Pemilu di Flipina, Krisis di Srilangka dan Yaman

Kalau di Filipina bisa kembali ke zaman Marcos, Indonesia juga bisa kembali ke zaman Suharto. Rakyat jelata gampang disogok. Dengan sembako murah, subsidi ini itu, janji surga “murah segalanya” – mereka mau menjual suaranya, meski menyesal setelah lima tahun kemudian lantaran sengsara. Selain mewaspadai Filipina, yang “virus politik”nya berpotensi menular, Indonesia wajib mewaspadai krisis di Srilangka dan Yaman.

oleh DIMAS SUPRIYANTO

SUNGGUH mengejutkan bahwa Bong Bong Marcos bisa memenangi pemilihan kursi presiden dengan meraup 32 juta suara dari 67 juta suara warga pemilih di 37 ribu TPS di Filipina. Dia adalah anak ke dua diktator Ferdinand Marcos (memerintah 1965 -1986), yang seangkatan dengan Suharto di Indonesia.

Selain Filipina, menarik untuk kita bahas bersama sama krisis di negeri Srilangka dan mundurnya Presiden Yaman atas desakan Arab Saudi.

Dengan kemenangan Ferdinand Marcos Junior, 64 tahun, apakah Suharto Junior juga bisa naik ke puncak kepresidenan ? Kemungkinannya, sih, sangat kecil. Yang besar kemungkinannya adalah mengompori kaki tangan anak anak Suharto, untuk ikut pemilu, menang dan masuk ke istana. Lalu menjalankan kembali politik gaya Suharto.

Semboyan, “Enak zamanku, to? ” masih terus terngiang. Kejayaan rezim Suharto dulu ditopang oleh birokrat, jendral jendral angkatan darat dan konglomerat, para oportunis, yang telah menumpuk kekayaan, dan kini mengongkosi politisi yang harus kekuasaan dengan transaksi yang saling menguntungkan.Lihatlah, wajah wajah politisi yang audensi ke Cendana atau duduk semeja bareng anak anaknya.

Jika anak Sukarno, yaitu Megawati, bisa kembali ke kursi presiden mengapa, Tutut, Bambang, Titiek, Tommy tidak bisa? Itulah impian mereka.

Mungkin penerus Suharto juga tak lagi memamerkan kebengisan militer di era 1967-1998, tapi melanjutkan gaya KKNnya : Korupsi, Kolusi dan Nepotisme.

Kalau pun tidak, bukankah banyak politisi tak bermodal yang “sowan” dan siap menjalankan agenda agenda mereka.

Waspadalah !

Kalau di Filipina bisa kembali ke zaman Marcos, Indonesia juga bisa kembali ke zaman Suharto. Rakyat jelata gampang disogok. Dengan sembako murah, subsidi ini itu, janji surga “murah segalanya” – mereka mau menjual suaranya, meski menyesal setelah lima tahun kemudian lantaran sengsara.

Selain mewaspadai Filipina, yang “virus politik”nya berpotensi menular, Indonesia wajib mewaspadai krisis di Srilangka dan Yaman.

NEGERI SRILANGKA mengalami krisis politik, yang berdampak mundurnya Perdana Menteri Mahinda Rajapaksa, diakibatkan oleh salah urus ekonomi.

Negeri yang pernah dijuluki “Mutiara Samudra Hindia” ini mengalami krisis terparah sejak 1948, situasinya seperti Indonesia di tahun 1998.

Selain sulit membayar utang luar negeri yang “cuma” Rp. 732 triliun, juga sulit mendapatkan pinjaman asing. IMF angkat tangan.

Bandingkan dengan utang Indonesia yang Rp.7000 Triliun dan nampak baik baik saja.

Sekadar gambaran dan pembanding, di sini – di penghujung pandemi Covid-19 (mudah mudahan pandemi berakhir,pen), pada April-Mei 2022 ini – penarikan uang tunai pada periode Ramadan dan Lebaran tembus Rp.180 Triliun. Diperkirakan, 85 juta warga yang mudik menghabiskan uang belanja Rp. 42 triliun! Wuiih!

Hal itu terjadi karena utang dan perekonomian dikelola dengan baik oleh Menteri Keuangan kelas dunia, yaitu Dr. Sri Mulyani dan dijaga stabilitasnya oleh Menko Maritimnya yang lugas dan tegas, Jendral. TNI. Purn. Luhut Binsar Panjaitan.

Indonesia diselamatkan oleh dua orang itu – tanpa bermaksud mengecilkan peran menteri yang lain. Kepiawaian mengelola uang negara dan ketegasan dalam melindungi krisis politik, tervalidasi. Sungguh beruntung Indonesia memiliki tim ekonomi hebat dan di masa kini dikelola orang orang kompeten.

SEBAGAI Presiden RI – orang nomor satu di republik – Ir. Joko Widodo punya banyak gagasan dan kemauan untuk membangun bangsa dan mensejahterakan rakyatnya. Tapi tanpa dukungan menteri hebat dan kuat, kemauannya berhenti di angan angan.

Ancaman atas kestabilan politik pemerintahan Jokowi sungguh nyata. Berkali kali coba ditumbangkan, lewat demo massa, mahasiswa dan juga buruh, serta berbagai ormas, tapi dia mampu bertahan.

Kadal kadal gurun, kaki tangan Amerika, Arab, Turki dan Mesir, terus mengincar kursi istana negara. Segala cara mereka lakukan. Dana untuk operasi mengacaukan NKRI, sangat besar – didukung mafia Migas, konglomerat lokal dan internasional. Korporasi global.

Tuhan sungguh Maha Penyayang pada Bangsa Indonesia.

Oposan yang tak punya konsep kecuali nyinyir dan caci maki, akhirnya keok. Tergeletak. Kecaman dan umpatan pada Jokowi dan LBP, tak lebih dari raungan dan tangisan kegagalan para penyinyir republik yang ingin menjatuhkan pemerintah.

BULAN lalu, Presiden Yaman Abedrabo Mansour Hadi mengundurkan diri atas desakan Arab Saudi. Dia dikurung di rumahnya di Riyadh dan tidak mendapat akses telepon.

Salahsatu faktor krisis di Yaman adalah peran Arab dan Amerika yang mendikte terlalu jauh, urusan dalam negeri tetangganya itu.

Modus yang sama dilakukan di sini lewat pendakwah yang keArab-Araban dan SJW, pejuang HAM binaan American Centris.

Krisis di negeri Yaman berlangsung sejak 2011 lalu dan tak kunjung berakhir. Dampak dari gelombang “Arab Spring” (Musim Semi Arab) berujung pada negara gagal, perang sipil dan anarki di Yaman. Pergantian rezim tak menjadikan negeri itu lebih baik.

Dari 5 juta warganya, sudah 10 ribu warganya tewas, dan 40 ribu terluka. Ancaman kelaparan dan penyakit merajalela. Sungguh mengenaskan! Negara Arab sekitarnya seakan tak peduli. **

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.