Parents, yuk, Belajar Kenal dengan Co-Regulation!

Parents, yuk, Belajar Kenal dengan Co-Regulation!

Co-Regulation berarti mengswitch perseneling emosional dalam sistem saraf kita sehubungan dengan orang lain.

Suatu sore di sebuah pusat perbelanjaan.

Dalam pandangan mata, tampak si kecil tiba-tiba berhenti di dekat sebuah mobil, lalu melongokkan kepalanya mengintip lewat sela mobil yang diparkir itu. Sekejap emosi terpantik, sedetik kemudian tangan kita spontan menariknya menjauh.

Sambil menenangkan diri, bibir kita mulai melancarkan teguran kepadanya. “Paham nggak, sih, bahwa hal itu tidak sopan. Dalam mobil itu, sudah area pribadi seseorang ya, dek. Jangan diintip! Apa kamu mau kalo saat kita bermobil, lalu ada yang mengintip-intip, dstnya … dstnya.”

Pertanyaannya, tepatkah sikap kita demikian dalam merespon reaksi si kecil. Karena, faktanya kita tidak berhadapan muka dan bertatapan mata dengannya. Lebih tepatnya saat itu, kita ‘menyeret’ yang berarti ada paksaan untuk seketika menghentikan keingintahuannya, di usia yang padahal sedang sarat rasa ingin tahu.

Bandingkanlah dengan: kita hanya menepuk bahunya, meminta maaf kepada pemilik mobil, baik dengan isyarat tubuh maupun kata-kata. Lalu, ketika sudah cukup berjarak dari lokasi baru menyejajarkan wajah setara dengan wajah si kecil dan menjelaskan, termasuk mendiskusikan alasan tindakan tersebut kurang ‘pas’.

Bagaimana? Apa terlihat perbedaannya?

Sebagai bocoran, respons kedua merupakan upaya co-regulasi. Buset, istilah apalagi sih itu?

Ahli parenting dalam kurun setahun ini, banyak menuliskan hal tersebut untuk mengenalkan kepada orang tua.

Co-Regulasi berarti men-switch persneling emosional dalam sistem saraf kita sehubungan dengan orang lain. Seperti berkendara, mengubah persneling dari gigi rendah ke tinggi, disebabkan kebutuhan akan kecepatan. Demikian sebaliknya mengubah persneling dari gigi tinggi ke rendah, didorong untuk memperlambat laju kendaraan.

Seorang pengendara yang terampil akan beralih gigi dengan smooth, tanpa membuat terkejut para penumpangnya. Demikian sebaliknya.

Meski dianalogikan dengan ketrampilan mengemudi yang memang perlu dipelajari dan diperbanyak jam terbangnya, co-regulasi dalam pengasuhan lebih kepada pengalaman yang alami. Bukan sesuatu yang perlu dipelajari khusus.

Ibu dan bayi secara alami melakukan co-regulasi dengan pengalaman menumbuhkan bonding di antara mereka.

Coba kita ingat lagi. Betapa bayi akan lebih tenang, ketika kita pun sedang dalam keadaan calm, tidak gelisah, tidak sedang overthinking (istilah kekinian). Saat itu sebenarnya sedang terjadi co-regulasi ibu dan bayinya. Atau, ketika kita panik, lalu bayi ikut menangis; seketika sadar untuk switch dengan berusaha keras menenangkan diri, atau memberikannya kepada orang lain di rumah yang lebih tenang, coba lihatlah perubahan pada bayi tersebut.

Co-regulasi sendiri sangat tergantung pada ekspresi, refleksi, dan respons.

Ekspresi berarti menunjukkan diri apa adanya, jujur memperlihatkan kelemahan, bagaimana orisinalitas diri kita.

Pada contoh di awal tulisan, ketika kita mencontohkan meminta maaf kepada pemilik mobil, saat itu si kecil tanpa sadar belajar mengapa ibunya meminta maaf. Hal itu berarti ada yang salah, meski awalnya mungkin dia tak mengerti.

Lalu, ketika menyejajarkan dengan tinggi si kecil dan mengajaknya bicara, teguran yang kita berikan makin membuka kesadarannya bahwa perasaan sebagai ibu saat itu nyatanya tidak suka dan marah.

Selanjutnya Refleksi.

Proses ini menunjukkan bagaimana kita dilihat orang lain. Hadir (being present) bermakna terlihat nyata atau wujud asli yang tampak oleh orang lain.

Sederhananya, berkomunikasi baik verbal maupun non verbal saat bertemu menunjukkan bagaimana kita dilihat dan diterima lawan bicara. Dan, itu mutual. Karena ketika hal itu terjadi penyelarasan bagaimana sistem syaraf kita merespons satu sama lain, secara non verbal: kontak mata, nada suara, gestur tubuh, isyarat, gerakan, tempo bicara, intensitas emosi dan nada bicara.

Pada contoh di awal tulisan, respons ketika menyeret tangan si kecil karena kita merasa malu menunjukkan tidak terjadinya co-regulasi. Karena kita sudah emosional terlebih dahulu, lalu impulsif bertindak.

Tidak terjadi proses refleksi satu sama lain.

Terakhir dan terpenting adalah Respons.

Belajar tentang respons berarti kita belajar bagaimana ekspresi yang ditunjukkan akan berpengaruh pada interaksi kita dengan orang lain. Bisa saja hal itu memberi kesan buruk yang berakibat kita dijauhi, atau memberi kesan menyenangkan, sehingga siapapun nyaman berinteraksi termasuk berkomunikasi dengan kita.

Proses Respons ini penting dalam belajar Co-Regulasi. Karena kita mengenali bagaimana sebuah situasi atau perlakuan orang lain akan berpengaruh terhadap kita. Demikian juga kita terhadap orang lain.

Masih bingung?

Mengakhiri tulisan ini saya akan menyederhanakan semua ulasan tadi.

Manusia tidak terlahir untuk bisa mengatur atau mengendalikan emosinya. Ketika anak-anak, kita tak mampu mengendalikan emosi dan mampu mengontrol bagaimana sistem syaraf bekerja. Anak-anak menggantungkan dirinya pada orang tua, orang dewasa sekitarnya termasuk keluarga dan pengasuh di rumah.

Dengan orang tua, atau orang dewasa sekitar anak bisa menunjukkan bagaimana diri sendiri bersikap matang mengontrol dan mengendalikan emosi dengan baik, hal itu menjadi contoh dan role model bagi anak untuk belajar mengendalikan emosi juga.

Ketika kita terbiasa membanting atau melempar barang di hadapan anak saat marah, melakukan kekerasan, apapun bentuknya, anak pun belajar, demikianlah cara terbaik untuk mengendalikan emosi. Namun, sebaliknya; ketika kita menunjukkan upaya keras untuk berusaha bersikap tenang, menurunkan nada bicara, menarik dan mengembuskan napas, anak pun belajar banyak bahwa kita bukan orang yang mudah ngegas (istilah untuk mudah terpancing).

Biar bagaimana pun, bersikap tenang menjadi penting bagi orang dewasa, karena emosi itu menular, kepada siapapun yang terkait dengan kita.

Pernahkah kita sudah memiliki mood yang baik di pagi hari, ketika pasangan atau anak kita tetiba menunjukkan mood yang buruk; sesegera itu pula orang serumah akan terpengaruh. Atau jangan-jangan malah kita yang sering bad mood dan buat serumah menjadi kesal.  

Demikian ya.

Susah atau mudah? Huhu, saya pun masih terus perlu belajar. Sama-sama, yuk!

Berbagi Virus Kebaikan  

Meluruskkan Ihwal Food Additive

Kripto Cap Sekuritas Ambruk

Avatar photo

About Ivy Sudjana

Blogger, Penulis, Pedagog, mantan Guru BK dan fasilitator Kesehatan dan Reproduksi, Lulusan IKIP Jakarta Program Bimbingan Konseling, Penerima Penghargaan acara Depdikbud Cerdas Berkarakter, tinggal di Yogyakarta