Perempuan Terkaya di Asia, Kehilangan Setengah Kekayaannya dalam Waktu Setahun

Yang Huiyan

Kekayaan Yang Huiyan merosot dari hampir US$24 miliar menjadi US$11 miliar (sekitar Rp162 triliun) tahun ini di tengah semakin anjloknya krisis bisnis properti di China.

Seide.id  –  Sebuah kisah dramatis dari dunia bisnid di China.  Yang Huiyan yang pernah mendapat predikat sebagai Perempuan Terkaya di Asia kehilangan separuh kekayaannya hanya dalam setahun saja.

Berdasarkan perhitungan Bloomberg Billionaires Index, kekayaan Yang menyusut hingga 52% selama setahun terakhir. Kekayaan Yang, menurut Bloomberg, merosot dari hampir US$24 miliar menjadi US$11 miliar (sekitar Rp162 triliun) tahun ini di tengah semakin anjloknya krisis bisnis properti di China.

Yang Huiyan baru menginjak usia 41 tahun,  tapi kekayaannya membuat dia menyandang predikat sebagai perempuan terkaya di Asia sejak mewarisi ‘kerajaan’ real estat dari ayahnya lebih dari 10 tahun lalu.

Berhentinya proyek konstruksi properti, dan kredit macet yang mencapai lebih dari US$220 miliar  (Rp3.272 triliun), menurut grup perbankan ANZ,  menyebabkan masalah serius yang berdampak pada penurunan minat membeli properti. 

Kondisi ini diperburuk oleh aksi nasabah yang mogok membayar cicilan properti serta sebanyak 30 perusahaan real estat yang mengalami jatuh tempo utang.

Sebagai mana ramai diberitakan,  Evergrande, salah satu perusahaan real estat utama di China, gagal bayar utang hingga US$300 miliar (Rp4.427) tahun lalu.

Bisnis properti Yang Huiyan terdampak langsung lantaran properti merupakan bisnis utamanya.

Yang Huiyan lahir pada 1981 di Shuntak, sebuah distrik di Kota Foshan, Provinsi Guangdong. Dia adalah putri salah satu pria terkaya di China, Yang Guoqiang.

Saat remaja, Yang Huiyan dikirim ke Amerika Serikat untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dia lulus pada 2003 dengan gelar sarjana dari Ohio State University.

Sepulangnya di China, Yang pada 2007 menerima mayoritas saham Country Garden Holdings dari ayahnya.

Country Garden Holdings, yang didirikan pada 1992 di Guangzhou, adalah pengembang real estat terbesar di China diukur dari penjualan. Perusahaan itu meraih sekitar US$1,6 miliar setelah penawaran saham perdana (IPO) di Hong Kong—jumlah yang juga digalang Google saat meluncurkan IPO di AS pada 2004.

Country Garden Holdings, yang didirikan pada 1992 di Guangzhou, adalah pengembang real estat terbesar di China diukur dari penjualan.

Besarnya kekayaan Yang Huiyan dari Country Garden Holdings membuat perempuan itu menjadi pusat perhatian baik di dalam China maupun di mancanegara, walau dia jarang muncul di hadapan publik dan menjaga keprivasiannya.

Salah satu sorotan terhadap Yang Huiyan adalah ketika bocoran dokumen hukum pada 2018 menunjukkan bahwa dia mendapat kewarganegaraan Siprus meski China tidak mengakui dwikewarganegaraan.

Para pengamat pasar dan bisnis di China kerap menggambarkan Yang Huiyan sebagai perempuan kreatif yang jeli melihat peluang meraup profit.

Pada Juni tahun lalu, International Hospitality Institute menempatkan dia dalam daftar orang-orang berpengaruh di dalam industri hospitality dunia.

Meski demikian, bisnis yang dijalankan Yang Huiyan mulai menunjukkan tanda-tanda melemah.

Sejak 2020 situasi pasar real estat di China mulai kewalahan, bukan hanya akibat pandemi Covid-19 melainkan juga aparat China berupaya menghentikan utang berlebih di sektor real estat.

Sejak 2020 situasi pasar real estat di China mulai kewalahan.

Akibatnya, perusahaan-perusahaan kontruksi besar kesulitan membayar utang dan terpaksa merundingkan kembali pinjaman mereka dengan para kreditur.

Krisis memburuk ketika Evergrande, perusahaan real estat yang paling banyak berutang di China, gagal membayar utang mereka pada akhir 2021 setelah berbulan-bulan mengalami masalah likuiditas.

Keadaan tersebut terus bergulir. Tahun ini, sejumlah pengembang besar lainnya, termasuk Kaisa dan Shimao Group, bernegosiasi dengan para kreditur.

Krisis tak berhenti di situ. Beberapa pekan terakhir ribuan nasabah melakukan aksi mogok membayar cicilan karena para perusahaan real estat tidak kunjung melanjutkan proyek konstruksi.

Semuanya ini membuat Country Garden, yang berhasil bertahan pada masa-masa awal pandemi, menghadapi masalah likuiditas pula hingga terpaksa menjual saham dengan harga diskon hampir 13% untuk menggalang dana.

Keadaannya memang tidak menggembirakan bagi Yang Huiyan dan industri properti secara keseluruhan di China.

Para analis ekonomi menilai krisis kali ini bukan hanya pertanda memburuknya pasar real estat China, tapi juga masa depan perekonomian terbesar kedua di dunia. – BBC/dms

About Admin SEIDE

Seide.id adalah web portal media yang menampilkan karya para jurnalis, kolumnis dan penulis senior. Redaksi Seide.id tunduk pada UU No. 40 / 1999 tentang Pers dan Kode Etik Jurnalistik (KEJ). Opini yang tersaji di Seide.id merupakan tanggung jawab masing masing penulis.