Di atas pesan teks itu masih terlihat jam menit dan detik pesan itu diterima atau dibuka dan di-capture, berikut foto status Tiara di telepon genggamnya. Tapi, sekali lagi, Hasief tidak bisa menemukan siapa jatidiri pengirim pesan gambar itu.
Hasief pun mengamati penanda waktu di pesan itu. Ia memutar ulang rekaman ledakan di lantai lima. Lalu ia membandingkan kedua data digital itu. Hanya selang lima menit antara Tiara membuka pesan itu dengan ledakan bom. Jadi, kalau betul Tiara terjebak di lift, bom itu meledak saat ia berada di dalam lift, sesudah pemilik kamera keluar dari lift menuju mobil pengantar pizza. Tapi, Hasief belum bisa menebak mengapa Tiara bisa berada di luar, dan meninggalkan ruangan yang meledak. Hasief pun terngiang kembali jawaban Tiara:
“Tadi saya turun karena ada panggilan dari bawah…”
Jadi, ada seseorang yang memanggil Tiara ke bawah. Suatu kebetulan yang menyelamatkan nyawanya. Satu hal yang Hasief selalu percaya, tidak ada yang namanya kebetulan.
Terdengar lagi notifikasi pesan. Hasief membuka pesan itu. Ternyata sebuah rekaman suara. Pengirimnya juga tetap anonim. Hasief mendengarkan.
“Siap. Sebentar, Dan. Kebetulan saya mau turun. Mohon tunggu…!”
Itu suara Tiara. Jadi, betul ada yang memanggilnya. “Dan…” Mungkin itu nama seseorang. Bisa Dani, Danu, atau Dana. Atau itu panggilan singkat untuk Komandan?
Hasief tiba-tiba menyadari sesuatu. Si pengirim pesan itu tahu betul apa yang tengah dipikirkannya. Sejak ia membuka pesan di USB Drive tadi, pengirim pesan itu sepertinya berupaya membantu atau memantau apa yang ingin diketahuinya. Seperti ada yang sedang mengajaknya berkolaborasi. Hasief mulai merasakan adrenalinenya mengalir kencang. Entah karena takut, atau semangat.
Hasief berdiri di depan dinding dengan latar belakang dan logo “MediaDarling Channel – VLOG Milik Kita Semua.” Ia menyalakan kamera yang diletakkan di atas tripod kecil dengan remote control dan menghubungkannya dengan media sosial secara live:
“My Darling…! Saya Hasief dari “MediaDarling Channel – VLOG Milik Kita Semua.” Beberapa saat lalu saya berada di lokasi peristiwa ledakan di Gedung Annex Kepolisian Daerah. Tadi saya sudah menayangkan laporan langsung untuk Anda. Saya baru saja memperoleh informasi menarik. Ketika ledakan terjadi, tercatat ada 11 anggota DACC-Sus di sebuah ruangan di lantai lima. Mereka adalah Kompol Arka, Iptu Rino, Ipda Nanang, Aiptu Rio, Aipda Jonggi, Bripka Harry, Briptu Moko, Briptu Riki, Bripda Ruslan, Bripda Teddy, dan Bripda Ferdi…
“Sampai saya melaporkan ini, belum diketahui nasib atau keberadaan mereka. Apakah mereka masih hidup, luka, atau tewas. Yang pasti, ada petugas jaga yang tewas karena tembakan. Namanya Koptu Tulus. Hanya ada satu orang yang lolos dari ledakan. Dia adalah Iptu Tiara. Saat kejadian, ia tengah berada di dalam lift. Ia terjebak di situ akibat ledakan dan listrik tiba-tiba mati…
“Belum diketahui, apakah ledakan itu ada hubungannya dengan jaringan teroris ‘Amin Cyber Army’ alias ACA. Yang pasti, jaringan teroris ACA baru saja dibongkar keberadaannya, dan kemudian dilumpuhkan satu per satu oleh tim DACC-Sus. Tim itulah yang saat kejadian tengah rapat bersama di sebuah ruangan di lantai yang meledak itu. Sekian laporan dari saya. Saya Hasief. Sampai jumpa…!”
Hasief mematikan tayangan vlognya. Ia membuka saluran televisi yang ada. Ia duduk memantau semua tayangan stasiun televisi yang tampil di beberapa layar monitor di hadapannya.
Semua tayangan televisi tampak heboh. Satu demi satu mereka menayangkan laporan vlog dari Hasief. Para peliput menyerbu para pejabat kepolisian. Mereka menanyakan akurasi laporan vlog “MediaDarling” dan meminta konfirmasi ihwal para korban. Juga tentang Koptu Tulus.
Kepala Divisi Penerangan Kepolisian Daerah dan Kepolisian Nasional tampak berusaha membantah apa yang sudah diberitakan “MediaDarling”.
“Saya tidak tahu itu informasi dari mana. Sampai saat ini pihak kepolisian tengah menyelidiki apa yang terjadi dan apakah ada korban dalam ledakan itu. Mohon para warga ibukota dan terutama para warga daring untuk tidak berspekulasi dan menyebarkan berita hoax. Kepada saudara Hasief dari “MediaDarling” pihak kepolisian mengimbau agar tidak menyebarkan kabar bohong dan berita palsu. Bila memiliki indikasi mohon dilaporkan kepada petugas terlebih dulu. Atau kami akan menempuh jalur hukum sesuai undang-undang tentang kepolisian dan undang-undang tentang informasi dan transaksi elektronik. Terima kasih,” kata Kepada Divisi Humas Kepolisian Daerah.
Telepon Hasief berbunyi. Ada notifikasi masuk. Hasief melihat identitas pengirim pesan itu. Aryo.






