Foto : Farhan Abas / Unsplash
Setiap orang memiliki pengalaman istimewa dan bermakna bagi hidupnya. Ada hubungan dengan pribadi tertentu, atau juga dengan alam lingkungan suatu tempat. Begitu berarti bagi hidup, maka dirindukan terulang. Minimal ya bernostalgia. Lalu kutuliskan kenangan tentang Yoga dalam sajak:
Yogya…, aku Kembali
Kucari jejakku
di sepanjang jalan Malioboro
sampai stasiun Tugu
Tidak lagi terlihat…
Hingar bingar lampu
balutan asesories milenial
telah hilangkan moci
jajanan dan gudeg
dari jemari pedagang tradisional
Teman-teman pengamenku
tak kutemukan lagi
Dimana….
Yogya….
aku kembali menyusuri jejakku
Naik becak ke alun-alun
Ingin lewati Waringin kembar
Tapi …
tak terasa aura sakral
Mungkin harus ke Merapi
atau datang ke Parangkusumo
jejakkan kaki di pasir dan basuh wajah pada laut selatan
Yogya….
Aku kembali membawa rindu
berlangkah di tangga Borobudur
namun kaki tak mampu
lantaran karcisnya tak terjangkau
Jadi….
mungkin hanya ke Prambanan
dan
Nyekar bertanya ke Mba Marijan
lalu basuh muka di Telaga Nirwana
Yogya….
Kembali kulepas rinduku
di pelataran Gunung Kidul
dan larungkan damba di pantai Baron
ditemani senyum daun jati yang gugur
sambil nikmati sebungkus gudeg
kubeli dari terminal Wonosari
karena terasing di Malioboro
Ada alunan sayup gending
iringi tarian seribu gelombang
Simply da Flores Harmony Institute






