliling, penambahan CCTV, “Serta penyediaan jalur bagi penguna kursi roda,” ungkap Rois. ***

16/08/2023 PK 16:32 WIB

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.