Rubah

Anakku yang sedang merintis karir di dunia pertelevisian, sedang dirolling dari reporter ke feature. Kami kerap ngobrol.

Setiap pulang kerja selalu aku songsong dan aku berondong dengan obrolan dan berbagai pertanyaan. Kerap aku banding-bandingkan dengan pekerjaanku dulu. Meski aku di media cetak dan bukan jurnalis. Aku dulu di bagian produksi, yang lebih banyak bersinggungan dengan perwajahan atau tata-letak (anak milenial mengenalnya dengan grafis) dan dunia ilustrasi.

Jika ‘terpaksa’ harus membuat reportase pun, aku akan membuatnya secara unik, yaitu dengan digambar kartun. Aku sempat beberapa kali ditugaskan ke luar negeri dengan laporan kartun itu. Dan itu konon membuat teman-teman artistik di bagian lain bergunjing, karena aku (mungkin) satu-satunya orang yang ‘bukan reporter tapi bisa bertugas ke luar negeri”

Kembali ke anakku. Aku kerap mengingatkan untuk tidak berbuat kesalahan “kecil tapi memalukan” jika sedang membuat reportase.

Senjata utama wartawan adalah kata-kata. Seperti kuas dan cat bagi pelukis. Jika seorang pelukis tak menguasai cat dan kuas,…waaah.
Eh, anakku nyeletuk. “Tapi ada tuh pelukis hebat yang tak menguasai kuas”
“Hah, siapa?”
Afandi!”.

Afandi memang mencapai gelar maestro ketika dia ‘mencampakkan’ kuas, menggantinya dengan jari-jari, bahkan kemudian dia melukis, memencet cat langsung dari tube. Eeh, tapi karya-karya Afandi di awal-awal karirnya ketika dia ‘masih‘ menggunakan kuas tak kalah dahsyat lho.

Bosku dulu, kerap ‘mempermalukan’ anak buahnya jika salah berkata-kata. Bahkan dia tega menegur di sebuah acara resmi, meski dengan bergurau dan tak jarang membuat merah wajah anak buahnya.

“Biasanya orang akan berubah, jika kesalahannya dikoreksi di tempat atau momen yang paling diingatnya”, begitu alasan sang bos.

Kesalahan yang kerap dilakukan-dan sedihnya orang yang melakukan tak menyadarinya-adalah: kekeliruan menyebut antara ‘kami‘ dan ‘kita‘ dan ‘rubah‘.

Kesalahan penyebutan kami, kita dan rubah hampir setiap saat kita dengar di sekitar, di pergaulan sehari-hari bahkan di acara-acara resmi di televisi.

Sekadar mengingatkan. Kesalahan penyebutan antara kita dan kami, akan menjadi lucu dan bukan tak mungkin menjadi fitnah.

Misalnya begini. Suami istri dengan panik membawa anak balita mereka yang badannya panas ke dokter, dokter lelaki.

Ayah sang anak berkata: “Dok, anak kita sakit, badannya panas!”.

Hlaah, bukankah itu fitnah? Bukankah sang ayah sedang menuduh bahwa dokter punya ‘andil membuat’ anak itu?. Seharusnya sang ayah berkata: “Dok, anak kami sakit”.

Acuh, sering digunakan secara salah. Acuh artinya: peduli atau memperhatikan. Tapi sering diartikan sebagai kebalikannya.

Misalnya: “Dia berada di dekatku, tapi aku cuwek saja (seharusnya: tak acuh, tak peduli, tapi yang digunakan adalah cuwek, dari kata: acuh)”

Maksud kalimat itu sebetulnya adalah: ‘tak mempedulikan’ tapi yg diucapkan adalah: ‘mempedulikan’

Yang kerap kita dengar juga, kata: rubah. Misalnya seseorang berkata kepada temannya: “Hidupmu harus berubah”.

Ini betul. Berubah, kata dasarnya adalah ubah. Tapi kerap juga kita dengar seorang berkata kepada temannya: “Kau harus merubah hidupmu!”.

Itu salah, karena tak ada awalan ‘mer’ dalam bahasa Indonesia. Seharusnya: mengubah.

-Kecuali jika sang teman berharap temannya menjadi rubah, hewan yang masih berkerabat dengan srigala. Rubah bertubuh lebih kecil, nampak gesit, cerdik, lincah ketika menghadapi musuh dan ketika harus survive di kehidupan di belantara hutan.

Eh, ketika aku sedang blanyongan menulis ini, sayup-sayup kudengar istriku sedang mendengarkan lagu dari salah-satu idolanya, Once yang bejudul: “Aku Mau”.

Lagunya asyik. Ada potongan syairnya begini:

…kau boleh acuhkan diriku/ dan anggap ku tak ada/ tapi tak ‘kan merubah/ perasaanku kepadamu…

Aries Tanjung

Ikuti : Kalijodo