Perempuan dan Anak-Anaknya (2)

Oleh: Gerson Poyk

Habis berkeliling, mata A menatap lagi Hadijah dalam-dalam.

Hadijah bertanya gugup, “Kau datang untuk menahan aku lagi? Aku baru saja keluar dari tahanan.”

A tidak menjawab. Digandengnya lengan Hadijah, lalu dibawanya ke kamar depan.

Terasa benar oleh A bahwa Hadijah gemetar. Kemudia mereka duduk berhadapan muka.

“Aku hanya datang melihat kau,” kata A. “Tadi aku dengar suara anak-anakmu. Di mana mereka?” tanya A kemudian berdiri.

“Ada di kamar belakang,” kata Hadijah. Hadijah berjalan menuju kamar itu diiringi A. Dibukanya kamar itu. Kelima orang anak Hadijah sedang duduk di tikar dan dijaga oleh seorang perempuan tua. Empat orang anak berdiri menyambut keduanya. Anak-anak itu memegang tebu dan mengunyah-gunyah. Semuanya memandang A dengan mata yang bersih dan terbuka bundar. Yang paling kecil belum bisa berdiri. Anak itu menangis ketika melihat ibunya. Hadijah segera menggendong anak itu.

“Siapa orang tua ini?” tanya A sambil memandang orang tua itu yang juga memandang A dengan matanya yang cekung dalam wajah yang kerut-kemerut.

“Dia pengasuh anak-anak ini.”

A memperhatikan perempuan itu. “Siapa nama ibu!” tanya A.

“Dia bisu dan tuli,” jawab Hadijah.

“Ah!” A agak kaget. “Bagaimana ia bisa mengetahui permintaan dan tangis anak-anak ini?”

“Kemauan K. Kata K, pelayan di rumah ini harus orang yang tuli.”

A diam. Ia kembali ke kamar depan diiringi oleh Hadijah. Keduanya duduk lagi berhadapan muka. Tidak lama kemudian anak yang paling tua, seorang anak lelaki yang wajahnya mirip K muncul sambil memegang dan mengunyah-unyah tebu. Anak itu mula-mula berdiri di samping ibunya yang sedang memangku adiknya sambil memandang tamu yang sedang duduk itu. A memandang anak itu lama-lama. Tanpa disuruh anak itu bergerak menuju A, lalu naik ke pangkuannya. Anak itu dipeluk A, lalu kepalanya diusap-usap. Ketika mata A memperhatikan Hadijah, nampak Hadijah menunduk sambil menyeka air matanya.

“Engkau harus berusaha menghilangkan duka citamu, Hadijah,” kata A sambil terus mengusap rambut anak itu.

Beberapa detik lamanya Hadijah tak berkata-kata dan terus menyeka air matanya.

Apa yang menyebabkan kau gemetar dan menangis? Kedatanganku? Kalau begitu aku pulang sekarang. Aku nginap di penginapan. Kalau kau mau menemui aku, datanglah.” A menurunkan anak itu dari pangkuanya, lalu berdiri.

Hadijah masih duduk dengan si kecil di pangkuannya. “Apa maksud kedatanganmu dari Jakarta?” Tanya Hadijah.

“Tidak untuk membalas dendam. Aku hanya datang untuk mengurus beslit-beslitku. Juga untuk menebus barang-barang yang digadai istriku selama aku ditahan.”

“Bagaimana keadaan istri kau? Masih bekerja!”

“Baik-baik. Masih bekerja. Habis, kalau tidak bekerja mana cukup. Dan lagi dengan bekerja, kesepian di rumah tidak terasa. Kami tetap tidak punya anak.”

“Bawalah seorang atau lebih. Aku tak mampu memberi makan anak-anak ini.”

A kembali memperhatikan anak yang dipangkunya tadi.

“Bawalah yang tidak mirip dengan K,” kata Hadijah.

“Itu bukan soal. Aku kirim telegram dulu pada istri.”

“Dan barangkali di kota ini ada kenalanmu yang mau memungut anak. Tolong tanyakan. Ah, tetapi kota kecil ini semua orang mengenali kami. Tentu tidak ada yang mau,” kata Hadijah sambil menarik nafas lesu.

A duduk kembali ke kursinya, lalu dipangkunya lagi anak itu. Bayangan K muncul lagi dalam angannya. Ia berusaha menendang bayangan itu.

“Anak itu jangan dibawa. Ia mirip sekali dengan K,” kata Hadijah.

“Mengapa aku mesti dendam pada orang yang sudah mati?” kata A sambil memandang anak itu.

“Jadi… kau sudah membunuhnya!” Hadijah tiba-tiba tersandar lemas di kursinya.

“Tidak! Aku tidak membunuhnya. Aku hanya menonton.” Kata A.

“Kenapa kau tidak menahan orang yang membunuhnya!” Tanya Hadijah dengan suara lemah.

“Bagaimana aku yang seorang diri dapat menahan lahar sebuah gunung api!”

“Manusia bukan lahar.”

“Lahar itu mengalir dari lubang buaya,” kata A dengan suara lemah lembut. “Lahar yang aneh dalam hubungan sebab akibat. Aksi dan reaksi. Semuanya spontan. Lahar yang dimuntahkan dari Lubang Buaya. Lahar yang menimbulkan reaksi berantai seperti bom atom. Lalu matilah beribu-ribu orang. Di antaranya suamimu. Aku menyaksikannya tadi malam.”

Tiba-tiba Hadijah merintih. Ketika anak dipangkuannya akan luruh, dengan cepat A mengambil anak itu. Kedua anak Hadijah digendongnya, lalu dibawanya ke kamar. Hadijah merintih setengah meraung. Makin lama makin sayup dalam tangis terisaknya, dalam tubuhnya yang lemah, pucat seperti mayat. Nafasnya lambat. Ia diangkat oleh A lalu dibawanya ke tempat tidur. Perempuan tua itu membelalakkan matanya sambil berceloteh dengan mulut dan isyarat tangan. Anak-anak kecil itu hanya memandang ibunya yang mulai pingsan. A tidak kehilangan akal. Ia keluar sebentar mencari minyak kayu putih. Beberapa lama kemudian, Hadijah sadar kembali.

“Sudahlah, kalau begitu. Aku kira dia tidak akan dibunuh. Aku kira dia akan menerima hukuman seumur hidup. Tetapi kalau ia telah menerima ganjaran, bagaimana dengan anak-anak ini? Aku tidak punya barang-barang untuk digadai atau dijual untuk memberi makan pada mereka. Kalaupun ada, akan dimakan beberapa bulan saja. Tampunglah anak-anak itu. Yang penting bukan harta untuk beli makanan dan untuk membesarkan mereka seperti membesarkan ternak. Yang penting mendidik mereka supaya kelak dikemudian hari mereka tidak membuat Lubang Buaya. Aku sendiri tentu tidak diperkenankan lagi bekerja,” kata Hadijah. Kata-kata itu diucapkan lambat-lambat.

Bersambung…

Ditulis September 1966

Cerita Sebuah Tas

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis