Selow Saja

Lihat para crazy rich punya bayi yang pipinya montok, lincah dan sehat, lalu masih bayi sudah naik pesawat ke luar negeri, rasanya gimanaaa gitu. Tidak iri sih, cuma jika membandingkan situasi saat saya masih bayi, rasanya dunia ini tak adil.

Dulu saat kanak-kanak boro-boro diajak jalan-jalan ke luar negeri, nemu nasi, sayur dan ikan saja sudah bersyukur. Ketika sakit flu dan malaria cukup dicekoki obat warung, beres. Perkara nyawa tinggal di ujung tanduk, orangtua cuma bisa pasrah dan berdoa.

Lalu saat kaki korengan atau bekas luka digigit anjing, diolesi salep dari bidan beres. Sekolah dengan sepatu sobek fine-fine saja. Bila minta dibelikan sepatu baru, ayah saya GP bilang, “dulu Bapak pakai kaki tanpa sepatu naik turun gunung ke sekolah.”

Balita montok, berkulit mulus, tidur dengan temperatur yang sudah diatur, ada babysitter, ahli gizi, layanan dokter 24 jam penuh, barangkali besarnya akan menjadi manusia yang melihat strata kehidupan marginal itu sebagai onggokan masalah yang patut ditiadakan. Mereka manusia yang memperoleh kutuk karena kemiskinan yang menimpa. Mereka akan merasa jijik bila berdekatan dengan sosok yang dekil dan berbau keringat.

Atau jika orangtuanya mengajarkan tentang kehidupan humanis dengan asumsi bahwa di dunia ini hidup serta rejeki manusia itu tidak selalu sama, maka dia akan menjadi sosok yang bijak, dermawan dan ‘humble’.

Namun ada juga manusia yang hidup penuh duka lara serta miskin, kala sukses dan kaya raya, menutupi masa lalu dengan tak mau kisah saat susahnya diangkat ke permukaan media sosial. Dia akan merasa nyaman bila foto-fotonya saat keliling dunia diupload. Masa miskin, kubur hidup-hidup dan tak perlu dikorek-korek lagi. Itu sah-sah saja. Sebab tak jarang ada orang yang usil dan kurang kerjaan mengilasbalik kisah mereka lalu memberikan opini yang subyektif.

Ketimpangan hidup di dunia ini memang harus ada, jika manusia kaya semua barangkali tak ada perang, baik perang agama, perang hujatan, atau perang alutsista. Andai semua manusia miskin, makan susah dan perut selalu lapar, itu juga mengerikan, bisa-bisa manusia makan manusia.

Jalan tengahnya mungkin antara miskin dan kaya harus seimbang, biarkan si miskin melihat para horang kaya itu menghambur-hamburkan uangnya di luar negeri bersama bayi-bayi montok mereka, dan si miskin sudah merasa bahagia bisa makan nasi dengan tempe, garam dan cabe sambil berpikir, ah nanti kalau kita mati, tokh sama-sama jadi bangkai yang dimakan rayap. Dunia hanya tempat menginap beberapa saat.

Jadi absurditas kehidupan itu memang selalu ada. Jangan mengeluh, ‘selow’ saja…

(Fanny Jonathan Poyk)

Manners

Avatar photo

About Fanny J. Poyk

Nama Lengkap Fanny Jonathan Poyk. Lahir di Bima, lulusan IISP Jakarta jurusan Jurnalis, Jurnalis di Fanasi, Penulis cerita anak-anak, remaja dan dewasa sejak 1977. Cerpennya dimuat di berbagai media massa di ASEAN serta memberi pelatihan menulis