Siap Gelar KTT ASEAN, Labuan Bajo Kian Mendunia

Labuan Bajo - Bandara Komodo

Bicara ihwal komodo dan efek keilmuan serta budaya yang dihasilkannya, ini tak lepas dari Labuan Bajo, lokasi terdekat dan paling efektif bagi siapapun yang mati-matian menabung buat bisa datang ke TN Komodo, sekalian seminar ataupun ber-KTT.

Oleh HERYUS SAPUTRO SAMHUDI

Seide.id – Di hari Lebaran, 1 Syawal 1444 H yang jatuh pada Sabtu tanggal 22 April 2023 lalu, Presiden Joko Widodo atau Jokowi, terbang dengan pesawat kepresidenan dari Bandara Kota Solo Jawa Tengah menuju Bandara Komodo di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur. Ditemani sejumlah anggota keluarga, Presiden Jokowi tinggal 2 malam di kota pelabuhan di semenanjung barat-laut Pulau Flores itu, khususnya untuk meninjau kesiapan KTT ASEAN atau ASEAN Summit yang akan berlangsung di Labuan Bajo pada 9-11 Mei 2023.

Ada 8 (pertemuan) pertemuan resmi yang akan dihadiri oleh para pemimpin negara ASEAN pada KTT tersebut, dan 6 (enam) pertemuan di antaranya akan dihadiri Presidan Jokowi

Seorang teman di ASEAN Secretariat, Jalan Sisingamangaraja 70A Kebayoran Baru Jakarta Selatan menyebut, bahwa Labuan Bajo sudah sejak lama diimpikan negara-negara para anggota ASEAN.untuk (suatu kali) dijadikan sebagai lokasi meeting atau pertemuan.

Kebtulan tahun ini Indonesia menjadi host (tuan rumah) untuk menyelenggarakan KTT ASEAN. Maka bukan suatu kebetulan bila pihak Deplu RI memilih Labuan Bajo sebagai lokasi KTT ASEAN 2023.

Bukan tanpa alasan bila Kemenlu atas nama Pemerintah Indonesia menetapkan Labuan Bqjo sebagai lokasi KTT ASEAN 2023. Karena kota pelabuhan itu memang sedang jadi ‘cita-cita’ para travelers dunia untuk bisa mengunjunginya. Dalam obrolan ringan saat-saat ada program kerja berkait ASEAN misalnya, “Ada saja delegasi meeting yang nyeletuk, kapan nih kita rapat kerja di Labuan Bajo?” ucap temqn di atas, yang merupakan pekerja aktif di lingkungan Sekretariat ASEAN di Jakarta.

Labuan Bajo (juga biada ditulis setara sebagai Labuanbajo) berasal dari kata ‘labuan’ yang berarti ‘pelabuhan’ atau ‘tempat berlabuh’, dan ‘Bajo’ – suku gipsy laut Indonesia yang konon berasal dari Torosiaje serta perairan Teluk Tomini di utara-tengah Pulau Sulawesi. Sebagai gipsy (pengembara) laut, Suku Bajo mengembara dan membangun pemukiman di atas laut, atau pada labuan dimana mereka mereka mendarat dan ditengarai sebagai daerah pusat ikan. Ada banyak pemukiman suku Bajo di.luar Sulawesi. Tak cuma di perairan Indonesia, bahkan hingga wilayah Malaysia, Filipina dan perairan selatan Thailand.

Lintasan sejarah pada buku Archipelago’s of Indonesia menggarisbawahi bahwa Labuan Bajo merupakan satu dari sekian lokasi pantai yang lantas dikenal luas gegara menjadi lokasi/kampung tinggal suku Bajo di abad-abad lalu. Bahkan orang Bajo juga mendarat di Pulau Komodo (sekitar 1 jam berlayar dari Labuan Bajo), membangun kampung yang kini resmi menjadi Desa Komodo, hidup bareng kawanan komodo (Varanus komodoensis) yang lidah lokal menyebut kadal raksasa pemakan daging itu sebagai ‘ora’ atau ‘orah’, dan menghasilkan legenda atau dongeng rakyat Putri Naga Komodo.

Betapapun eksis sejak berabad silam dan hidup dalam legenda rakyat, masyarakat dunia baru ‘ngeh kehadiran satwa komodo di tahun 1910 saat seorang kapten berkebangsaan Belanda kehabisan air minum dan meminta awak mendaratkan kapal ‘jelajah’nya di Pulau Komodo di Kepulauan yan berserakan di Selat Sape, antara Pulau Sumbawa dan Pulau Flores. Di pulau itu para awak kapal melihat kadal atau biawak (Varanus) raksasa yang karenanya lantas disebut Varanus Komodoensis.

Berdadarkan kiriman foto dan kulit awetan yang diterima, Antonie Ouwens, Direktur Museum Zoologie di Buitenzorg (kini Bogor), tahun 1912 menulis berkala ilmiah ihwal keberadaan kadal.purba atau biyawak komodo, tak cuma di Pulau Komodo, tapi juga di Pulau Rinca, Gili (Pulau) Motang, Gili Dasani fan bahkan di beberapa lokasi di pesisir barat Pulau Flores yang berseberangan langsung dengan (kini) Taman Nasional Komodo, yang telah tercatat sebagai situs warisan dunia dan merupakan bagian dari New Seven Wondertul Land of The World.

Masih ingat film King Kong produksi Hollywood/USA tahun 1933. Percaya nggak.percaya film yang disutradarai oleh Menan C Cooper (sekaligus penilis cerita) dan Ermest B Schoedsack ini terinspirasi ditemukannya satwa komodo yang jadi.pembicaraan ilmuwan dunia. Sukses film King Kong (yang di-remake berulang-ulang dan selalu laris manis ditonton orang) lantas diikuti hadirnya film kisah-kisah hewan purba atau satwa re-generatif yang lantas tumbuh jadi raksasa menakutkan lainnya. Satu di antaranya adalah seri film Godzilla.

Bicara ihwal komodo dan efek keilmuan serta budaya yang dihasilkannya, ini tak lepas dari Labuan Bajo, lokasi terdekat dan paling efektif bagi siapapun yang mati-matian menabung buat bisa datang ke TN Komodo, sekalian seminar ataupun ber-KTT.

Yuuuk, ke Labuan Bajo, pintu gerbang ‘negeri Komodo’. Kumpulkan uang RP 3,7jt untuk beli tiket masuk TN Komodo, atau gunakan Kartu Mahasiswa/ Kartu Pelajar bagi yang ingin mendapat dispensasi khusus. Di Labuan Bajo sendiri banyak lokasi wisata, rona kehidupan masyarakat dan peristowa budaya yang bisa dilijat lho…! Antara lain atraksi Tari Caci, main pwcut-pwcutan sampai berdarah-darah, yang biasa digelar di hotel-hotel di Labuan Bajo. Yuuuk…!

30/04_2023 PK 09:53 WIB.

Avatar photo

About Heryus Saputro

Penjelajah Indonesia, jurnalis anggota PWI Jakarta, penyair dan penulis buku dan masalah-masalah sosial budaya, pariwisata dan lingkungan hidup Wartawan Femina 1985 - 2010. Menerima 16 peeghargaan menulis, termasuk 4 hadiah jurnalistik PWI Jaya - ADINEGORO. Sudah menilis sendiri 9 buah buku.