Politik Perlu Mendengar Penyair

Seide.id – Sejawat Dr Erfen Gustiawan Suwangto beberapa hari lalu mengirim posting di akun media sosial saya kutipan Jonas Mekas di bawah ini. Bahwa pada akhirnya kebudayaan akan binasa apabila kita memerhatikan politisi, bukan memerhatikan penyair. Saya kira fakta ini masih relevan dengan kondisi perpolitikan kita sekarang.

Seburuk-buruk politik, eloknya tetap menghormati keberadaban. Adab berpikir dan bersikap, tidak menganggap sah-sah saja untuk keputusan yang melukai hati pihak lain. Terlebih bagi kita bangsa berbudaya, berkebudayaan. Adab di atas segalanya.

Mengapa penyair dinilai perlu didengar, lebih dari itu, perlu diperhatikan, oleh karena seburuk-buruk penyair, kerja berpikir penyair selevel pujangga. Dulu penyair didudukkan sebagai penasihat raja. Bahwa penyair itu punya pendirian menjunjung tinggi kebenaran, kebenaran bagi setiap orang, di segala tempat, setiap waktu.

Sebagai penjunjung kebenaran, penyair peka untuk berempati, dan tajam menilai buah pikiran, dan terhadap sikap yang serong, termasuk yang kurang adab di mata publik dan masyarakat.

Ketika politik tidak berbudaya, dan politisi kurang adab, suara penyair menjadi pandu. Sejatinya itu bagian dari peran penyair di suatu bangsa, di sebuah negara.

Penyair perlu didengar, lebih dari ketajaman opini pengamat politik. Hanya bila pengamat politik memiliki kepekaan menangkap, dan menguasai kebenaran universal, selayaknya yang dikuasai penyair, pendapatnya mendekati rasa kemanusiaan.

Saya kira tidak berlebihan untuk menyatakan, ketika politik dan politisi menyimpang, penyair meluruskan.

Salam berpolitik yang beradab,
HANDRAWAN NADESUL

Pintar Tapi Tidak Baik