Sayang Anak

Seide.id – Saya tidak terlalu tertarik dengan urusan khianat berkhianat. Dalam dunia politik itu biasa aja. Sudah bagian dari jalan hidup mereka.

Khianat urusannya tidak jauh-jauh dari dunia penjahat. Dunia kriminal. Dalam film-film sudah banyak digambarkan bagaimana para penjahat yang semula bersahabat akhirnya saling berkhianat. Saling menghabisi. Dan penonton biasanya senang. Senang kalau para penjahat saling bunuh dan akhirnya mati semua.

Buat saya yang menarik dari ribut-ribut Ahaye dengan Aerbe, bagaimana reaksi bapaknya Ahaye yaitu Esbeye. Reaksi seorang bapak yang selalu ada untuk anaknya dalam keadaan senang apalagi susah.

Bayangkan, anak sudah sebesar itu. Sudah beristri dan juga sudah punya anak pula, ketika mengalami kesulitan, bapaknya yang tidak tegaan selalu siap menjadi garda terdepan. Siap sebagai pemecah masalah. Entah sebagai juru bicara atau sebagai penyambung lidah anaknya yang tiba-tiba kelu, tidak bisa ngomong apa-apa dan terbaring lemah tak berdaya.

Sebagai orang Minang, saya belum pernah melihat sikap bapak yang sayang anak luar biasanya kayak gitu. Termasuk yang dilakukan bapak saya.

Orang Minang jadul memiliki prinsip yang dulu buat saya aneh. Prinsip itu termaktub dalam falsafah tak tertulis yang berbunyi (terjemahannya) ‘Sayang anak dilecut atau dicambuk, sayang kampung ditinggalkan’.

Sayang anak dilecut atau dicambuk, bermakna anak tidak boleh dimanja. Karena suka atau tidak suka kelak si anak harus bisa berdiri di atas kakinya sendiri. Istilah presiden pertama RI, Bung Karno, berdikari. Anak tidak boleh melulu berada di bawah ketiak dan bayang-bayang orang tua. Apa apa diurusin dan dibelain. Seakan-akan bapaknya lupa kalau si anak juga punya otak.

Sebagian besar orang tua Minang jadul angkatan babe saya memang harus rela dan tega melepaskan anaknya menuntut ilmu kemana pun mereka mau. Sekolah jauh dari orang tua dengan biaya hidup secukupnya, sekali pun orangtuanya berada.

Kemudian sayang kampung ditinggalkan, bermakna ketika si anak sudah dewasa, bagi laki-laki diajari untuk memahami dunia luar. Caranya disuruh pergi merantau dalam arti meninggalkan kampung halaman, yang juga bermakna meninggalkan pemikiran kekanak-kanakan menuju pemikiran kedewasaan.

Tapi itu dulu ya. Jaman orangtua masih susah. Setelah anak-anaknya berhasil dan sukses jadi orangtua kaya raya tajir melintir apakah akan melakukan hal yang sama ke anaknya lagi?

Buat saya yang tidak kaya-kaya amat masih melakukan hal yang sama. Malah anak saya sendiri yang kepingin pergi sejauh-jauhnya.

Apa anak tidak betah di rumah karena tidak suka dengan bapak gaya jaman sekarang yang sibuk ngomongi masa lalu? Enggaklah. Karena kalau dia butuh diskusi atau bertukar pikiran sama saya selalu dia ngajak vidcall, misalnya.

Saya tidak pernah mau ikut campur urusan anak. Tidak pernah menyuruh dia keluar dari ketentaraan, terus saya paksa nyalon jadi gubernur. Saya atur sedemikian rupa biar bisa jadi ketua partai. Dan saya usahain banget dia kelak bisa jadi presiden seperti saya. Atau minimal jadi wakil presiden.

Lho, maaf, itu bukan anak saya ya. Anak saya sih memilih jadi dokter. Dan itu murni pilihannya sendiri. Tidak ada campur tangan saya, bapaknya. Sori melenceng.

Lihat gambar Esbeye di rumah sakit sambil memegang kepala anaknya yang shock ditinggal pasangannya di saat sedang sayang-sayangnya, sebetulnya sayq terharu. Betapa sayangnya Esbeye pada anaknya.

Jujur, adegan seperti itu pernah juga dilakukan bapak saya ketika saya terbaring sakit, dengan bahu digips karena tulang bahu kiri sayapatah setelah jatuh dari ketinggian. Bukan karena saya stres tidak mendapatkan apa yang bapak saya inginkan.

Andai saya Ahaye dan bapak saya Esbeye, mengalami cobaan berat kayak gitu itu, paling yang saya ingat pepatah lain dari bapak saya yang terjemahan bebasnya “saat terkurung berusahalah keluar, saat terhimpit berusahalah ke atas.”

Pepatah tersebut mengajarkan kepada kita bahwa kegagalan apapun harusnya membuat kita semakin keras mencari pemecahannya. Dan meskipun terjepit, teruslah berjuang mencoba mencari celah agar bisa keluar dari masalah yang terjadi. Contoh konkrit, lihatlah Jokowi mengatasi berbagai masalah. Itu Minang banget.

Begitulah parenting orang Minang jadul menterjemahkan sayang kepada anaknya. Di setiap daerah sayq yakin pasti ada begitu banyak parenting (pola asuh) lokal bagaimana mendidik anak jadi mandiri dan hebat.

Ayo bangkit Ahaye. Jangan cengeng. Jangan manja. Jangan mengandalkan bapakmu melulu. Jangan malu walau harus dimulai jadi ketua RT seperti saya dulu. Pokoknya buat hidupmu jadi manis walau tanpa Anies. Tapi jangan kebanyakan, nanti diabet.

Ramadhan Syukur

Perantau Spesialis

Avatar photo

About Ramadhan Syukur

Mantan Pemimpin Redaksi Majalah HotGame, dan K-Pop Tac, Penulis Skenario, Pelukis dan menekuni tanaman