Percakapan Tetangga

Percakapan Tetangga

Tak sengaja, percakapan tetangga masuk kuping. 

ANAK :

Pah, aku kan ulangtahun. Papa mau ngasih kado apa ? AYAH :

( Sambil main hape) 

Maunya apa ? Uang ? iPhone atau Mobil ? 

ANAK :

Akh kayak orang miskin saja papah ini. Sesekali kadoin aku kado istimewa dong yah.  

AYAH:

( Masih main hape)

Ya udah. Beli pesawat saja ya. Ambil cek di meja. Tulis 0,5 T. Kalau lebih, kasih pilot, siapa tahu kamu mau ajak temen-teman ke Mall atau ke Paris. 

Dari rumah sebelah. 

ANAK:

Yah, aku kan ulangtahun. Ayah kan pernah janji, kalau lulus ujian boleh minta hadiah. Beliin sepeda seken ya yah. Tuh di bengkel mang Agus lagi dijual murah, gak sampai 0,5 juta. Sisanya nanti bisa beli rokok ayah deh.

AYAH:

Matamu sowek. Dasar anak gak tahu diri. Gak ngerti apa, seminggu ini kita buka puasa nyari mesjid mana yang nyediain takjil atau buka puasa. Anak manja, gak tahu kesulitan orangtua. Uang segitu bisa beli beras 10 karung, katimbang sepeda, tahu. Dasar anak sekarang. Asuwok !!

Menjadi bajingan di Indonesia tidak sulit, sepanjang orang memiliki sedikit saja pikiran untuk serakah dan tidak peduli orang lain. 

Keserakahan untuk mengumpulkan harta terjadi karena orang tidak memahami rasa bersyukur. Membelikan kado sebuah pesawat senilai Rp 480 miliar lebih, dipicu oleh ketidakpuasan dalam memiliki “ segalanya” sampai semua orang tunduk pada uang yang dimiliki. Untuk memiliki uang, seseorang perlu menjadi seorang bajingan. Seorang bajingan perlu berkolaborasi dengan orang pemerintah yang mudah tergoda dengan uang melimpah untuk menghadapi masa pensiun mereka. 

Harvey Moeis dan Helena Liem, sosialita di Pantai Indah Kapuk (PIK) dan konco-konconya, jika benar merugikan uang negara senilai Rp 271 trilun di tata niaga timah, tentu akan mengalahkan pasangan Walter Forbes dan Kirl Shelton yang melakukan penipuan sekuritas senilai Rp 272 triliun.

Meski boleh dicatat di Indonesia hidup seorang dua orang dengan penipuan sebesar itu, namun media dan masyarakat, tampaknya menganggap biasa-biasa saja. 

Bisa jadi karena setiap hari kita mendengarkan kasus-kasus penipuan yang tidak akan pernah jera, dengan hukuman tak jelas. Bisa jadi masyarakat hanya berharap orang seperti itu nanti terkena hukuman seumur hidup atau mati ditembak. Tanpa itu, hilangnya 271 triliun, tak lebih sekedar video tiktok yang cepat melintas di mata.

Berhamburan Uang 

Yang lebih menyedihkan, di rumah Harvey maupun Helena, bertebaran uang puluhan miliar rupiah. Belum termasuk puluhan miliar lain dalam bentuk dolar Singapore dan Dolar AS. Uang itu setiap saat ada di sana karena uang mereka berlimpah dan bingung kemana menaruhnya. 

Semenara itu, di luar sana, di rumah-rumah kebanyakan orang, berhamburan kertas tagihan cicilan rumah, air, listrik dan bayaran anak sekolah. Bertumpuk hingga pemilik rumah malas membaca tagihan. Yang Mereka tunggu adalah berlembar uang rupiah dan dolar seperti di tempat Haravey maupun Helena. 

Bedanya, kebanyakan orang itu tidak tahu dan tidak punya kesempatan bermain-main dengan uang negara dengan melanggar hukum. 

Kerika kemarin ada berita korupsi puluhan miliar, lalu ratusan miliar dan sekarang triliunan, orang tampaknya biasa-biasa saja. 

Bisa jadi mereka sudah lelah berkeluh kesah soal kopruptor yang dimanjakan di negeri ini. Mungkin juga, mereka sedang melihat peluang untuk melalkukan hal yang sama; mengeruk uang negara triliunan dan tak lama kemudian kita jumpai mereka duduk di pinggir jalan sembari menyeruput kopi sambil melihat lalu lalang orang berjalan sibuk mencari hadiah lebaran. 

Cairan kopi itu hampir habis tapi belum ada ide, setelah membeli pesawat buat anaknya, beli apa lagi untuk pasangannya yang melebihi pesawat.

Ah, indahnya negeri ini.

Penipuan Terbesar Dunia Termasuk Indonesia

Avatar photo

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.