Pelaku Tak Pakai Narkoba,  Tapi Diduga Halunisasi

Thailand - Olah TKP

Kepala polisi Thailand mengatakan Sersan Pol Panya Kamrab  bertengkar dengan istrinya di pagi hari sebelum pembantaian. Setelah penembakan dan penikaman di pusat penitipan anak, Panya kembali ke rumahnya di mana dia kemudian membunuh istri dan putranya sebelum bunuh diri.

Seide.id – Otopsi awal tidak menemukan jejak narkoba di tubuh mantan polisi yang melakukan penembakan yang menewaskan sedikitnya 38 orang di provinsi timur laut Nong Bua Lam Phu pada hari Kamis, menurut kepala polisi nasional.

Jenderal Polisi Damrongsak Kittiprapas mengatakan kepada wartawan sore tadi bahwa otopsi kedua akan dilakukan untuk menentukan apakah pelaku pembantaian, yaitu Sersan Pol Panya Kamrab bertindak di bawah pengaruh obat-obatan ketika dia mengamuk di sebuah pusat penitipan anak di distrik Naklang.

Mengutip hasil otopsi di rumah sakit provinsi Udon Thani, tidak ada jejak obat yang ditemukan di tubuh Panya. “Otopsi tidak menemukan bukti bahwa dia memiliki narkoba dalam waktu 72 jam sebelum kejadian,” katanya.

Jenderal Pol Damrongsak menambahkan, Panya juga tidak memiliki catatan masalah kesehatan mental, meski memiliki riwayat penggunaan narkoba.

Namun, kepala polisi mengatakan pada hari Kamis bahwa Panya tampaknya di bawah tekanan dan berhalusinasi selama amukan mematikan.

Kepala Polisi Thailand itu mengatakan Panya, pelaku penembakan, bertengkar dengan istrinya di pagi hari pembantaian. “Mereka bertengkar dan dia menelepon ibunya untuk menjemputnya,” katanya.

Dia mengatakan Panya menjadi polisi pada 2012 dengan catatan kesehatan yang “bersih”. Namun, mengutip ibu Panya yang mengatakan bahwa ada kemungkinan Panya menggunakan narkoba setelah dia dikirim kembali ke kampung halamannya di Nong Bua Lam Phu.

Panya Kamrab mantan sersan polisi yang pernah bertugas di Bangkok. Melakukan penembakan dan pembantaian massal yang paling mengerikan di dunia, sejauh ini – dengan korban sebagian besarnya kanak kanak. foto: Twitter.

Sersan Panya sebelumnya bertugas di dua kantor polisi di Bangkok.

Sumber lain, pelaku memang bermasalah dengan perkawinannya, dan juga kondisi ekonominya yang memburuk sejak dipecat dari kepolisian karena mengkonsumsi obat terlarang.

Setelah penembakan di pusat penitipan anak, Panya kembali ke rumahnya di mana dia kemudian membunuh istri dan putranya sebelum bunuh diri.

Di antara 38 korban yang tewas, sebanyak 24 di antaranya kanak-kanak, bahkan beberapa di antaranya baru berusia tiga tahun.

Saksi menggambarkan bagaimana pelaku mengamuk selama dua jam, menebas sampai mati 22 anak-anak berusia 2-5 yang sedang tidur siang, menembaki orang-orang di sekitar dan mengemudikan secara membabi buta dan kemudian membunuh anak isterinya di rumah, yang berjarak sekitar 3 km, sebelum membunuh diri sendiri dengan pistol 9 mm-nya.

Sersan Panya diberhentikan dari kepolisian pada Juni tahun ini atas tuduhan kepemilikan amfetamin secara ilegal.

Rekan-rekan semasa di kepolisian menyatakan, pelaku memang cenderung temperamental.

Pembantaian membabi buta meneaskan banyak anak, merupakan kematian anak terburuk di dunia sejauh ini. – PBS/dms

SEIDE

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.