Perempuan dan Anak-Anaknya (1)

Oleh: Gerson Poyk

Malam itu A tidak bisa tidur. Di depannya selalu kelihatan bayangan-bayangan mayat bergelimpangan. Beratus ribu mayat bergelimpangan. Beratus ribu mayat. Mulai dari mayat-mayat para jendral di Lubang Buaya sampai kepada mayat-mayat rakyat biasa di dusun-dusun. Tetapi yang menonjol ialah mayat musuhnya K. Melihat begitu banyak mayat hatinya tidak terlalu terganggu karena mayat-mayat itu sudah merupakan massa. Massa mayat. Kurang lebih serupa dengan massa manusia yang pernah dilihatnya di Main Stadium Senayan. Massa manusia di Senayan itu kabur merata seperti rumput di lereng gunung dan yang jelas hanyalah suara yang hebat dari mikrofon seperti suara banteng sedang mengunyah rumput dengan lahapnya di tengah padang.

Beda antara manusia dan massa mayat hanyalah sedikit. Kalau di tengah massa manusia terdengar suara banteng maka di tengah massa mayat hanyalah terdengar lengking takut dan gentar yang mengiris-iris. Lengking yang menyatakan bahwa hidup ini fana dan rapuh, bahwa semua manusia mesti menjadi mayat. Amboi! A sadar bahwa ia juga akan mati walaupun cara matinya tidak seperti K. Bahwa matanya akan terbuka untuk penghabisan kali seperti K itu, kemudian ditinggalkan orang dalam lubang yang senyap.

Malam itu ia tergolek-golek gelisah. Ketika di luar terdengar kokok ayam susul-menyusul di sejauh malam, ia melihat loncengnya. Jarum jam menunjuk pukul lima. Di samping kamarnya yang putih ada kamar mandi. Ia bangun menuju kamar mandi tetapi tiba-tiba ia terhenti. Tombol lampu kamar mandi diputar tetapi lampu tidak menyala. Ia kembali membaringkan badannya di tempat tidur yang yang berseprei putih. Matanya mengitari langit-langit kamarnya untuk menghilangkan bayangan-bayangan yang tidak disenanginya itu, tetapi tiba-tiba timbul perasaan yang aneh tatkala ia melihat lengannya yang diangkatnya ketika menggeliat dan menguap. Perasaan aneh itu mengayun-ayun mengikuti asosiasi kepada lengan K yang sedang dalam proses pembusukan. Ia makin terperas oleh perasaan ini. A berusaha menendangnya ke sudut lupa yang berulik dalam jiwanya. Rasanya agak berhasil ketika tiba-tiba ia dapat membayangkan wajah istri K. Wanita itu telah mempunyai lima orang anak. Baik ibu, baik kelima orang anaknya masih hidup. Mereka bukan massa yang kabur seperti rumput. Mereka manusia yang sedang menerima nasib yang pahit. Mereka mesti diangkat. Bayangan mayat mulai hilang dan ia sibuk dengan bayangan-bayangan manusia yang hidup.

A masih terus terbaring di atas tempat tidurnya. Ia mulai membuat rencana, pertama ia harus minta ijin pada penguasa setempat untuk mengunjungi istri K. Kata orang, walaupun ia telah dikeluarkan dari tahanan, namun ia masih dalam keadaan wajib lapor, karena ia adalah istri seorang tokoh PKI di daerah itu. Ah! Berpikir tentang wajib lapor, wajah K dengan kedip-kedip matanya yang terakhir mengganggunya lagi. Wajah K seolah-oldibuat September 1966ah memohon padanya, “Aku telah berdosa kepada Pancasila dan telah menerima ganjaran mati, tetapi Hadijah dan kelima orang anaknya tidak. Maafkanlah mereka!” Demikian kata-kata yang mengiang dalam telinga A. Ia sendiri sukar membedakan apakah ini suara K atau suaranya sendiri. Lama ia terduduk di kamarnya yang putih benderang listrik itu. Demikianlah keadaan batin A semalam suntuk. Semalam suntuk ia telah melakukan tugas yang paling gila, yakni mengusir bayangan-bayangan mayat, memikirkan nasib Hadijah, istri K, dengan kelima orang anak yang telah ditinggalkan K.

Dari lubang-lubang hawa yang berada di atas jendela dan pintu kamarnya nampaklah cahaya siang. Ia membuka jendela yang menghadap ke jalan raya. Di seberang jalan itu terhampar lapangan bola. Lapangan bola ini mengganggunya lagi karena di sisi kirinya masih terpacak sebuah podium yang tinggi. Ia ingat bahwa K sering berpidato di podium itu dahulu. Bayangan K datang lagi. Untuk menghilangkan bayangan konyol ini, ia melihat-lihat langit pagi dan sisa-sisa awan yang masih bergantungan. Ia melihat pohon-pohon, melihat rumah-rumah, melihat kawat-kawat listrik dan telepon. Semuanya masih ada. Hidup masih ada kecuali K. Hadijah istri K, masih ada. Anak-anaknya ada dan sedang bertumbuh. Pagi ini Hadijah harus dijumpai.

A segera berkemas. Ia mandi dan mengganti pakaian. Kemudian datanglah pelayan membawakan makanan pagi.

“Telat pulang tadi malam, Pak?” tanya pelayan.

“Iseng-iseng mengikuti mobil yang membawa jatah,” jawab A. “Sampai jauh malam.”

“Berapa orang tadi malam, Pak?” tanya pelayan.

“Sepuluh orang. Di antaranya ada musuh saya pribadi. Orang yang dulu memfitnah saya sehingga saya ditahan. Dalam tahanan, anak saya meninggal.”

“Bapak menyelesaikan dengan golok atau dengan pentung besi?”

“Tidak!” nasi di kerongkongan A tersedak. “Tidak, saya hanya menonton. Saya bukan algojo!”

Pelayan berdiri tegak di depan A sambil memegang dulang. Pelayan memandang A. Ketika mata pelayan diperhatikan A, ia bertanya “Mengapa matamu merah?”

“Saya juga kurang tidur selama ini,” jawab pelayan.

“Jadi, sering mengantar jatah?” tanya A.

Mendengar itu, tangan dan bibir pelayan kelihatan bergerak. Dulang yang berada di tangan kiri dipindahkan ke tangan kanannya. Matanya yang merah berlari-lari liar.

“Percepat pakaian saya di penatu. Mungkin tiga hari lagi saya pulang,” kata A “Angkat semua ini.”

Pelayan mengangkat piring-piring ke belakang.

Kira-kira pukul sebelas siang, A telah berada di halaman pintu rumah Hadijah. Rumah itu tertutup. Dari luar terdengar suara anak-anak. Diketuknya pintu dan pintu pun dibuka. Wajah Hadijah yang pucat menyambutnya. Bibirnya seperti mau mengatakan sesuatu, tetapi lama sekali tersumbat.

A memandangnya dalam-dalam. Bagi A, cukuplah mata Hadijah yang berkata menyambutnya. Ia telah mengerti sebabnya. Ia mengerti kata-kata yang diucapkan mata yang sayu dan ketakutan itu. Mata Hadijah mengikuti A yang tenang-tenang berkeliling dari kamar ke kamar. Di kamar depan nampak mesin stensil roneo yang sudah disegel oleh penguasa setempat. Di kamar tengah nampak rak-rak buku yang tinggi, hampir menutupi keempat dinding kamar itu. Rak-rak buku itu berkaca dan penuh dengan buku-buku tebal tipis, dengan brosur-brosur, pamflet-pamflet, dan koran-koran. Setiap kunci rak-rak itu pun sudah disegel.

Bersambung
(Ditulis September 1966)

Elegi untuk Intan Olivia

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis