- Dewi Tari Kembali ke Kayangan
Banyak keajaiban setelah Raja Dasamuka atau Rahwana gugur dalam pertempuran ‘Brubuh Alengka.’ Patung batu Dewi Windradi diruwat oleh Raden Anila berubah wujud menjadi Dewi Windradi.
Raden Anoman terharu akan kejadian itu karena ia bisa berjumpa kembali dengan neneknya yang melahirkan Dewi Anjani ibunya, Raden Subali, dan Sugriwa.
Keajaiban juga terjadi di mana-mana. Tugu emas yang dulu elok bercahaya, kini berubah jadi batu biasa. Kasur babut tempat tidur Prabu Rahwana tingkat 9 yang dilapisi sutra beledu berubah menjadi tumpukan jerami padi yang kotor dan busuk. Batangan emas milik Dewi Tari juga berubah menjadi bongkahan batu bata.
“Ya ampun, keadilan telah terjadi! Sudah tidak ada lagi gunanya harta benda duniawi yang dikumpulkan oleh raja yang tamak dan angkaramurka! Malang benar nasibku wahai, Dasarmuka!!!” Dewi Tari menjerit sekuat-kuatnya dan seketika itu pula ia lenyap dari pandangan Prabu Ramawijaya dan Gunawan Wibisana. Dewi tari telah kembali ke Kayangan jadi seorang bidadari seperti asal-usulnya.
- Dewi Sinta Boyong
Dalam perang besar antara Ayodya melawan Alengka banyak para prajurit dan rakyat yang menjadi korban. Perang yang dikenal dengan sebutan “Brubuh Alengka” itu telah selesai dengan ditandai oleh gugurnya Rahwana Raja Alengka yang kejam, lalim, tamak, dan angkara murka itu.
Setelah Gunawan Wibisana dinobatkan menjadi Raja Alengka menggantikan Prabu Rahwana yang masih kakaknya sendiri, tugas Prabu Ramayana “amunah satru sekti sing gung angkara murka” (menumpas lawan sakti yang serakah dan angkara murka) di bumi sudah selesai.
Ramawijaya segera menemui sang kekasih hatinya Dewi Sinta di Taman Argasoka yang saat terjadi perang besar “Brubuh Alengka” dijaga ketat oleh prajurit wanara.
Perjumpaan yang penuh haru di Taman Argasoka itu tidak berjalan lama karena Prabu Ramayana atau Ramawijaya segera memboyongnya, kembali ke Kerajaan Ayodya. Dalam perjalanan pulang ke Ayodya, Prabu Rama, Dewi Sinta dan para prajuritnya juga diikuti oleh Raden Gunawan Wibisana dan Raden Bisawarna, anaknya.
Prabu Ramawijaya beserta Dewi Sinta dan rombongan prajurit wanara disambut dengan ucapan syukur oleh seluruh rakyat di Kerajaan Ayodya. Mereka menggelar tari Tayungan sebagai tanda syukur atas kemenangan perang melawan Rahwana dan atas keselamatan Dewi Sinta.
Sekembalinya Raden Gunawan Wibisana ke Alengka dan Raden Bisawarna dari Kasatrian Maliawan, Kerajaan Ayodya terus menjalin hubungan persaudaraan yang erat dengan mereka. Ayodya mencapai zaman keemasannya pada pemerintahan Prabu Ramayana atau Ramawijaya.
(Tancep Kayon)
©️ Y.P.B, Wiratmoko (2022) Hak Cipta ©️ | Y.P.B, Wiratmoko | Tahun posting dalam FB, Instagram dan Seide.id 2022






