Seide.id – Indonesia terkenal sebagai negara agraris yang dimana sektor usahanya mayoritas bergerak pada dunia pertanian.
Oleh karena itu, masyarakat pada zaman dahulu mengenal mitos tentang Dewi Sri yang dianggap sebagai Dewi Padi.
Mitos terkait Dewi Sri tentu berbeda antar daerah.
Masyarakat Sunda menyebut Dewi Sri dengan sebutan Nyimas Pohaci.
Sosok Dewi Sri yang dalam kepercayaan masyarakat tertentu merupakan Dewi Padi atau Dewi Pertanian dianggap sebagai sosok yang baik karena menjadi perantara masyarakat khususnya para petani untuk memperoleh kesejahteraan hidup.
Sumber yang Memuat Kisah Dewi Sri
Ahli filologi bernama Moelyono Sastronaryatmo menyebut kisah Dewi Sri sebagai Dewi Padi termuat pada “Serat Babad Ila-Ila”.
Sumber lain yaitu “Lampahan Bathari Sri Mantuk” yang menurut filolog bernama Trisna Kumala Satya Dewi menceritakan tentang beberapa negara yang dilanda malapetaka sehingga rakyat menderita dalam hal sandang dan pangan.
Dewa bersabda pada para raja yang tertimpa musibah jika mereka ingin terhindar dari musibah tersebut maka mereka harus membawa Dewi Sri.
Upacara Ritual Pertanian
Masyarakat tradisional dalam menjalankan aktivitas pertanian tidak bisa lepas dari yang namanya tradisi.
Tradisi tersebut berupa upacara ritual pertanian.
Upacara tersebut ditujukan untuk Dewi Sri yang dianggap sebagai Dewi Padi yang dikenal telah memelihara serta melindungi padi.
Upara ritual pertanian diawali dengan penaburan benih padi.
Penaburan benih padi dilakukan oleh laki-laki dengan cara menyemai 9 butir gabah pertama.
Satu butir gabah diletakkan di tengah dan delapan butir gabah yang lain diletakkan di arah penjuru mata angin.
Selanjutnya yaitu proses menanam atau yang dikenal dengan istilah “Upacara Tingkep Tandur”.
Pada tahap ini, petani menyiapkan sesajen berupa bubur putih, pisang kluthuk, kinang (kapur sirih) serta bunga.
Tahap terakhir pada upacara pertanian ini dikenal dengan nama “Upacara Wiwit/Methik”.
Pada tahap ini, petani membawa tumpeng, ayam ingkung, lauk pauk dsb.
Petani meletakkan parijatha (padi yang pertama kali dipetik) dengan dibalut kain putih.
(Khoirunnis Salamah)





