Seide.id -Pop, dicomot dari kata: popular. Secara harafiah berarti: terkenal. Tapi, pop sudah ‘terlanjur’ dianggap menjadi sesuatu yang ,…wah, apa ya?… bukan sesuatu yang tak bermutu atau rendah sih. Cuma saja dianggap suatu karya…receh, murah, gampang diingat (padahal gampang diingat ini adalah salah-satu ‘persyaratan’ yang bagus), tapi sekaligus mudah dilupakan.
Maka, kemudian kita kerap mendengar istilah: budaya pop, musik pop, novel pop, sastra pop bahkan lollypop, ayam pop dan popcorn. Tapi popcorn bukan berarti jagung populer. Kata pop, pada popcorn adalah bunyi ketika jagung dipanggang. Suara ‘letusan’ ketika butir jagung dipanggang itu -entah kenapa- di telinga orang bule mungkin terdengar berbunyi:…pop! Kita atau orang jadul seperti aku menyebutnya: jagung tembak (?).
Karya-pun, rasa-rasanya ada sebagian orang menganggap terlalu tinggi’ untuk disematkan di depan pop. Seolah-olah kata karya itu hanya pantas disematkan kepada sesuatu yang lebih (entah apanya yang lebih) daripada sekadar pop.
Karya itu sesungguhnya secara harafiah, artinya yaa…kerja. Tapi ‘karya’ seolah-olah lebih bermutu daripada hasil kerja. Lucunya lagi, jika merujuk kepada kata karya yang berarti kerja, bukankan berarti kata karya itu adalah kata kerja. Tapi, kata karya -entah kenapa- bisa (di)terpaksa berubah menjadi kata benda. Contohnya dalam sebuah pameran lukisan atau di tengah konser ada pertanyaan: “Inikah karyamu?”. Karya dalam kalimat tanya itu adalah kata benda, bukan kata kerja.
Novel pop juga begitu. Kita kerap mendengar ungkapan pengakuan dari seniman, yang terdengar seolah-olah merendah: “Ah, karyaku yang ini, hanya karya pop saja”. Ini sesungguhnya semacam execuse, bahwa karya yang ‘lain’ dari sang seniman adalah karya yang ‘lebih bermutu’. Bahkan jika kita ditanya, apa perbedaan karya pop dibanding dengan karya ‘bukan pop’, maka kita bingung menjawabnya. Apalagi mendevinisikannya.
Pada pertengahan tahun ’80an, di dunia musik ada istilah (yang menurutku lucu dan agak mengada-ada) yaitu “pop kreatif”. Seolah-olah, karya pop di luar istilah pop kreatif itu adalah pop yang tidak kreatif. Padahal setiap seniman menciptakan karya apa pun, tentu membutuhkan kreatifitas, bukan? Karena kata kreatif kita pungut dari kata (to)create yg artinya mencipta(kan) sesuatu.
Aku pernah menonton suatu tayangan tentang hipnotis. Nama tayangannya kalau tak salah: “Hypnotis on the street” atau semacam itu. Sebetulnya aku tak terlalu hirau (karena aku tak sepenuhnya percaya dan agak tak peduli) dengan sesuatu yang berbau hipnotis, sulapan atau sejenisnya. Meski ada istilah medis: hipnoterapi (terapi menggunakan hipnotis?). Tapi karena pembawa acara itu konon adalah salah-seorang pakar hipnotis terkenal, maka aku penasaran. Apalagi sang ahli hipnotis melakukannya di berbagai tempat, suasana dan kesempatan secara live, maka,… mungkin, sekali lagi mungkin.. keahliannya adalah keahlian sungguhan, bukan rekayasa pertunjukan.
Sang ahli hipnotis mendatangi sebuah cafe tempat remaja nongkrong. Cafe itu sangat kental bersuasana musik rock. Dihampirinya beberapa anak muda yang sedang cekakakan bersenda. Setelah permisi dan berbasa-basi dan diperbolehkan nimbrung, lalu sang ahli hinotis mengutarakan maksudnya. “Siapa yg bersedia saya hipnotis!” Hampir semua spontan mengangkat tangan. Sang ahli hipnotis lalu memilih pemuda yang menurutnya secara penampilan ‘paling rock’.
Terjadilah dialog.
“Kamu suka musik tentu”
“Jelaass”
“Rock?”
“Hlaaah, kok masih nanya,…tidak jelaskah ini cafe apa?”.
Teman-teman sang pemuda tertawa. Lalu sang ahli hipnotis melanjutkan. “Kamu pasti tak suka musik pop. Sang pemuda menatap sang ahli hipnotis lekat-lekay, lalu berkata: “Well, bukan cuma tak suka..bagiku,..musik pop itu..”
“Ya, ya,…saya mengerti”, kata sang ahli hipnotis, lalu dia melanjutkan.
“Ee,…siapa musisi pop yg paling tidak anda sukai?!”
“Barry Manilow”, hahaha.., “kata teman-temannya memotong, serempak dan sambil cengengesan.
“Betulkah?”
“They are absolutely right!”.
“Oke, oke, baiklah, permisi ya”
Lalu, pemuda itu diusap wajahnya. “Tidurlah barang sejenak”.
Pemuda itu pun memejamkan mata, tapi tetap duduk tegak, tak berbaring. Sejenak kemudian…
“Kamu,…sepertinya ingin menyanyi?” “Yak!”
“So,…band,…mari kita beri intro untuk sang penyayi rock.”
Tapi home band (istilah band tetap untuk sebuah kafe) memainkan intro lagu Barry Manilow yg berjudul: “Can’t smile without you”.
Proteskah sang pemuda? Boro-boro. Dia malah menyanyikan lagu itu dengan penuh syahdu dan oenuh penghayatan. Sang ahli hipnotis merekamnya. Teman-temannya, tertegun sejenak. Lalu meledak tertawa terbahak-bahak sampai tertunduk-tunduk, bahkan terguling-guling. Sang pemuda membawakan lagu Can’t smile without you, sampai selesai.
Setelah selesai menyanyi, sang ahli hipnotis kembali mengusap wajah sang pemuda. “Kamu tadi menyanyi dengan penuh penghayatan”
“Oh ya!”
Teman-temannya menatap sang pemuda terheran-heran bahkan masih ada yang tertawa.
“Lagu apa yang aku nyanyikan?”
“Can’t smile without you” – Barry Manilow.
“No waaayyy!”
“Ini rekamannya”
Temannya, tertawa-tawa sambil bergaya seolah-olah Barry sedang bernyanyi. Sang pemuda clingak-clinguk kebingungan.
Ini, mengingatkan aku pada kisah lucu yang sungguh-sungguh terjadi di antara aku dan temanku.
Temanku ini bertubuh agak gempal, berwajah lumayan tampan dan agak pendiam. Tapi jika sudah (menurut istilahnya sendiri) ‘ngulik’ melodi lagu-lagu rock,…wuiiih, dia bisa seperti tenggelam dengan asyik. Yak selera musiknya memang rock. Dan dia agak under estimate terhadap musik pop. Terutama Lionel Ritchie, yang diistilahkannya: “menye-menye”.
Suatu ketika, dia mendengarkan lagu melalui head-set. Karena mutu head-set ala-kadar, maka suara tembus, bocor ke luar. Aku bisa mendengarkan. “Wuiiih,…asyiiik…I’am easssyyy, easy like sunday morniiing… kataku bersenandung pelan mengikuti lagu itu.
“Eh,…elo tauk itu lagu siapa?”
“Yaa jelas Faith Nomore-laah,…asyik ya”
“Maksud gw,…elo tauk gak, itu aslinya lagu siapa?”
“Yaa,…Faith Nomore-laaah, emang lagu siapa?!”
“Aslinya, itu lagu penyanyi yang elo sebut:…menye-menye”
“Haah,Lionel Ritchie?, gak mungkiinn”.
Lalu, aku googling, mencari di Youtube, menunjukkan kepada temanku itu.
Dia nyengir kuda, malu. Wajahnya langsung mejikuhibiniu seperti pelangi. Ada yang tahu ‘mejikuhibiniu’?
Yak betuul ..merah -jingga kuning-hijau-biru-nila-ungu…
(Aries Tanjung)






