Porang Jokowi setelah Meresmikan Dungus Forest Park di Madiun

Porang Jokowi

Presiden Joko Widodo meninjau pabrik pengolahan porang di Kabupaten Madiun

Oleh RAHAYU SANTOSO

Seide.id – Dalam 5 tahun terakhir ini, Presiden Jokowi sudah dua kali berkunjung ke Kabupaten Madiun. Pertama 6 Nopember 2017 untuk meninjau upaya penghijauan lereng Gunung Wilis yang dilakukan oleh Herutomo dari LSM Abimantrana, yang akrab dipanggil Mbah Heru, bersama Agus Purwantu Ketua Kelompok Tani Hutan Ngadi Waluyo, sekaligus meresmikan Dungus Forest Park.

Mbah Herutomo (alm) berfoto dengan fotografer seniorDon Hasman yang mengapresiasi Dungus Forest Park

Yang kedua Kamis, 19 Agustus lalu Presiden Jokowi menyaksikan vaksinasi siswa di SMPN 3 Mejayan dan mengunjungi pabrik pengolahan porang milik PT Asia Prima Konjac. Pengolahan Porang  di Asia Prima ini bisa memberikan nilai tambah yang baik. ‘’Utamanya kepada petani” katanya. Apalagi Kabupaten Madiun sebagai pilot project peningkatan produksi dan budidaya komoditas porang. Sementara pengembangan porang di Kabupaten Madiun sendiri telah mencapai 5.263 ha pada 2020.

Jokowi menanyakan hasil porang setiap hektarnya. Di mana 1 hektar bisa menghasilkan 15 hingga 20 ton selama 8 bulan dengan hasil Rp40 juta. Hasil ini tentu membuat petani semakin terangsang menanam porang.

“Ini sebuah nilai yang sangat besar. Pasarnya juga masih terbuka lebar. Dan kita tahu porang ini akan menjadi makanan masa depan karena low calorie, low carbon, dan juga rendah kadar gula, bebas kadar gula. Saya kira ini menjadi makanan sehat ke depan,” tuturnya.

Umbi porang

Karena itulah  di masa mendatang Porang bisa menjadi pengganti beras yang lebih sehat karena kadar gulanya rendah. ‘’Saya minta Menteri Pertanian agar komoditas baru seperti porang diseriusi pengembangannya.’’ Tegasnya.

Jokowi berharap, kita tidak mengekspor porang dalam bentuk mentahan. Tapi sudah diolah menjadi tepung. ‘’Dan kita harapkan barang jadi yakni menjadi beras porang,” pungkasnya.

Satu Dasawarsa

Sebenarnya porang sudah dibudidayakan sejak lama, paling tidak sudah satu dasawarsa  lalu. Adalah Dahlan Iskan, mantan menteri BUMN pemerintahan  SBY selalu menganjurkan agar petani juga menanam porang. Petani  porang kini merambah ke mana-mana. Pun sampai ke Riau. Juga Sumbawa. Tidak lagi hanya di Jateng dan Jatim. 

Di Gunung Kidul merajalela. Di Ponorogo demikian juga. Pantura seperti Tegal dan Batang. ‘’Tujuh tahun lalu, ketika saya ke Purwodadi dan Blora, masih sulit meyakinkan petani untuk menanam porang,’’  tulis Dahlan Iskan di Disway.

Presiden Joko Widodo dan istilah Porang Jokowi yang kini menjadi idiom populer

Yang jelas Indonesia masih impor glucomanan. Sampai sekarang masih impor.Glucomanan atau conjak, bahan bakunya harus dari porang. Saat itu kita hanya bisa ekspor porang dalam bentuk umbi. Belakangan mulai berdiri beberapa pabrik tepung porang. Tepung itu mereka ekspor. Lumayan. Maju selangkah. ‘’Tepung porang itulah yang jadi bahan baku pabrik glucomanan di luar negeri,’’ katanya.

Begitu banyak makanan yang tergantung pada glucomanan. Kue atau minuman jelly pasti impor glucomanan. Makanan yang memerlukan kekenyalan pasti mengandung glucomanan Tidak banyak komoditas pertanian yang bisa memberikan imbal hasil sebaik porang. Tebu pasti kalah. Apalagi padi. Jagung. Kedelai.

Program penanaman porang di hutan sosial Dungus Forest Park sebagai upaya melepaskan generasi petani hutan dari kemiskinan

Sejak satu tahun yang lalu, Mbah Heru (alm) yang mengelola Dungus Forest Park, bersama Agus Purwanto, sudah menyiapkan lahan hutan sosial yang akan diberdayakan kelompok petani hutan sosial untuk ditanami porang.

“Saya dan Mbah Heru yang sejak tahun 2004 berupaya mendorong ekonomi masyarakat petani hutan, setahun terakhir sudah mengajak kelompok tani menyiapkan lahan hutan sosial dan menyusun program menanam porang. Bahkan dua bulan lalu kami sudah membuat proposal untuk kami ajukan ke pihak-pihak yang mungkin berkenan membantu. Tapi, dua minggu yang lalu, Mbah Heru terpapar Covid-19 dan wafat. Tidak hanya saya, tapi masyarakat petani hutan sosial sangat kehilangan tokoh panutan dan pengayom. Tokoh sepuh yang sejak 17 tahun mencurahkan waktu, moril dan materiil, yang mendampingi dan memotivasi kami,” kata Pak Agus Purwanto perlahan.

Porang, bagi masyarakat petani hutan sosial, adalah harapan yang bisa melepaskan mereka dari kemiskinan. *

Avatar photo

About Rahayu Santoso

Penulis, editor, studi di Akademi Wartawan Surabaya, tinggal di Madiun