Sementara itu, Arab pelarian tradisional dengan limpahan uang minyaknya – terus mencuci otak orang desa kita, agar memuliakan mereka dan keturunannya yang mancung. Agar warga pribumi yang pesek ini menyembah mereka, mencium tangan mereka dan mereka terus merendahkan kita. Dulu di belakang dan kini terang terangan.
Orang orang pribumi pesek yang sudah tercuci otaknya dan jadi hamba mereka pun pasang badan membelanya. Karena satu agama. Ikut ikutan menendang sajen dan anti pertunjukan wayang.
Sampai risalah ini ditulis tak ada media besar (mainstream) yang memberitakan, seolah olah tak ada kejadian apa apa – sebagaimana mereka memberitakan politisi yang kepleset menyebut, “Allahku kuat dan Allahmu lemah” – yang menggerakkan ormas pemuda untuk melapor ke polisi.
Hal hal yang terkait penistaan Islam non Islam sangat cepat responnya tapi pribumi non pribumi sangat lamban dan pura pura tak baca.
Sedangkan aparat kepolisian yang notabene Bhayangkari Negeri bumi Pancasila, keturunan pribumi pesek – pura pura tak membaca yang sedang viral dan anteng menunggu laporan. ***






