Pilihan dan Pandangan Hidup di Era Milenial

Memasuki era milenial, pilihan dan pandangan hidup mulai bergeser tempat, khususnya di daerah perkotaan. Manusia yang tinggal di kota-kota besar megapolitan, khususnya yang lahir pada era 60, 70, 80an belum terlalu tercemar oleh hiruk-pikuknya kehidupan hedonis dan euforia kebendaan yang tersaji di era kini.

Mereka ada yang masih terpaku pada ‘traditional life’ kekeluargaan yang guyub dengan berkumpulnya keluarga besar di setiap akhir pekan, bercengkerama sembari memperbincangkan tentang situasi keluarga dan rencana-rencana ke depannya.

Setelah era milenial masuk dan budaya hedonis serta kenikmatan dunia ‘gawai’ alias Handphone merajai segala lini kehidupan, maka pola-pola kehidupan tradisional itu kian terkikis. Hubungan kekerabatan melalui tatap muka, tak begitu penting lagi. Mungkin hanya segelintir orang yang mau datang ke pemakaman jika salah satu kerabatnya tiada, selebihnya cukup mengirimkan ucapan belasungkawa melalui gawai tersebut.

Para remaja kian menjadi anti sosial. Melalui Handphone dengan merek2 ternama yang dibelikan orangtuanya, mengubah ‘mindset’ mereka tentang nilai-nilai kehidupan dan budaya. Dahulu ‘ortu'(orang tua) selalu menasehati bahwa pendidikan penting, semakin tinggi pendidikan seseorang maka segala harkat dan martabat akan terpancar dari sana.

Orang-orang tua dengan tradisi dan kultur budaya era sebelum milenial menganggap pendidikan khususnya menjadi seorang guru, sangat dihormati dan dikagumi. Mereka berusaha sekuat tenaga membanting tulang agar anak2 mereka berpendidikan yang bagus.

Era milenial semuanya berubah. Meski pendidikan tinggi masih menjadi ukuran, namun semuanya sudah bukan hal yang membanggakan lagi, itu sudah biasa. Anak-anak muda khususnya dari keluarga mampu, menjadi kalah oleh keinginan putra-putri mereka dari berbagai pengaruh kehidupan milenial yang hedonis, borjuis dan kekinian.

Peran iklan, penampilan yang harus selalu stylist, fast food, operasi plastik dan segala hal yang lebih memujakan kepada bentuk fisik ragawi, lebih mendominasi. Memang tidak semua demikian, namun yang berprestasi akan terpulas oleh mereka yang lebih mementingkan ‘fashion week-fashion week-an’. Ukuran kompetisi di bidang sains nomor sekian.

Akhirnya terjadi degradisi diri dan moral. Ditakutkan, para anak muda, mulai mencari segala cara jika suplai keuangan dari ortu mulai menipis. Di kota-kota besar, mencari ‘suggar daddy’ dengan mengemas wujud fisik dapat menjadi jalan termudah untuk mendapuk pemenuhan terhadap kenikmatan hidup hedonis.

Perkembangan anomali kepribadian kian menggiring mereka ke pementingan ‘materialsm’ bukan kepuasan rohaniah kejiwaan. Mereka semakin tercerabut dari kehidupan masa muda mereka sendiri. Maka tak jarang seiring berjalannya waktu, baik si cowok atau cewek, lebih nyaman menjadi peliharaan ‘suggar daddy atau suggar mommy’ secara berkesinambungan. Fisik telah dijadikan asset yang berdayajualbeli.

Dan pada akhirnya, anomali perilaku telah menjadi biasa. Pendidikan telah dikalahkan oleh imbas kehidupan milenial yang menuntut prestise, pola dan gaya hidup serta tampilan luar yang akan terlihat berkelas jika seluruh tubuh ditempeli oleh produk-produk disainer berkelas dunia. Bahkan bagi mereka kaum berpunya pun bayi mereka yang baru lahir mulai dari pakaian dan sepatu, telah digelanduti oleh brand atau merek produk ternama.

Yah, pada akhirnya arah dan jalan kehidupan seseorang ditentukan oleh cara pandang mereka sendiri tentang keberadaan mereka di dunia ini. Tidak di kota atau di desa, kehidupan milenial tak dapat dipungkiri telah merangsek masuk dan mengubah sistem kehidupan mereka. Tinggal bagaimana para kaum penjaga tradisi memberikan benteng dan nasihat yang positif untuk generasi selanjutnya. Khususnya tentang nilai2 tradisi, agama dan memelihara kearifan lokal dengan baik. Ngeri bila kehidupan individual dengan mengusung egoisitas milenial kekinian kian menguasai segenap norma-norma perlaku dan kehidupan ini, sebab jika tetangga sebelah meninggal dunia dan kita tidak tahu kalau dia sudah tiada, betapa kian absurdnya hidup ini.

Demikan.

Tabek, mari merangkai kata, salam sehat selalu

(Fanny Jonathan Poyk)

Cerpen : Permainan Dadu

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis