Penceramah Radikal di Lingkungan Tentara

Paham dan ajaran Islam radikalis sudah menyusup ke berbagai lini, tak diragukan lagi. Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swata (PTS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), semua sudah terpapar dalam cengkeraman kaum mereka. Juga kementrian, BUMN, para ASN/ PNS. TNI dan Polri gerbang terakhir. Foto adegan film Pemberontakan G 30 S PKI.

Oleh DIMAS SUPRIYANTO

Paham radikalisme menyusup ke lingkungan tentara lewat pengajian isteri isteri mereka dan juga lingkungan mereka sendiri. Langsung ke anggota, yang mengundangnya.Kekuatan tentara (dan polisi) jelas diperebutkan oleh mereka yang ingin merebut kekuasaan, karena tentara terorganisisr dengan baik, terlatih, dan memiliki senjata dan menguasai gudang senjata. Tinggal digerakkan.

Kaum radikalis, khususnya yang ingin mengubah Indonesia sebagai negara agama, negara Islam, sangat menginginkannya. Mengincar mereka.

Tentara punya posisi strategis sebagai penjaga negara dan tanah air, namun tentara juga memiliki kemampuan membrontak dan kudeta. Bukan hanya di Indonesia, melainkan terjadi juga di Filipina, Thailand dan Myanmar kini.

SEJARAH kita mencatat, peristiwa G30S/PKI pada 1965 menjadi besar dan mematikan karena keterlibatan elemen tentara. Juga Pemberontakan APRA – Angkatan Perang Ratu Adil (1949-1950), di Jawa Barat, Kahar Mudzakar di Sulawesi Selatan, PRRI/Permesta di Sumatra Barat, dan pembrontak lainnya. Juga GAM, RMS, dan OPM – dengan motif berbeda. Semuanya menggunakan bedil dan melibatkan oknum tentara.

Bahkan juga Darul Islam yang menggagas Negara Islam juga mendirikan Tentara Islam Indonesia (DI/TII, sejak 1949) juga angkatan Umat Islam di Kebumen (1950) .Kahar Mudzakar, yang semula merupakan tentara kesayangan Soekarno tidak puas atas keputusan petinggi TNI, Jendral Nasution dan memilih bergabung dengan DI/TII di tahun 1953.

Gagasan negara Islam terkubur setelah SM Kartosuwiryo divonis mati (1962), Kahar Mudzakar dikabarkan ditembak mati tentara Siliwangi satuan 330 pada Februari 1965 . Ide dan impian negara Islam terlindas selama 32 tahun Suharto dan Orde Baru berkuasa.

NAMUN KINI mimpi negara Islam, negara khilafah bangkit lagi, sejak tumbangnya Suharto dan munculnya era reformasi, yang mendapatkan angin dan pembiaran khususnya selama 10 tahun era kepemimpinan Soesilo Bambang Yodhoyono (2004 – 2014) hingga kini mencapai kemantapannya. Mereka mendapat dukungan dari gelombang dakwah Islam transnasional, yaitu HTI/Ikhwanul Muslimin, selain Salafi dan Wahabi. Juga ISIS.

Paham dan ajaran Islam radikalis sudah menyusup ke berbagai lini, tak diragukan lagi. Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Swata (PTS), Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM), semua sudah terpapar dalam cengkeraman kaum mereka. Juga kementrian, BUMN, para ASN/ PNS.

Produk perda perda Syariah yang diskriminatif adalah bagian dari gerakan mendorong dan mengarahkan NKRI menuju negara agama – dalam nuansa keArab araban. Gurun pasir abad 6 masehi. D.I Aceh dan Sumatra Barat contoh kasat matanya.

Maka tentara di TNI dan polisi di Polri memang menjadi garda terakhir.Ajakan Presiden Jokowi agar tidak mengundang pendakwah radikal jelas layak diapresiasi.

Presiden Jokowi memberikan perintah tidak berdasarkan asumsi-asumsi. Karena intelejen telah menciumnya. Dan melaporkannya.

Pada Oktober 2019 lalu, sebanyak delapan perempuan diduga istri dari prajurit TNI mengunggah tulisan di media sosial (medsos) terkait penusukan Menko Polhukam Wiranto yang terjadi pada Kamis 10 Oktober 2019 di Pandeglang, Banten. Kapuspen TNI, Mayjen Sisriadi‎ kemudian mengecek hal tersebut bersama Badan Intelijen Strategis (BAIS) militer .

Sebanyak 3 anggota TNI kemudian menerima sanksi, pencopotan jabatan hingga sanksi kurungan. Karena dianggap tak bisa mendidik dan membina isterinya. Yang terkena dari berbagai jenjang, dari Kolonel, Sersan dua hingga Peltu.

Kenekatan isteri tentara, mengomentari jendral, tak semata mata beda pilihan dalam Pilpres 2019 – melainkan juga karena pengaruh paham radikalisme yang disuntikkan kepada mereka secara berkala lewat pengajian pengajian yang mengundang pendakwah intoleran.

Kini terpulang kepada TNI sendiri, apakah akan melanjutkan perintah presiden, bersih bersih di organisasi dan keluarga anggota mereka atau kembali mengulang sejarah, menjadi pemberontak seperti G-30-S/PKI, APRA, DI/TII, PRRI/Permesta dan pemberontak lainnya.

Mengulang sejarah saat tentara kita diperalat oleh pemberontak para politisi oposan dan kemudian kecele. Tertipu. **

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.