Rencana Pembangunan Ambon New Port (ANP)

Rencana pembangunan Ambon New Port (ANP) dan Lumbung Ikan Nasional (LIN) mengalami hambatan yang kemudian disusul dengan pernyataan sikap delapan wakil rakyat asal Maluku agar pembangunan ANP dan LIN dapat terus dijalankan pemerintah pusat.

Dari berbagai alasan berbagai pihak yang ada terkait penundaan pembangunan ANP dan LIN, dapat disimpulkan menyusul keinginan Presiden Jokowi mengajak negara Jepang untuk berinvestasi dalam pembangunan ANP dan LIN, jelas bahwa rencana terkendala pada kemampuan pemerintah dalam pembiayaan pembangunan ANP dan LIN.

Mengingat negara Indonesia sebagai pengekspor ikan nomor tiga terbesar dunia setelah China dan India, serta potensi kawasan Maluku baik secara geostrategis dunia dan sumber daya alam besar. Maka tentunya penundaan pelaksanaan ANP dan LIN adalah baik diteruskan dilaksanakan hingga dapat mengurangi permasalahan pembiayaan pembangunan maupun pada skala prioritasnya.

Kawasan Maluku yang merupakan kepulauan tentunya, memiliki kendala pada distribusi hasil ikan tangkapan yang tentu perlu keberadaan Cold Storage di berbagai tempat. Dan tentu saja ini mengurangi Multiflier Effect, akibat dari munculnya besarnya biaya pengoperasian Cold Storage tersebut sebagai tempat penyimpanan ikan tangkapan.

Kawasan Maluku menduduki posisi kelima terbesar penghasil ikan tangkapan nasional setelah Lamongan, Banyuwangi, Cilacap, dan Sulawesi Selatan.

Sedangkan untuk dunia sebagaimana disebutkan adalah negara China pengekspor Ikan terbesar dunia, yaitu memasok sepertiga kebutuhan ikan dunia, India 6% dan Indonesia 3%.

Adalah menarik bahwa negara China dengan garis pantai tidak seluas India dan Indonesia, namun mampu memasok sepertiga kebutuhan ikan dunia. Maka perlulah dipelajari bagaimana strategi negara China dalam memasok kebutuhan ikan.

Perlu diketahui bahwa negara China sudah bertahun-tahun mendorong produksi budidaya ikan, yaitu pendekatan Akuakultur. Dengan membuat tambak-tambak raksasa penghasil ikan untuk memenuhi permintaan dunia.

Dengan pendekatan ini terbukti efektif dan efesien dalam meningkatkan produksi ikan secara berkelanjutan, dengan perkiraan tahunan telah mencapai 58 juta metrik ton serta menyerap sekitar 14 juta tenaga kerjanya.

Dengan penundaan pelaksanaan pembangunan ANP dan LIN, yang tentu mengecewakan harapan masyarakat Maluku. Rasanya menjadi baik untuk merubah pola strategi dalam pengembangan wilayah kawasan Maluku dengan melakukan budidaya penghasil ikan melalui tambak-tambak ikan, yang nantinya bisa menjadi sumber pendukung bagi terlaksananya pembangunan ANP dan LIN yang lebih menguntungkan lagi. Karena selain sebagai nelayan tangkap ikan, masyarakat Maluku memiliki keahlian lain sebagai petani ikan dengan tambak-tambak yang modern.

Dalam hal pengembangan Akuakultur sebagaimana dilakukan oleh negara China, berbeda jauh dengan sebagaimana kita kenal tambak-tambak ikan tradisional yang ada selama ini, dimana hasil produksi ikannya masih jauh dari maksimal jika dibandingkan dengan model akuakultur modern.

Hal ini yang perlu pemerintah pusat membangun model akuakultur modern, dengan memanfaatkan kawasan Maluku yang berbentuk kepulauan dimana wilayah lahan tersebar. Modifikasi bentuk dari tambak modern yang tepat guna jelas perlu dilakukan sesuai dengan kondisi kawasan Maluku.

Mengingat juga bahwa model Tangkap Ikan selama ini yang dilakukan masih rendah tingkat produksinya, karena untuk menaikkan jumlah produksi ikan diperlukan armada kapal nelayan yang tentu tidak murah pembuatannya. Bisa terlihat dari jumlah produksi ikan di India dan Indonesia dibanding produksi akuakultur negara China.

Sedangkan untuk membangun armada TNI-AL saja Indonesia masih memerlukan banyak kapal pertahanan sehingga oleh karena mahal dalam pembiayaan diganti dengan sistem pertahanan rudal darat ke laut untuk menutupi kurangnya jumlah armada laut TNI-AL.

Maka membangun kawasan Maluku sebagai kawasan Akuakultur Modern dapat menjadi solusi yang patut dipertimbangkan dengan kemampuan pembiayaan yang ada sambil terus melakukan upaya untuk mewujudkan berdirinya ANP dan LIN sebagaimana strategi kedepan dalam membangun kawasan perairan Maluku yang penting dari sisi Geopolitik, Geoekonomi dan Geostrategis dimana Indonesia adalah kawasan Poros Maritim Dunia.

Penulis : Jeannie Latumahina
Ketua Relawan Perempuan dan Anak Perindo

About jeannie latumahina

Ketua Relawan Perempuan dan Anak Perindo