Perlu Skeptis Terhadap Kesaksian Sembuh

Kita sering mendengar orang memberi kesaksian kesembuhan penyakit dengan terapi nonmedis, doa, dan cara-cara lain yang dianggap kurang masuk akal sehat (rasional).

Seberapa besar dapat dipertanggungjawabkan pengakuan semacam itu? Apakah ditelan begitu saja, atau perlu sikap skeptis terhadap semua pengakuan dan kesaksian yang terkesan benar semacam itu?

Ibu Rus, 54 tahun, dinyatakan mengidap tumor payudara yang masih kecil setelah diperiksa dokter. Dokter memutuskan untuk dioperasi, tapi Bu Rus takut. Ia tidak kembali ke dokter, dan hanya berdoa.
Setengah tahun kemudian, iseng diperiksa ke dokter lain. Hasil mammography memperlihatkan ada kista kecil di payudara kiri, sesuai dengan dugaan tumor dokter pertama, namun sudah tidak lagi teraba. Ia sehat-sehat saja.
Ibu Rus. memercayai mengecilnya tumor payudara kirinya berkat doa. Namun dokter kedua meyakini kalau tumor Ibu Rus hanyalah sebuah kista payudara (cyst) yang memang bisa mengecil sendirinya.

Bapak Eff, 62 tahun dulu pernah iseng-iseng foto rontgen paru-paru sebelum pergi tour ke mancanegara. Hasilnya dinyatakan kanker paru-paru. Ada gambaran uang logam (coin lession) di puncak paru-paru kanannya. Pak Eff mengabaikan diagnosis itu, tidak juga mau melakukan konfirmasi atas diagnosis tersebut. Sampai sekarang Pak Eff masih hidup sehat pada umurnya yang 79 tahun. Dokter yang diminta penjelasannya, ada apa sebetulnya pada paru-paru Pak Eff, bilang kemungkinan salah membaca hasil foto.

Tuan Kus, 59 tahun terserang kelumpuhan separuh tubuh, suatu pagi. Begitu bangun tidur, sebelah tungkai dan lengannya lemah, dan tak bisa digerakkan. Dokter puskesmas yang diminta tolong mengatakan kalau itu serangan stroke, lalu dibawa ke rumah sakit.
Karena ketiadaan biaya, langsung dibawa pulang kembali, dan berencana mencari terapi alternatif. Setelah dilakukan penyembuhan (tidak jelas apa) nonmedik, keesokan harinya kelumpuhan separuh tubuh Pak Eff pulih, dan sembuh sampai sekarang. Pak Kus sekeluarga yakin itu berkat terapi alternatif, dan memberikan kesaksian ke semua teman dan sanak keluarga, kalau nanti kena stroke, berobatlah ke terapi alternatif itu.
Namun dokter ahli saraf mengatakan lain. Bahwa kaus Pak Kus itu cuma stroke ringan (transient iscaemic attack, atau TIA) yang pada siapa pun akan menyembuh sendiri dalam kurun 24 jam, diobati, atau tidak diobati.

Tidak semua fakta kesembuhan benar adanya.

Dalam keseharian kita acap mendengar kesaksian semacam itu. Awam dengan mudah menyimpulkan setiap tindakan terapi, atau penyembuhan, atau apa pun cara nonmedik adalah benar apabila memberikan kesembuhan. Tak jelas apa makna kesembuhan itu apakah berarti terbebas dari keluhan dan gejala saja, atau kesembuhan yang secara medis diakui sebagai benar sembuh dengan bukti medis (evidence based).

Ada tiga hal yang perlu dilacak ihwal menerima suatu kesembuhan dari suatu penyakit sebelum menerimanya sebagai kesaksian yang sahih di mata medik. Pertama, tentu ihwal apa benar diagnosisnya sudah tepat ditegakkan?
Pada contoh kasus Ibu Rus. di atas, yang menganggap tumor payudara yang sudah harus dioperasi, belum jelas benar apa jenis tumor payudaranya ketika memutuskan untuk tidak pergi berobat. Baru belakangan terbukti kalau itu cumalah kista belaka.

Secara medik, kista payudara memang bisa mengempis sendirinya, dengan atau tanpa obat. Maka oleh karena pasien meyakini itu berkat doa, atas dasar kekurangtahuan medik, maka disimpulkan kalau itu berkat doa.
Kalau saja sejak awal dipastikan itu suatu kista payudara, dan dokter mengatakan bisa menyembuh sendiri tanpa perlu operasi, anggapan keliru berkat doa, yang biasanya dengan bangga disampaikan kepada banyak orang, tidak perlu ada.

Oang-orang yang mendengar kesaksian Ibu Rus, yang tidak benar di mata medik itu akan beranggapan kalau tumor payudara, atau bahkan kanker apa pun bisa menyembuh hanya dengan berdoa. Dan di mata medik ini menyesatkan.

Bukan tidak ada pengaruh berdoa. Keyakinan sembuh dibutuhkan untuk setiap pasien yang mengidap penyakit apa pun. Melakukan peran sakit secara benar, dengan membangun berpikir positif, termasuk keyakinan untuk sembuh, membantu mempercepat kesembuhan.

Bahwa sudah banyak bukti medik kalau pikiran positif itu berkorelasi dengan sistem kekebalan tubuh. Sebaliknya, pikiran negatif (cemas, sedih, depresi, tak yakin bisa sembuh) justru menekan kekebalan tubuh, dan menghambat proses kesembuhan penyakit apa pun. Kesembuhan dengan berziarah, misalnya, merasa yakin Tuhan akan menolong, bentuk dukungan yang kuat untuk membantu proses menyembuh.

Namun kenyataannya, bukankah tidak semua pasien dengan penyakit apa pun, yang tergolong berat dan tak mungkin sembuh secara medis, atau pun yang ringan sekalipun, tidak selalu harus dianggap bisa disembuhkan hanya dengan berdoa semata. Keyakinan bahwa Tuhan bekerja atas diri tidak harus mengurangi keyakinan kita kalau ternyata penyakit kita tidak menyembuh hanya dengan melakukan doa terus-menerus.

Kalau begitu gampang orang beranggapan bahwa apa pun bisa disembuhkan hanya dengan berdoa, maka makna mukjizat menjadi inflasi. Semua apa pun, yang mungkin belum tentu karena hanya berdoa dan kuasa Tuhan, dianggap sebagai mukjizat. Bahwa mukjizat ada, sebagai orang beriman, tidak boleh dinafikan. Namun tidak setiap apa saja tergolong mukjizat, itu yang harus membuat kita sebagai orang beriman harus sikapi.

Makna mukjizat baru diyakini kebenarannya sebagai mukjizat, apabila secara medik sudah terbukti diagnosisnya tergolong penyakit yang belum mampu disembuhkan oleh pihak medik, dan berhasil sembuh, serta kesembuhannya dapat dibuktikan benar secara medis pula – maka itu benar kasus kuasa mukjizat.

Selain diagnosisnya sudah dibuktikan benar secara medis, apakah pengobatannya sudah dilakukan secara benar di mata medis. Karena banyak pasien yang tidak sabar selalu berpindah dokter sebelum suatu pengobatan untuk penyakit yang sebetulnya dapat disembuhkam medis, sudah tuntas dilakukan.

Semakin cepat berpindah dokter dalam berobat, semakin jauh kemungkinan menyembuh, karena terapi belum tuntas ditempuh. Dan jika atas dasar susah menyembuhnya yang gara-gara pasien sendiri kurang sabar benar sikapnya dalam berobat itu, dianggap sebagai penyakit yang tidak bisa disembuhkan oleh medis – maka yang seperti itu yang memunculkan kasus kesembuhan yang menyesatkan mereka yang mendengarnya. Bahwa berdoa saja bisa menyembuhkan. Yang sudah tekun berdoa, tidak sembuh juga banyak.

”Saya sudah berobat ke banyak dokter, tapi tidak sembuh. Setelah ke terapi alternatif anu, langsung sembuh!”

Ini ungkapan yang sering didengar, seolah-olah phak medis sudah tidak mampu menyembuhkan. Padahal penyebab belum sembuhnya lantaran pasien kurang sabar berobat saja.
Banyak jenis penyakit yang bersifat menyembuh sendiri (self limitting diseases). Diobati atau tidak diobati, akan menyembuh sendiri, seperti kasus kista payudara Ibu Rus. di atas. Begitu juga dengan kasus myom (myoma uteri), yang akan mengecil setelah menopause. Endometriosis umumnya menyembuh setelah berhasil hamil.

Kalau pasien myom berobat setelah menopause ke terapi alternatif, dan menyimpulkan mengecilnya myom-nya berkat terapi, sama menyesatkannya, seolah betapa hebat sang terapi alternatif.

Hal ketiga, harus dipastikan selain diagnosisnya benar secara medis, terapinya pun sudah ditempuh secara medis dan tuntas, keadaan tidak menyembuhnya pun harus dibuktikan secara medis. Dengan demikian baru bisa tepat disimpulkan kalau penyakit tersebut tergolong penyakit yang secara medik belum ada obatnya.

Harus diakui kalau dunia medik masih memiliki keterbatasan. Belum semua penyakit dapat disembuhkan. Ruang ini yang dimanfaatkan penyembuh nonmedik untuk memasukinya. Kalau yang berhasil disembuhkan oleh pihak nonmedik ini sesungguhnya bukan penyakit yang pihak medis sudah angkat tangan, melainkan karena pasien sendiri yang secara awam menyimpulkan bahwa penyakitnya sudah tak bisa ditolong medis (tanpa bukti medis), maka kasus demikian yang menambah subur mengajak semua pasien berobat ke terapi alternatif.

Yang gagal sembuh diterapi alternatif, logika medisnya, tentu lebih banyak dibanding yang berhasil (berhasil palsu). Mereka yang gagal disembuhkan nonmedik tentu akan diam seribu basa, karena malu. Hanya yang berhasil sembuh, yang dengan bangga akan berpromosi hebatnya suatu terapi alternatif. Padahal kesembuhannya sendiri belum tentu terbukti secara ilmiah (medik) kalau itu benar sahih berkat peranan terapi.

Promosi kesembuhan terapi alternatif yang tanpa bukti medis atau berdasar evidence base itulah yang sering menyesatkan masyarakat awam dalam bersikap terhadap pengobatan ketika sedang sakit. Lekas menyimpulkan sendiri oleh keterbatasan ilmu (gap competency) yang dimilikinya, opini awam bahwa diagnosis, terapi, dan penyakit sudah tak mungkin disembuhkan dokter itulah yang harus dikritisi.

Medis mengakui kehadiran terapi alternatif
Peran terapi alternatif di dunia bukannya tidak ada. Ada wilayah penyakit dan dunia penyembuhan (healing therapy) yang tidak memanfaatkan ilmu medis. Selama masih masuk akal medis, tentu mengapa tidak diterima sebagai sejawat dalam melakukan terapi.

Banyak gangguan kesehatan, penyimpangan dari kaidah normal faali tubuh, selain gangguan pikiran dan jiwa, yang penyebabnya dapat diatasi oleh bukan ilmu medik, namun masih bisa diterima akal medik. Banyak cabang ilmu nonmedik yang berdampingan dengan pihak medik. Namun tidak berarti semua yang dilakukan pihak nonmedik tergolong ilmu, dan masuk akal medik (pseudosciences).

Pengobat atau penyembuh yang mengaku bisa menyembuhkan herpes, AIDS, hepatitis B, dan sejenisnya, tentu harus disangsikan kebenarannya. Karena dunia medik sudah puluhan tahun mencari terapi untuk penyakit yang dulu belum bisa disembuhkan itu, tidak sederhana menemukan terapinya. Jika benar ada pihak yang memang bisa menyembuhkan, secara akal sehat saja bisa dinalar, tentu pengobat atau penyembuh alternatif yang mengaku mampu mengobati itu sudah berhak mendapatkan Hadiah Nobel Kedokteran. Nyatanya, kan tidak.

Bahwa banyak kasus orang yang menjadi pasien bukan sejatinya orang sedang sakit. Beragam keluhan dan gejala orang sekarang sering-sering lantaran gangguan jiwa. Jadi terapi atau kesembuhan yang lebih bersifat spiritualitas, sering membantu, karena memang alamat berobatnya lebih harus ke sana ketimbang minum obat belaka.

Sebaliknya, yang penyakitnya utuh fisik, seperti infeksi, kerusakan organ tubuh, mana mungkin diterapi atau disembuhkan dengan cara-cara spiritual nonmedik. Bahkan akupunktur sendiri yang sudah diterima dunia medik tak mampu membasmi kuman. Maka tidak semua penyakit bisa masuk akal mampu disembuhkan dengan akupunktur.

Orang yang jiwanya lemah, yang jatuh sakit karena jiwa yang lemahnya itu, akan tokcer disembuhkan dengan suatu healing, terapi spiritual, atau sejenis itu lainnya, bahkan dengan semburan dukun sekalipun. Karena jiwanya yang perlu dibangun kembali, dengan menambahkan keyakinan dirinya (expectant faith).

Kesembuhan lewat dukun atau paranormal, lebih melakukan peran dalam hal keyakinan sembuh (berpikiran positif). Orang kanker yang yakin akan sembuh, doa membuatnya bisa lebih bertahan dengan kankernya. Sebaliknya pasien kanker yang tidak yakin dirinya akan sembuh, harapan bertahan hidupnya lebih pendek (five years survival rate) dibanding pasien yang yakin sembuh. Di situ letak besarnya faktor keyakinan dalam diri seorang pasien, apa pun penyakit yang diidapnya. Termasuk kesembuhan dari pulang berziarah.

Salam sehat,
Dr HANDRAWAN NADESUL

Ikuti artikel kesehatan Dr Handrawan Nadesul:

Perkeliruan Dalam Berobat Lainnya