Relasi Kuasa dan Pelecehan Seks

Aktris dan aktivis Cinta Laura Kiehl dan Hannah Al Rasyid. Fakta fakta membuktikan perkosaan tidak terkait dengan pakaian dan melainkan pada relasi kuasa.  Yang berkuasa kepada yang dikuasai, yang kuat pada yang lemah. Powerful to powerless. Foto Instagram

Oleh Dimas Supriyanto

SELAMA bertahun tahun para pendakwah agama selalu berkata, tutuplah auratmu, kenakan jilbabmu, berpakaianlah yang sopan, karena itu menghindarkan kamu dari perkosaan dan pelecehan laki laki. Nasehat itu sangat logis, masuk akal, tapi ternyata tidak sepenuhnya benar. Bahkan terbukti tidak benar. Sungguh ironi: masuk akal belum tentu benar.

Kasus Pondok Pesantren Madani di Bandung dan daerah lain, dimana ustadz, guru, agama, dan guru sekolah umum yang melecehkan dan memperkosa belasan santri dan muridnya menjadi kenyataan tak terbantahkan. Pelakunya berilmu, beragama dan korbannya berjilbab, selalu tertutup auratnya.

Di pesantren, lembaga pendidikan agama dan sekolah negeri, tempat pendidikan dan orang terdidik mengajar, berlangsung kejadian itu.

Seorang ustadz sangat berkuasa di mata santriwatinya, seorang staf sangat lemah di mata direkturnya, seorang suster di bawah kekuasaan dokter, pramugari patuh pada pilot dan seterusnya. Anak perempuan di bawah asuhan ayah, ayah tiri, paman dan kakaknya, pegawai di bawah kendali boss. Di sanalah awal mula kesempatan dan tindak pelecehan dan perkosaan.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan,  Nadiem Makarim menjelaskan investigasi yang dilakukannya, yaitu ada 77% kasus pelecehan seksual di kampus. Angka itu membuat Nadiem Makarim bertekad memberantas kasus pelecehan seksual di dunia pendidikan.

Dalam wawancara podcast dengan Deddy Corbuizer, model dan artis film Cinta Laura Kiehl membawa data yang menunjukkan bahwa pakaian wanita tidak ada hubungannya dengan pelecehan seksual.

“Di dalam Al-Qur’an pun tertulis ‘tundukkan pandanganmu’. Itu artinya kontrol ada di diri sendiri,” kata Cinta Laura.

Pesohor ganteng yang jalan bareng pesohor cantik saling menyukai jatuh cinta dengan yang lain. Masuk akal, tapi bisa tidak benar. Yang ganteng gay, yang perempuan lesbian atau simpanan pejabat. Tampilan bisa menipu. Kamera tidak mengisahkan di baliknya.

Fakta fakta membuktikan perkosaan tidak terkait dengan pakaian dan kesempatan, melainkan pada relasi kuasa.  Yang berkuasa kepada yang dikuasai, yang kuat pada yang lemah. Powerful to powerless.

Mengutip survei dan berita yang berkembang, korban-korban pelecehan seksual di ruang publik bukanlah mereka yang mengenakan baju terbuka. Pengakuan korban yang dikuatkan hasil survei terbaru mematahkan anggapan itu.

Hannah Al-Rashid, artis model film di Indonesia, mengaku menjadi penyintas pelecehan seksual di ruang publik. Dia mengaku pernah mengalami beberapa kali pelecehan seksual di ruang publik, mulai di alun-alun, institusi pendidikan, tempat kerja, hingga transportasi umum.

“Sebagai perempuan, saya merasa tidak sendiri yang pernah mengalami pelecehan seksual di setiap ruang publik, katanya kepada BBC Indonesia.

Saat jalan kaki untuk pulang ke rumah, dua orang lelaki naik motor, meraba tubuhnya dan langsung pergi. Dia mengaku syok saat itu. “Saking syoknya, saya tidak melakukan apapun. Bahkan pelaku bisa memutar balik kepalanya dan tersenyum sinis kepada saya. Saya marah banget. Tapi saya tidak bisa melakukan apapun” katanya.

Ketika kedua kalinya saya dilecehkan, secara insting saya langsung lari, mengejarnya, dan berteriak.  Kebetulan, di salah-satu ruas jalan, ada petugas pos jaga. Mereka sedang bermain catur.  Saya dalam keadaan emosi, menangis. Mereka lalu bertanya apa yang terjadi.  Saat mengadu dia dilecehkan, mereka menyebut “itu biasa”

Hannah mengaku trauma sampai kini dan dia lantang berkuasa untuk isu ini. “Saya membawa trauma setiap hari, “ katanya.

“Itu semua bisa dibantah dengan hasil survei ini yang jelas menunjukkan bahwa perempuan bercadar pun sering dilecehkan, bahkan pada siang hari,” kata Rastra Yasland, tim pengada survei, (nomor tiga dari kanan) dalam jumpa pers di Jakarta, baru baru ini.

Dalam temuan survei, mayoritas korban pelecehan seksual di ruang publik tidak mengenakan baju terbuka, melainkan memakai celana atau rok panjang (18%), hijab (17%) dan baju lengan panjang (16%).

Hasil survei juga menunjukkan waktu korban mengalami pelecehan mayoritas terjadi pada siang hari (35%) dan sore hari (25%).

“Ternyata banyak mitos yang keliru!” kata Rastra Yasland, tim pengada survei di Jakarta, Rabu (17/07), saat mengumumkan hasil survei yang dilakukan koalisi sejumlah LSM terhadap 62.000 orang warga Indonesia secara nasional pada akhir 2018.

Dalam survei disebutkan mayoritas korban mengaku mengalami pelecehan secara verbal seperti komentar atas tubuh (60%), fisik seperti disentuh (24%) dan visual seperti main mata (15%).

Di bagian lain survei, terungkap pula bahwa pelecehan seksual tidak selalu dialami perempuan, namun juga laki-laki.  “Karena itu isu mengenai pelecehan seksual di ruang publik ini tidak hanya menjadi kepedulian perempuan, tapi juga laki-laki,” kata Rika.

Kesimpulan survei juga menunjukkan bahwa satu dari dua korban yang mengalami pelecehan seksual saat masih di bawah umur.

Selain itu, temuan penting dari survei ini adalah reaksi para saksi (bystander) saat terjadi pelecehan seksual di ruang publik.

Terungkap bahwa korban mengaku banyak saksi yang mengabaikan (40%) dan bahkan menyalahkan korban (8%) ketika pelecehan terjadi.

Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin, mengatakan survei pelecehan seksual di ruang publik ini “sangat detil” untuk mengkategorisasi bentuk-bentuk pelecehan seksual, sehingga masyarakat bisa melihat pola pelakunya.

Tentang hasil survei yang menyebut pengguna hijab pun rentan menjadi korban pelecehan seksual, Mariana menganalisa, hal itu bisa terjadi karena saat ini di ruang publik sudah banyak orang berjilbab atau mengenakan celana atau rok panjang.

“Jadi problemnya, ketika Anda perempuan, maka Anda bisa mengalami pelecehan seksual dengan pakaian apa pun yang Anda gunakan,” kata Komisioner Komnas Perempuan, Mariana Amiruddin.

Adapun tentang waktu siang atau sore hari disebut banyak terjadi pelecehan seksual terhadap perempuan, menurut Mariana, karena pada waktu itu banyak perempuan yang keluar ke ruang publik.

“Sehingga merekalah yang mengalami pelecehan seksual. Jadi, tidak ada urusan dengan jam malam atau pakai rok mini,” tegasnya.

“Tidak ada orang pakai rok mini di ruang publik, semua mengenakan pakaian kerja,” tambah Mariana. ***

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.