Sesajen di Rumah Kami

Oleh DIMAS SUPRIYANTO

SEJAK kecil saya akrab dengan sesajen. Di rumah kami, ibu dan nenek saya di kampung halaman, di tahun 1970an, biasa membuat sesajen dan menempatkannya di pojok rumah dan di dapur. Saat ziarah ke kuburan di hari hari tertentu juga membawa kembang dan membakar menyan untuk sesajen. Dipandu tetua di kampung kami. Misalnya menjelang bulan puasa dan saat bersih desa, atau sedekah bumi. Bau asapnya khas dan mistis.

Dalam acara bersih desa, sedekah bumi, dan di lokasi hajatan, panggung pertunjukkan ketoprak dan wayang, saya biasa melihat sesajen juga, yang lengkap.

Penampilan sesajen pun sangat khas dengan kembang warna warni, dalam wadah dari daun pisang (takir), disertai kopi, rujak, rokok, dan diwarnai asap dari menyan yang dinyalakan bara api. Di lokasi hajatan ada pisang, telur dan bermacam kueh.

Tak ada penjelasan Ibu dan Nenek untuk kami saat itu. Saya masih kanak kanak dan juga tak menanyakan. Yang bisa saya kenangkan wajah Ibu begitu damai setelah menyajikan sajen. Tugas sudah ditunaikan.

Seperti anak anak lain dan masyarakat awam, saya tidak mengetahui makna serta nilai yang terkandung dalam budaya sesajen.

Setelah dewasa saya mencari definisi sesajen.

Sesajen merupakan sarana komunikasi masyarakat kepada kekuatan tertinggi yang telah memberi kehidupan dan yang menjadi pusat harapan atas berbagai keinginan positif kepada kekuatan-kekuatan gaib yang menurut pemahaman kami telah melindungi selama ini.

Dalam acara tradisi sesaji, sajian, semah atau semahan adalah mempersembahkan bunga bunga dan makanan dan benda lain serta dan dupa yang dilakukan dengan tujuan berkomunikasi atau berinteraksi dengan makhluk gaib. Para leluhur.

Disebut juga, di Tanah Jawa, di tengah masyarakat abangan dan kejawen, sesajen menjadi salah satu contoh akulturasi budaya Hindu-Islam. Kebudayaan ini menjadi identitas masyarakat lokal. Di wilayah Nusantara lain demikian pula – dengan ciri dan gaya maisng masing.

Budayaan sesajen menjadi sebuah identitas serta kearifan lokal masyarakat yang dilakukan oleh semua pihak yang terlibat baik kalangan masyarakat, keluarga tokoh adat.

Islam yang dibawa Wali Songo tak sepenuhnya menghapus budaya warisan Hindu ini – hanya memberi definisi baru.

Dalam konteks Islam modern yang rigid, kaku, fanatik, sesajen dianggap bertentangan dengan al Qur’an dan Hadist. Seiring dengan gencarnya dakwah dan modernitas yang masuk ke desa, budaya sesajen pun tergerus.

Sebenarnya tanpa dakwah agama, sikap memusuhi, sikap antipati, di tengah masyarakat yang makin materialistis dan mengutamakan argumen logis – budaya sesajen mulai luntur – khususnya di kampung kami – seiring berkembangnya zaman, serta tidak diminati oleh kalangan muda.

Saya Islam abangan, sekuler moderat yang tidak anti sesajen. Bahkan respek kepada masyarakat yang masih menyediakannya. Memuliakannya. Mereka adalah masyarakat dan manusia yang tahu keterbatasannya dan menyadari kita tak sendiri di alam raya ini.

Saya tidak percaya dan menolak kebenaran pernyataan “Allah murka dengan acara sesajen”.

Allah Yang Maha Kuasa tidak sesentimentil itu – nggak segitu bapernya – menghadapi sesajen.

Sebaliknya, penolakan sesajen itu merupakan cara merendahkan Allah yang Maha Besar dan Maha Kasih. Sama sesajen takut, sama topi Santa takut, dengar lagu rohani takut, tiup terompet takut.

Hidup beragama dengan ketakutan, sok benar sendiri, merasa paling suci dan menguasai surga dan neraka. Lalu memaksakan kebenaran agamanya sendiri. Menyakiti penganut agama lain.
Sungguh menjijikan. ***

Avatar photo

About Supriyanto Martosuwito

Menjadi jurnalis di media perkotaan, sejak 1984, reporter hingga 1992, Redpel majalah/tabloid Film hingga 2002, Pemred majalah wanita Prodo, Pemred portal IndonesiaSelebriti.com. Sejak 2004, kembali ke Pos Kota grup, hingga 2020. Kini mengelola Seide.id.