GIinjal Jadi Korban Akibat Obat China

Seide.id – Terinspirasi dari Seminar saya di kalangan pengusaha Makassar yang domisili di Jakarta, yakni Komunitas Anging Mamiri. Isu betapa makna sehat itu murah juga terpetik dari seminar ini.

Isu ini penting dan perlu disebarluaskan karena menjadikan korbannya hidup sengsara. Ginjal yang menjadi korban. Ada uang banyak pun tidak selalu berhasil mencangkok ginjal yang sudah rusak.

Gara-gara mengkonsumsi obat china untuk encok, ginjal rusak tak terpulihkan. Makna sehat itu murah yang saya sampaikan dalam seminar, kalau saja masyarakat diberi tahu jangan sembarang minum herbal sembarangan, obat tradisional, belum tentu selalu aman, ginjal tidak harus menjadi rusak.

Kasus ini menimpa seorang mantan pejabat, tetangga, teman jalan pagi saya. Dan saya menceritakannya dalam seminar itu. Waktu itu baru saya kenal setelah 2 tahun sebelumnya ia cangkok ginjal hanya gara-gara kebiasaan minum obat china.

Seorang kerabatnya menyarankan minum obat china untuk mengobati encoknya, dan ternyata memang mereda encoknya. Tapi 2 tahun mengkonsumsi obat china itu, ginjalnya rusak berat, sehingga harus transplantasi. Ongkos transplantasinya Rp 400 juta, dan setiap hari masih harus mengkonsumsi obat sekitar Rp 150 ribu untuk mencegah ginjal barunya tidak ditolak badan. Betapa apa jadinya kalau tak punya cukup dana untuk cangkok, dan hidup dengan ginjal cangkokan.

Bahwa sehat itu murah, betul menjadi murah kalau saja sebelumnya tahu tidak mengkonsumsi obat china. Bapak mantan pejabat ini bilang, sayang baru kenal saya setelah ginjalnya rusak, dan sebelumnya tidak pernah mendengar seminar saya, atau membaca buku saya.

Maka beruntung mereka yang sudah tahu apa bahaya mengkonsumsi obat china, atau lutut masih belum telanjur rusak, atau ruas tulang belakang belum telanjur pengapuran, atau belum terserang jantung koroner, atau belum terpicu kanker, dan banyak lagi yang saya beri tahukan bagaimana membatalkan semua penyakit itu.

Ihwal obat china yang merusak ginjal itu dari tumbuhan famili aristolochiaceae. Zat yang dikandungnya aristolochic acid selain aristolactam. Kedua zat ini yang bersifat merusak ginjal, celakanya kerusakannya permanen (tak bisa dipulihkan).

Lebih dari itu, zat yang dipakai dalam bahan obat ini juga bersifat pemicu kanker (carcinogenic), selain mengubah gen (mutagenic).Tahun 2001 Badan pengawasan Obat Amerika Serikat (FDA) melarang obat tradisional yang mengandung bahan ini. Namun obat jenis ini masih terus beredar di pasar gelap. Tahun 2013 kedapatan kasus kanker ginjal dan kanker hati pada mereka yang mengkonsumsi obat berbahan ini.

Obat dokter juga bukan sedikit yang berpotensi merusak ginjal. Obat darah tinggi golongan ACE inhibitor, golongan ARB, selain obat encok golongan NSAID. Antibiotik golongan aminoglycosides, golongan sulfonamide, amphotericine B, quinolones, rifampicin (untuk TBC), tetracycline, dan antivirus acyclovir, obat chemotherapy, serta obat antikolesterol golongan statin dan golongan gemfibrozil.

Artinya begitu banyak obat yang efek jeleknya merusak ginjal, maka perlu pertimbangan sangat hati-hati setiap memutuskan memakai obat apa pun. Memilih sendiri berobat (self medication) tidak selamanya aman.

Menerima resep dokter pun perlu sikap kritis, mempertimbangkan risk-benefit, baru menerima kalau manfaat obat lebih besardari risiko efek sampingnya. Dan tidak sebaliknya. Kalau tanpa obat penyakit bisa mereda, berarti kita hanya memikul risiko efek sampingnya. Dan kalau efek sampingnya merusak ginjal tak terpulihkan (irreversible), bukanlah ini malapetaka maha besar dalam hidup kita.

Salam sehat ,
Dr Handrawan Nadesul

Tentang Antiaging

handrawan nadesul

About Dr Handrawan Nadesul