Satu Negeri Membenci Satu Keluarga

Satu Negeri Membenci Satu Keluarga

Masyarakat medsos telah begitu bebasnya mencacimaki presiden aktif tanpa perlindungan hukum

Mungkin hanya ada di sini. Seluruh negeri membenci satu keluarga. Tak peduli keluarga itu adalah keluarga presiden yang masih menjabat yang layak dihormati, sebagai simbol negara. Kebencian telah menutup kesadaran apapun. Saking tertutupnya mata dan telinga, berbagai hinaan, cacian, ledekan, bahkan hasutan dan fitnah senantiasa tertuju pada satu keluarga ini: keluarga Joko widodo. 

Hujan Fitnah Menjelang Pemilu

Ini bukan pertamakali keluarga ini dihabisi oleh masyarakat melalui hinaan, cacian dan fitnah menjelang Pemilu. Pemilu sebelumnya, 2014, saat Joko Wdodo dicalonkan sebagai capres, hinaan, cacian, fitnah berhamburan menimpa keluarga ini. Mereka bisa survive. 

Banyak masyarakat gampang terprovokasi oleh sebuah berita hoax dan buatan yang disengaja untuk menjatuhkan Jokowi dan keluarga. Bahkan orang-orang terdidik, terpelajar, bahkan wartawan yang peka membau sebuah beritapun dengan mudah ikut terlibat dalam penghacuran karakter seorang presiden kali ini, kecuali warga masyarakata waras. 

Masyarakat waras merupakan golongan masyarakat yang menyadari salah atau benar adalah hasil produk hukum.  Menghina presiden di negara hukum memiliki konsekuensi hukuman. Jika seseorang dituduh bersalah selayaknya dibawa ke ranah hukum, maka pengadilan yang akan memutuskan. Bukan membebani dengan penderitaan melalui berbagai hinaan, fitnah, cacian dan kebohongan. 

Ini contoh melakukan penegakan hukum. 

Lolosnya Gibran menjadi cawapres Prabowo berkat rekayasa paman Gibran, menjadi kecurigaan masyarakat Indonesia. Mereka menganggap ini rekayasa. Kecurigaan masyarakat dibuktikan dengan dicopotnya Ketua MK, Anwar Usman yang merupakan paman Gibran melalui kode etik yang mestinya tidak boleh dilakukan saat berperkara yang melibatkan keluarga. 

Dibuktikan Di Depan Hukum

Kecurigaan masyarakat terbukti benar. Anwar Usman dianggap bersalah. Namun masyarakat tidak bisa membuktikan bahwsa rekayasa ini dilakukan oleh Jokowi. Sampai di sini, harusnya masyarakat berhenti melakukan hinaan, fitnah maupun kabar bohong untuk menyerang keluaraga Jokowi. 

Namun yang terjadi saat ini, semua keluarga Jokowi dibantai dengan hal-hal yang tak boleh dilakukan secara hukum, yakni menghina Kepala Negara. 

Sayangnya, kepolisian juga aparat hukum lain tak membaca ini. Mereka membiarkan hinaan, caacian, fitnah menyerang bertubi-tubi, hari demi hari ke arah presiden aktif. Presiden tak terlindungi. Hukum tidak jalan sebab semua orang, di masa pemilu ini menggantungkan hidupnya kepada siapa calon pemimpin kelak yang bisa memberi kehidupan kepada mereka; baik secara ekonomi, keamanan dan keselamatan negeri ini. Jokowi tak lagi bisa diharapkan karena habis masa kekuasaannya. 

Jika konsep Vasudhaiva Kutumbakam merupakan dogma bahwsa seluruh keluarga dunia adalah satu keluarga, maka keluarga Indonesia telah menjadi keluarga yang retak. Rapuh oleh kebencian yang begitu luar biasa hanya kepada satu keluarga. Saat ini, seluruh negeri ini – kecuali masyarakat yang masih waras- dibebaskan mencacimaki satu keluarga, yang tampaknya memilih diam tanpa perlawanan. 

Orde Baru

Para pembenci presiden dan pemimpin orde baru Soeharto, kini punya alsan untuk mengalihkan kebenciannya kepada Jokowi. Jokowi dianggap lebih buruk dibanding Soeharto. Orde terburuk di masa pemerintahan Indonesia, Orde Baru, kini sedang dialohkan di pundak sseoerang Jokowi.

Orang-orang yang tadinya mendukung Jokowi, kini berbalik menghancurkan Jokowi. Termasuk Ganjar Pranowo yang diorbitkan Jokowi menjdi capres pilihan PDI. Di seiap kesempatan, Ganjar selalu menyindir keluarga Jokowi. Bisa jadi ini balas budi Ganjar kepada PDI-P. Bahkan Ketua PDI-P yang merasa ditinggalkan Jokowi ikut menekan kebencian kepada Jokowi. 

Beberapa influencer medsos dan inffluencer politk, kini sangat berapi-api ketika memuntahkan cacian dan tuduhannya kepada keluarga Jokowi. Apalagi disorak-sorai pada followernya yang membakar semangat para pencaci. Sepertinya, mereka menyempatkan diri tidak tidur untuk berbuat bebas mencaci Jokowi dengan gembira. 

Orang Oragn Waras

Beberapa orang yang waras, memilih tidak menghina, menghujat atau menuduh kepada keluarga yang – seperti biasanya – memilih diam pasrah ini. Orang-oprang waras ini lebih memilih menyerahkan kepada senjata keadilan bernama hukum. 

Bahkan jika kemungkinan Jokowi bersalahpun, orang-orang waras tidak pernah bersedia menghina, menghujat atau meluluhlantakkan kebahagiaan keluarga ini. Sudah ada produk hukum yang memebrinya sanksi. Mereka mungkin akan mengenang jasa dan kebaikan seorang Jokowi. Tidak fokus pada kekurangan Jokowi. Sebab kekurangan Jokowi- jika nanti terbukti benar bersalah- merupakan kesalahan yang tak perlu ditiru. 

Avatar photo

About Mas Soegeng

Wartawan, Penulis, Petani, Kurator Bisnis. Karya : Cinta Putih, Si Doel Anak Sekolahan, Kereta Api Melayani Pelanggan, Piala Mitra. Seorang Crypto Enthusiast yang banyak menulis, mengamati cryptocurrency, NFT dan Metaverse, selain seorang Trader.