Promising Young Woman, Proyek Spesial Bernama Dendam

Debut aktris Inggris Emerald Fennell, pemeran Camilla Parker Bowes muda dalam serial The Crown , ini sungguh promising. Masuk nomine Oscar 2021.

Oleh AYU SULISTYOWATI

APA yang terpikir saat ingat orang-orang yang pernah menyakiti, mengkhianati, mengzolimi bahkan menghancurkan hidup kita? Mendoakan mereka baik-baik saja? Mengutuk mereka agar hidupnya sengsara? Atau merencanakan sebuah pembalasan yang setimpal? Cassandra, alias Cassie memilih yang terakhir.

Cassie, perempuan 30 tahun yang luar biasa manis itu menghabiskan malam-malamnya untuk menyatroni serta membikin kapok orang-orang yang pernah membuatnya murka. Orang-orang yang ia anggap telah menghancurkan hidupnya. Cassie bahkan punya sebuah buku catatan yang berisi daftar oknum yang sudah dan harus ia satroni.

Dengan caranya sendiri, Cassie akan mengelabui targetnya, serta mengingatkan sebuah peristiwa menyakitkan di masa lalu, di mana si orang ini terlibat. Setelah memastikan orang tadi menyesali perbuatannya, Cassie pun pulang, lalu mencatat target berikutnya. Dan begitulah seterusnya.

Kegiatan ‘esktra kurikuler’ ini jelas dipertanyakan oleh orangtuanya, karena setahu mereka siang harinya Cassie bekerja sebagai waitress di sebuah kedai kopi kecil. Pulang larut malam atau bahkan kadang dini hari jelas kegiatan yang mencurigakan, apalagi Cassie tak punya pacar.

Susan, sang ibu terang-terangan gemas pada putri tunggalnya itu. Setiap kali makan bersama, Susan selalu menanyakan kenapa Cassie seolah tampak santai hanya bekerja sebagai waitress, tanpa pacar, tanpa masa depan, ia bahkan juga tak pernah tampak kecewa drop out di tengah-tengah kuliah kedokterannya. Puncaknya Susan dan Stanley, sang ayah memberinya ‘kejutan’ di hari ulangtahunnya yang ke-30: sebuah kado, berupa koper travelling warna baby pink.

“Sudah jelas mereka ingin mendepakmu,” komen Gail, sang bos, perempuan kulit hitam yang menganggap Cassie lebih dari sekedar pegawai. Gail bahkan mengatakan kalau manajemen tak keberatan memberikan posisi yang lebih baik bagi Cassie di kota lain. Tapi Cassie menolak. Cassie sudah punya rencana sendiri untuk hidupnya, dan tak ada seorang pun yang tahu apa yang ada di benaknya.

Di saat yang sama Ryan, seorang mantan teman kuliahnya muncul di kedai kopi. Melihat Cassie, Ryan yang kini berprofesi sebagai dokter bedah anak mengajaknya berkencan. Awalnya Cassie ragu, tapi Ryan datang lagi minggu depannya. Mereka pun mulai berkencan.

Saat berkencan, Ryan menanyakan apakah Cassie masih ingat dengan teman lama mereka, Madison. Malah Ryan ingat kalau dulu Cassie dan Maddy dekat dengan mahasiswi lain yang ia lupa namanya. Percakapan soal teman lama ini juga menyinggung nama teman lama lain: Al Monroe, yang kabarnya kini telah jadi dokter sukses dan segera akan menikahi model pakaian renang.

Malamnya Cassie gelisah, ia mencari Al di sosial media. Dan benar apa yang diceritakan Ryan tadi, Al Monroe akan segera menikah. Sampai di sini tentu kita bertanya-tanya siapa sih Al ini, dan apa dosa terbesarnya. Keesokannya Cassie memutuskan bertemu Madison di sebuah hotel. Tentu saja, Cassie menanyakan apakah Madison ingat sahabatnya, Nina, mahasiswi naas yang dilecehkan banyak orang saat mabuk dulu. Tapi Madison justru bilang Ninalah yang salah, kenapa ia mabuk berat sehingga dilecehkan. Reuni dua kawan lama ini berakhir dengan mabuknya Madison. Keesokannya Madison mencoba mengontak Cassie, menanyakan apakah kemarin ia baik-baik saja di kamar hotel, lantaran ia curiga kok seperti ada pegawai hotel laki-laki yang menemaninya di kamar. Tapi Cassie menjawab kalau si ‘pegawai’ itu hanya menungguinya lantaran kelewat mabuk.

Sementara itu hadirnya Ryan ternyata membuat Cassie benar-benar jatuh hati. Meski sempat diselingi insiden di mana Cassie nyaris tertangkap basah akan mengerjai targetnya oleh, namun setelah minta maaf keduanya tak terpisahkan. Ia bahkan membawa Ryan ke rumah untuk makan malam bersama kedua orangtuanya.

Tentu saja Ryan tak tahu kalau Cassie menemui pengacara Al Monroe yang ternyata stres setelah tahu mahasiswa yang pernah dibelanya itu sengaja atau tidak telah memporak porandakan hidup sahabat Cassie sejak kecil, Nina Fisher. Tak di sangka, sang pengacara mengakui kesalahannya bahkan bersedia membantu Cassie.

Sepulang dari situ, Cassie mengunjungi ibu Nina yang semula menyambutnya dengan hangat. Namun melihat Cassie yang seolah tak pernah beranjak dari peristiwa bunuh dirinya Nina tujuh tahun silam, ibu Nina malah menasehatinya agar move on.

Di kala Cassie mulai tenang dengan Ryan dan berniat menutup buku masa lalunya, Madison mendadak muncul di rumahnya.

Untuk kesekian kalinya, Madison menanyakan apa yang telah terjadi padanya di hotel setelah mabuk hari itu. Tapi Cassie dengan tenang mengatakan tak ada apa-apa. Sebelum pulang, Madison mengingatkan agar Cassie tak perlu menghubunginya lagi dan meninggalkan HP lamanya yang berisi adegan pelecehan Nina!

Orang pertama yang didatangi Cassie adalah Ryan. Ia mengkonfrontasi kakasihnya yang ternyata ada dalam video tadi, meski hanya kebagian ‘adegan tertawa’. Ia lantas memaksa Ryan membocorkan di mana lokasi rahasia Al dan teman-temannya akan menghabiskan pesta bujangan mereka. Lalu Cassie pun datang untuk ‘menghabisi’ target utamanya: si begundal Al Monroe.

About Ayu Sulistyowati

Mantan Senior Editor di Catchplay, Penulis Lepas Rumah Beruang Production, Penulis Naskah Lepas di Paso Film Centre, Editor Majalah Prodo, Editor In Chief kemana.com, Sekretaris di Bloomberg, Reporter di cewekbanget.id (1995-1997)